AR Fachruddin, tokoh Muhammadiyah yang bersahaja. Jadi ketua umum Muhammadiyah paling lama.
Penulis: Muhammad Yuanda Zara, dosen Ilmu Sejarah UNY | Tayang di Majalah Intisari edisi September 2022 dengan judul "AR Fachruddin: Berdakwah dengan Kesejukan, Memimpin dengan Visi"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Namanya masih tetap dikenang orang walaupun dia telah lama wafat. Kini namanya diabadikan sebagai nama masjid yang dibangun pada 1995 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Malang, Jawa Timur.
Presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie, meresmikan masjid ini pada 1998. Masjid lima lantai ini difungsikan sebagai tempat ibadah, ruang kuliah dan kantor, pusat dakwah Muhammadiyah serta menjadi tujuan wisata.
Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), namanya disematkan pada nama gedung pusat kampus ini. Gedung tertinggi di Purwokerto, Jawa Tengah, yang dimiliki oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) juga memakai nama tokoh ini.
Dialah Kiai Haji Abdul Rozaq Fachruddin (AR Fachruddin), yang merupakan ketua umum terlama Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Total jendral, dia memimpin Muhammadiyah selama 22 tahun, dari 1968 hingga 1990.
Orang-orang, juga koleganya, akrab memanggilnya dengan Pak AR.
Masih muda sudah dikirim ke Palembang
Lahir di Pakualaman, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916, Pak AR berasal dari keluarga ulama yang berafiliasi dengan otoritas tradisional di Yogyakarta, Puro Pakualaman. Di tempat inilah ayah Pak AR, KH Fachruddin, diangkat sebagai Lurah Naib atau Penghulu. Ibu Pak AR juga berasal dari lingkungan Pakualaman.
Menjadi putra dari seorang abdi Pakualaman, Pak AR sejak kecil akrab dengan sekolah. Dia mendapatkan pendidikan formal dari sejumlah sekolah Muhammadiyah yang ada di Yogyakarta saat itu.
Pak AR pernah sekolah di Standaard School (setara SD) Muhammadiyah Bausasran Yogyakarta (1923), Standaard School Muhammadiyah Prenggan, Kotagede, Yogyakarta (1925), Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta (1928), Madrasah Darul Ulum Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur, Kulonprogo, dan Madrasah Tablighschool (Madrasah Muballighin) Muhammadiyah – tidak semua sekolah-sekolah itu berhasil dia rampungkan.
Oleh Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah, Pak AR muda yang dianggap sudah mumpuni dikirim ke Sumatera Selatan pada 1935. Ketika itu usianya baru 20 tahun.
Tugasnya adalah menyebarkan gerakan Muhammadiyah di wilayah selatan Pulau Sumatera. Di antaranya adalah Talang Balai, Musi Ilir, dan Palembang.
Pada 1942, Indonesia dikuasai oleh tentara pendudukan Jepang. Kondisi itu, membuat Pak AR akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Kulonprogo pada 1944 lalu ke Kauman di Kota Yogyakarta.
Di ibukota Muhammadiyah inilah kiprahnya di organisasi Islam modernis itu menanjak. Dimulai dari sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Ketua Pimpinan Wilayah DI Yogyakarta, anggota Dzawil Qurba PP Muhammadiyah, hingga jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Kiprah Pak AR setidaknya dapat diteropong dari dua perspektif besar. Dari segi pendekatan dakwahnya dan dari segi tipe kepemimpinannya.
Pak AR dikenal sebagai pendakwah dengan caranya yang segar dan memimpin Muhammadiyah dengan visi yang tajam dan berorientasi ke depan. Karakteristik-karakteristik utama ini tercermin di dalam berbagai fase kehidupannya … termasuk terkait dengan hubungan yang turun naik antara Muhammadiyah dan Presiden Soeharto.
