Serba Serbi Piala Dunia 2026, Kisah Pak Yudi Jualan Bendera Negara Peserta di Denpasar Bali
Putu Kartika Viktriani June 16, 2026 02:24 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Euforia Piala Dunia 2026 tak hanya terasa di layar televisi, arena nonton bareng, atau media sosial, tetapi juga menghidupkan denyut ekonomi kecil di sudut-sudut Kota Denpasar, Bali.

Di tengah riuh pesta sepak bola terbesar di dunia, seorang pedagang bendera musiman bernama Yudi Kusdiana (52) menggantungkan harapan pada lembaran kain berwarna negara-negara peserta.

Dari trotoar Jalan Teuku Umar hingga impian menyekolahkan anak, Piala Dunia bagi perantau asal Bandung ini bukan sekadar ajang olahraga empat tahunan, melainkan momentum mencari nafkah dan menjaga asa keluarga tetap menyala.

Meski hingga tengah hari benderanya baru laku 1 buah terjual, semangatnya tetap menyala demi menafkahi keluarga. 

 

Sudah belasan hari ia berdiri di trotoar itu, mengadu nasib menjajakan bendera negara-negara peserta Piala Dunia.

Bagi Yudi, riuh rendah pesta sepak bola terakbar di planet ini bukan sekadar urusan skor pertandingan atau tim mana yang akan mengangkat trofi. 

Baca juga: VIDEO Rumah di Perumahan Griya Mahadewa Buleleng Jebol Akibat Hujan Deras

Turnamen empat tahunan ini adalah napas buatan bagi dapurnya di kampung halaman, tempat di mana tiga anaknya menggantungkan harapan.

"Saya tinggal di Bandung, ke Bali ini cuman musiman," ujar Yudi saat ditemui Tribun Bali di lapak dagangannya. 

"Setiap empat tahun sekali kalau ada Piala Dunia, saya pasti dagang ke sini," imbuh ayah 3 anak ini.

Piala Dunia periode ini dirasa Yudi jauh lebih bersahabat dibandingkan edisi tahun 2022 lalu saat pandemi Covid-19 masih menyisakan imbas. 

Kala itu, jangankan membawa pulang lembaran rupiah, untuk sekadar mengisi perut di perantauan saja Yudi harus terseok-seok. 

Beruntung, tahun ini gairah sepak bola kembali meledak, membawa berkah yang jauh lebih baik bagi para pedagang musiman seperti dirinya.

"Tahun 2022 kemarin mah hancur banget, buat makan sehari-hari di sini juga susah. Kalau sekarang alhamdulillah lumayan, ada buat dikirim ke keluarga dan buat makan di sini," beber Yudi.

Yudi tidak datang sendiri.

Ia merantau bersama rombongan dari Bandung di bawah naungan seorang bos yang menyediakan modal bendera serta biaya kontrakan selama di Bali. 

Jika Yudi berjualan di Jalan Teuku Umar, beberapa rekannya di sudut jalan lain, salah satunya di kawasan Gatot Subroto yang sama-sama jalur yang ramai lalu lintas. 

Sistemnya bagi hasil, Yudi mengambil untung dari selisih harga setor bendera yang terjual.

Saban hari, ia membuka lapaknya dari jam sembilan pagi hingga jam enam sore. 

Bendera yang ia jual dibanderol degan harga bervariasi tergantung dari besar kecil ukuran mulai dari Rp 70 hingga 130 ribu. 

Di antara belasan negara yang benderanya ia pajang, ada tiga negara yang menjadi primadona dan paling diburu oleh warga Denpasar.

"Yang paling laris di sini itu Portugal, Brasil, sama Argentina. Tidak semua negara dicetak, hanya 12 negara peserta favorit saja dan tentunya tuan rumah," kata Yudi sembari menunjukkan bendera-bendera tersebut. 

"Sehari ya paling nyampai maksimal sepuluh benderalah yang terjual, baik yang besar maupun yang kecil," tutur dia.

Saat ditanya mengenai negara jagoannya sendiri, senyum Yudi langsung mengembang lebar. 

Pria paruh baya ini mengaku sebagai pendukung berat tim Tanggo, sebuah kecintaan yang sudah tertanam sejak era kedigdayaan legenda sepak bola dunia, Diego Maradona.

"Kalau saya mah jelas jagoin Argentina, saya udah tahu dan suka dari zaman Maradona dulu," ucapnya sembari tertawa lepas.

Menariknya, langkah kaki Yudi tertatih saat berjalan di sekitar lapaknya. Ia bercerita bahwa dirinya merupakan korban kecelakaan lalu lintas di masa lalu. 

Sebelum beralih profesi menjadi pedagang bendera musiman, ia adalah seorang pekerja buruh di salah satu pabrik tekstil ternama di Bandung, PT Kahatex. 

Cedera akibat tabrakan itulah yang akhirnya memaksa Yudi berhenti berstatus sebagai buruh pabrik dan memilih jalan sebagai pedagang jalanan demi menghidupi keluarganya.

"Dulu sebelum kejadian tabrakan, saya kerja di PT Kahatex bagian tekstil," tutur Yudi sembari menunjuk tangannya yang tak lagi sempurna.

"Habis kecelakaan itu baru ikut teman terjun jualan bendera begini," sambungnya.

Meski fisik tak lagi sempurna dan hidup harus berpindah dari trotoar ke trotoar, pengorbanan Yudi tidak sia-sia. 

Dari hasil peluh berjualan bendera, ia mampu menguliahkan anak keduanya di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.

Anaknya yang berprestasi berhasil menembus jurusan Sastra Rusia melalui jalur beasiswa. 

Fakta ini menjadi bahan bakar utama bagi Yudi untuk membuang jauh-jauh rasa lelahnya di jalanan Kota Denpasar.

"Anak yang kedua kuliah di Unpad ambil Sastra Rusia, untung dapat beasiswa jadi UKT-nya murah," ungkap Yudi.

"Makanya saya paksa-paksain kerja keras, sayang soalnya anaknya punya prestasi," sambungnya.

Perjalanan Yudi di Pulau Dewata masih panjang. Setelah euforia Piala Dunia ini berakhir, ia tidak akan langsung berkemas pulang ke Bandung. 

Ongkos bus Bali-Bandung yang mencapai Rp500.000 membuat Yudi memilih untuk bertahan dan menyambung peruntungannya hingga bulan Agustus mendatang demi menyambut momen hari kemerdekaan Indonesia.

"Saya enggak bakalan pulang sampai Agustus, tanggung ongkosnya lumayan mahal. Habis Piala Dunia selesai, langsung lanjut jualan bendera merah putih buat Agustusan di sini," pungkasnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.