Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax di Kabupaten Bogor begitu terasa
Hal itu terlihat dari perbedaan antrean kendaraan yang terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Dari pantauan TribunnewsBogor.com di sejumlah SPBU yang berada di kawasan Cibinong dan Bojonggede, antrean kendaraan cukup mengular.
Antrean terlihat lebih panjang berbaris menuju pompa pengisian BBM subsidi jenis Pertalite dibandingkan Pertamax.
Jika diamati, antrean kendaraan roda dua yang mengantre BBM Pertalite bisa mencapai puluhan.
Sementara itu, antrean kendaraan roda dua yang akan mengisi BBM Pertamax jauh lebih sepi dan hanya terhitung satu atau dua kendaraan saja.
Kondisi ini merupakan dampak naiknya harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liternya.
Pengendara khususnya kendaraan roda dua lebih memilih mengisi bahan bakar kendaraanya dengan Pertalite karena harganya yang jauh lebih terjangkau.
Salah satu pengendara motor, Arul mengaku lebih memilih mengantre lebih lama untuk mengisi Pertalite dibandingkan membeli Pertamax.
"(Pertamax) harganya udah tinggi banget, mending beli Pertalite biar kata ngantre lama juga tapi masih terjangkau gitu," ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Dalam mengisi BBM, ia mengaku memiliki strategi dalam menyiasati waktu agar tak terbuang banyak untuk membeli bensin.
Untuk satu kali pembelian, ia menaikkan nomimal pembelian agar BBM yang didapat lebih banyak.
Dengan begitu, maka stok BBMnya yang ada di dalam tangki kendaraan dapat mencukupi kebutuhan beberapa hari ke depan.
"Kalau saya mah sekarang jadi sekalian belinya misal Rp50 ribu gitu sekali beli, daripada isi sedikit terus abis ngisi lagi jadi buang waktu buat ngantre doang," katanya.