Dari segi dakwah, Pak AR kerap menyampaikan intisari ajaran Islam dengan cara yang persuasif, menggembirakan, dan membangun kedekatan emosional. Kekuatan-kekuatan ini membantu menciptakan ikatan antara dirinya dan pendengarnya serta membuat jamaahnya lebih mudah mengingat dan merenungkan apa yang dia sampaikan.
Untuk menjadi pendakwah yang istimewa, dia menganjurkan agar orang belajar dari sifat-sifat Nabi Muhammad saw. Di antaranya taat beribadah, lapang dada, dapat membimbing, jujur, berani tapi sopan, sabar, selalu menjadi teladan, sungguh-sungguh, dan berhati asih.
Ilmuwan Prancis yang ahli dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU), Andree Feillard, dalam sebuah tulisannya menyebut bahwa ada kemiripan antara Pak AR dan cendekiawan NU, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurutnya, kedua sosok ini sama-sama mampu membuat para pendengar mereka tertawa walaupun mereka tengah mengulas perkara yang serius.
Majalah Tempo, dalam sebuah wawancaranya dengan Pak AR pada 1985, dengan mengutip istilah orang Yogya menyebut bahwa ciri khas Pak AR adalah gaya Mataraman, yakni nggleges. Tempo menafsirkan nggleges sebagai “serius dan penuh kritikan, tapi membuat tertawa pendengarnya”.
Pak AR berdakwah dengan pendekatan kebudayaan. Sebagai contoh, meski Muhammadiyah tidak menganjurkan kegiatan yasinan, tapi saat mengajar di Palembangi saat mudanya, Pak AR pernah diminta mengisi yasinan.
Alih-alih memimpin yasinan seperti yang biasa dilakukan banyak kalangan, Pak AR menggunakan kesempatan tersebut untuk memberikan kajian tafsir Surat Yasin tersebut. Dengan demikian, orang tidak hanya bisa membaca Surat Yasin dalam bahasa Arab, tapi juga paham arti dan tafsirnya dalam bahasa Indonesia.

Sarat humor
Suara Pak AR sering mengudara di acara kajian subuh RRI Yogyakarta juga stasiun radio lainnya. Dia juga sering mengisi pengajian setiap malam Jumat di TVRI Yogyakarta.
Penontonnya banyak. Kabarnya, jumlah penontonnya sama banyaknya dengan jumlah penonton kesenian Jawa populer, ketoprak, di stasiun televisi yang sama.
Kaum muslim Tionghoa yang bergabung dalam organisasi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) menjadi salah satu kelompok pendengar ceramah Pak AR. Rohaniawan dan budayawan Katolik Dick Hartoko juga kerap menyimak gagasan Pak AR di rubrik tanya jawab agama yang diasuh Pak AR di harian Kedaulatan Rakyat; dia menilai Pak AR termasuk ulama yang cukup moderat dalam pemikirannya.
Di antara semua tokoh Muhammadiyah, barangkali Pak AR-lah yang paling sering diidentikkan dengan satu kata yang membuat dakwah Islam menjadi lebih segar: humor. Banyak yang mengenang perbincangan dengannya sebagai komunikasi yang penuh ger-geran.
Pak AR tampaknya paham benar fungsi sosial humor. Sebagaimana tampak dalam produktivitasnya menghasilkan lelucon, juga apresiasi tingginya pada kejenakaan.
Terkait ajaran agama, dia berprinsip bahwa ulama haruslah berpegang pada Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Sementara penyampaiannya bisa dilakukan dengan cara yang ringan dan jenaka.
Humor dalam ceramah, katanya dalam suatu kesempatan, perlu diusahakan. “Sekadar untuk selingan agar jangan mengantuk, dan jangan terlalu tegang,” ujarnya.
Suatu saat, Buya Ahmad Syafii Maarif muda pernah bertanya kepada Pak AR: “Pak AR banyak merokok bukan?”
“Tidak, hanya satu-satu,” jawab Pak AR, sebagaimana dikenang oleh Buya Syafii. Segar dan lucu!
