Laporan Wartawan TribunMadura.com, Hanggara Pratama
TRIBUNMADURA.COM, SAMPANG - Program Sekolah Rakyat di Kabupaten Sampang, Madura, diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, sebagai upaya memperluas akses pendidikan bagi kelompok rentan.
Pemerintah Kabupaten Sampang saat ini tengah melakukan penjangkauan intensif terhadap calon peserta didik yang masuk dalam kategori desil satu dan desil dua, yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sampang, Yuliadi Setiawan, mengatakan, sasaran utama program ini adalah memastikan anak-anak dari keluarga prasejahtera tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak.
"Penjangkauan calon siswa dilakukan kepada keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk kategori desil satu dan desil dua," ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, kuota penerimaan dari Kabupaten Sampang ditetapkan sebanyak 90 siswa untuk setiap jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
"Total terdapat 270 siswa yang menjadi target penerima manfaat program Sekolah Rakyat dari Kabupaten Sampang," terangnya.
Yuliadi menambahkan, tahapan yang berlangsung saat ini bukan proses pendaftaran ataupun seleksi, melainkan pendekatan langsung kepada keluarga sasaran.
Baca juga: Baru 24 Siswa Lengkapi Berkas, Kuota Sekolah Rakyat Terintegrasi di Sumenep Masih Jauh dari Target
Pendamping sosial bersama petugas terkait mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan pemahaman mengenai konsep Sekolah Rakyat, termasuk fasilitas pendidikan yang nantinya diterima para siswa.
"Melalui program ini, kami berharap anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas serta meningkatkan daya saing mereka di masa depan," pungkasnya.
Proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, berpotensi mengalami keterlambatan penyelesaian, Senin (1/6/2026).
Pasalnya, hingga awal Juni 2026, capaian fisik pembangunan masih berada di angka 73 persen, sementara masa kontrak proyek akan berakhir pada 20 Juni 2026 atau tersisa sekitar 19 hari.
Pantauan di lokasi proyek, sejumlah pekerjaan konstruksi masih berlangsung di berbagai titik.
Aktivitas pengecoran struktur bangunan masih dilakukan menggunakan alat, sedangkan pekerjaan plengsengan di bagian barat kawasan juga belum tuntas.
Baca juga: Kuota Sekolah Rakyat di Sumenep Dipangkas Jadi 60 Siswa, Pendaftar Baru 17 Orang
Manajer Proyek PT Waskita Karya (Persero) Tbk - CAG KSO, Dimas Reza, membenarkan progres pembangunan saat ini belum mencapai target penuh, meski proyek telah berjalan sejak November 2025.
"Sampai hari ini progresnya sudah 73 persen," ujarnya, Senin (1/6/2026).
Dengan sisa waktu yang semakin sempit, pihak kontraktor kini menerapkan pola kerja maraton untuk mengejar penyelesaian proyek.
Lebih dari seribu pekerja dikerahkan di lapangan dengan tambahan jam kerja hingga larut malam.
"Jumlah pekerja kita sebanyak 1.015 orang. Saat ini pekerjaan dilakukan lembur sampai pukul 00.00 WIB, bahkan pengecoran berlangsung hingga pukul 02.00 WIB dini hari," terangnya.
"Prinsipnya kami tetap berupaya agar seluruh pekerjaan bisa selesai tepat waktu," imbuhnya.