TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di balik riuhnya lembaran bendera negara peserta Piala Dunia yang berkibar di sepanjang Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali, tersimpan kisah perjuangan seorang ayah yang luar biasa.
Yudi Kusdiana (52), seorang pedagang musiman asal Rancaekek, Bandung, rela menempuh jarak ratusan kilometer dan hidup di emperan jalan demi satu tujuan memastikan masa depan anak-anaknya tidak sekadar menjadi penonton di masa depan.
Dari peluh keringat menjajakan bendera di trotoar Kota Denpasar, Yudi membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mengantarkan buah hatinya ke gerbang perguruan tinggi ternama.
Baca juga: Serba Serbi Piala Dunia 2026, Kisah Pak Yudi Jualan Bendera Negara Peserta di Denpasar Bali
Anak keduanya kini tercatat sebagai mahasiswa jurusan Sastra Rusia di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.
"Anak yang kedua kuliah di Unpad ambil Sastra Rusia, untung dapat beasiswa jadi UKT-nya murah," ungkap Yudi saat dijumpai Tribun Bali di lapaknya di Denpasar, pada Selasa 16 Juni 2026.
Baca juga: Bupati Bangli Jagokan Inggris di Piala Dunia 2026, Simak Jadwal Lengkap The Three Lions di Grup L
"Makanya saya paksa-paksain kerja keras ke sini, sayang soalnya anaknya punya prestasi," tutur dia.
Bahkan tangan kiri Yudi sebenarnya tidak lagi sempurna. Ia berkisah bahwa dirinya merupakan korban kecelakaan lalu lintas parah beberapa tahun silam.
Akibat tabrakan tersebut, Yudi terpaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai buruh di pabrik tekstil PT Kahatex, Bandung.
Kehilangan pekerjaan utama tak membuatnya patah arang, ia memilih bangkit dan terjun menjadi pedagang bendera jalanan demi menyambung hidup keluarga.
"Dulu sebelum kejadian tabrakan, saya kerja di PT Kahatex bagian tekstil, habis kecelakaan itu, baru saya ikut teman terjun jualan bendera begini," terangnya.
Menjadi pedagang musiman di Bali diakuinya penuh dengan ketidakpastian. Yudi mengenang bagaimana edisi Piala Dunia 2022 lalu menjadi momen terberat akibat sisa-sisa pandemi Covid-19, di mana untuk makan sehari-hari saja ia harus telantar.
Namun, roda nasib berputar. Pada periode kali ini, gairah sepak bola kembali meledak dan membawa berkah melimpah bagi lapaknya.
Saban hari dari jam sembilan pagi hingga jam enam sore, Yudi mampu menjual hingga sepuluh lembar bendera favorit warga Denpasar, seperti Portugal, Brasil, dan Argentina negara yang juga ia idolakan sejak zaman Diego Maradona.
Keuntungan dari selisih harga setor ke bosnya itulah yang langsung ia kirimkan ke kampung halaman untuk biaya hidup sang anak.
"Tahun 2022 kemarin mah hancur banget, buat makan sehari-hari di sini juga susah, kalau sekarang alhamdulillah lumayan, bisa ngirimin uang buat keluarga," kenang Yudi.
Demi menghemat ongkos bus Bali-Bandung yang mencapai Rp500.000, Yudi memilih untuk tidak langsung pulang setelah demam Piala Dunia ini usai.
Ia berencana menetap di Denpasar sementara waktu hingga bulan Agustus mendatang untuk menyambung peruntungannya dengan menjual bendera merah putih.
"Saya enggak bakalan pulang sampai Agustus, tanggung ongkosnya lumayan mahal," pungkas Yudi. (*)