Benar, Pak AR adalah perokok berat. Ada sumber yang menyebut bahwa rokok kegemarannya adalah Bentoel Biru, sementara sumber lain menyebut Dunhill.
Bagi Pak AR rokok adalah salah satu medium untuk membuat dirinya rileks. Lebih dari itu, benda itu dia gunakan untuk mendekatkan dirinya dengan orang lain, misalnya, wartawan yang sedang mewawancarainya.
Tapi, persoalan rokok Pak AR ini kerap melahirkan kekhawatiran tersendiri. Aktivis AM Fatwa, yang tidak merokok, pernah mengimbau agar dua tokoh terkemuka Muhammadiyah yaitu Buya Malik Ahmad dan Pak AR, untuk berhenti merokok.
“Hidup itu jangan dibuat susah, santai saja. Jadilah orang yang bersyukur,” begitu pesan Pak AR soal hidup.
Kedua, dari segi kepemimpinan. Kepemimpinan Pak AR dapat dikatakan bercorak visioner, karena berwawasan luas, terbuka, berkharisma, dan berpandangan maju.
Gaya kepemimpinan Pak AR, walau terkesan santai, juga menginspirasi dan memberi dampak yang positif bagi banyak orang. Dia sebenarnya lebih suka menjadi wakil atau pembantu dalam organisasi karena dia khawatir dengan beratnya tanggung jawab seorang pemimpin.
Buya Syafii Maarif pernah membandingkan gaya kepemimpinan tiga ketua umum PP Muhammadiyah yaitu dirinya sendiri, Amien Rais, dan Pak AR. Menurut Buya, gaya kepemimpinannya dan Amien Rais bercorak “cepat selamat”, sementara gaya Pak AR bercorak “sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk, alon-alon asal kelakon (pelan tapi dilaksanakan)”.
Walaupun punya gaya berbeda, Buya Syafii banyak belajar tentang seni memimpin dari mentornya itu.
Pak AR menghabiskan hampir sepanjang umurnya dalam naungan Muhammadiyah. Mulai dari bersekolah hingga berorganisasi.
Periode keterlibatan yang panjang ini memberinya kesempatan untuk menyelami seluk-beluk permasalahan dan tantangan yang dihadapi Muhammadiyah. Dari level yang paling rendah hingga yang paling atas.
Dalam memimpin Muhammadiyah, Pak AR menekankan bahwa Muhammadiyah adalah sebuah perkumpulan Islam yang anggotanya harus memiliki ketaatan kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw, keikhlasan hati, kesabaran, dan kesederhanaan.
Menurutnya, fondasi-fondasi inilah yang memungkinkan Muhammadiyah bisa bertahan sebagai organisasi Islam dan bisa membangun berbagai fasilitas sosial yang bermanfaat. Seperti lembaga pendidikan dan rumah sakit.
Pak AR pernah berharap supaya rumah sakit PKU Muhammadiyah dapat seluas dan sebanyak mungkin membantu usaha pemeliharaan kesehatan masyarakat.
Bertemu Daud Beureueh
Pak AR memiliki loyalitas tinggi pada Muhammadiyah. Sebagaimana dikemukakan dalam buku Biografi Pak AR (2017), awal 1970-an dia sempat ditawari menjadi anggota DPR RI.
Walaupun mengapresiasi tawaran itu, Pak AR memilih menolaknya. Da memutuskan tetap mengabdi di Muhammadiyah karena organisasi ini tidak berpihak kepada partai politik tertentu.
Dengan Muhammadiyah dia mengaku bisa lebih merdeka dalam berdakwah dan membangun masyarakat.
Masa kepemimpinan Pak AR di Muhammadiyah tidak luput dari kritik. Dalam sebuah kajian Ramadhan di PP Muhammadiyah, beberapa pengamat Islam mengemukakan analisis mereka yang suram terhadap memudarnya sifat pembaharuan dalam gerakan Muhammadiyah.
Untuk merespon pandangan itu, Pak AR menegaskan kembali terobosan-terobosan penting yang dibawa Muhammadiyah sebagai organisasi Islam sejak awal pendiriannya. Mulai dari mendorong pengamalan Surat Al Ma’un (yang menganjurkan agar orang miskin dan lemah diperhatikan dan dilindungi), membangun rumah sakit, dan memberikan pelajaran yang komplit—baik di bidang agama Islam maupun ilmu pengetahuan umum, seperti berhitung, ilmu bumi, bahasa Melayu dan bahasa Belanda.
Bagi Pak AR, walaupun ada kritik semacam itu, sulit dibantah anggapan bahwa belum ada organisasi lain yang dapat mengimbangi amal usaha Muhammadiyah yang besar itu.
Agaknya, reputasinya sebagai tokoh Islam yang mudah bergaul memudahkan dirinya untuk ambil bagian dalam memecahkan kebuntuan komunikasi. Pak AR tak canggung berbincang dengan berbagai kalangan, mulai dari tukang becak, mahasiswa, presiden, hingga mereka yang dianggap sebagai pemberontak.
Untuk kategori terakhir ini, dia pernah bertemu dan berbicara langsung dengan Tengku Daud Beureueh yang memimpin perlawanan terhadap pemerintah RI di Aceh.
Melalui perantaraan pimpinan Muhammadiyah Aceh, Pak AR masuk ke pedalaman Aceh dan bertemu langsung dengan Daud Beureueh. Dalam dialog selama kurang lebih sejam itu, Daud Beureueh menjelaskan alasan perlawanannya, sementara Pak AR menerangkan aktivitas-aktivitas Muhammadiyah untuk memajukan masyarakat.
Dalam kesempatan lain, dia bersua dan berbincang dengan Abdul Kahar Muzakkar, pimpinan DI/TII Sulawesi Selatan, yang kecewa dengan pemerintah pusat sehingga melakukan pemberontakan.
Salah satu titik perselisihan antara pemerintah dengan umat Islam di tahun 1980-an adalah terkait keputusan pemerintah mewajibkan semua partai politik dan organisasi masyarakat menggunakan Pancasila sebagai asas tunggal. Aturan ini termaktub dalam UU Nomor 3/1985 dan disahkan tanggal 19 Februari 1985.
Anjuran asas tunggal Pancasila ini, bagi organisasi non-keamanan, barangkali bukan suatu persoalan. Tapi bagi organisasi-organisasi, tentu ini adalah isu yang mesti didiskusikan.
Sebagian kalangan Islam menerimanya setelah melalui serangkaian diskusi internal. NU dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menerima aturan baru itu lebih dulu. Namun, Muhammadiyah, yang di masa lalu punya hubungan erat dengan Masyumi, butuh waktu lebih lama untuk membahasnya secara keorganisasian.
Sejumlah tokoh Muhammadiyah menolak ide asa tunggal itu, sementara sebagian lainnya berkomunikasi langsung dengan Presiden Soeharto. Sebagaimana ditulis Luthfi Assyaukanie dalam studinya, Islam and the Secular State in Indonesia (2009), Pak AR dan para tokoh Muhammadiyah lain meminta pemerintah untuk mempertimbangkan mengecualikan Muhammadiyah dari aturan soal asas tunggal itu.
Setelah melalui perdebatan yang panjang, Muhammadiyah pada akhirnya menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi pada Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada Desember 1985. Pada kesempatan yang sama, Presiden Soeharto memberikan apresiasinya, termasuk dengan menekankan bahwa dia juga merupakan bagian dari Muhammadiyah.
Bagi Pak AR, Pancasila bukan agama. Dan Pak AR meyakini bahwa bagi pemerintah pun demikian, mengingat setiap orang Indonesia sudah punya agamanya sendiri-sendiri.
Pak AR menggarisbawahi bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia dan falsafah hidup bangsa Indonesia. Melalui Pancasila-lah, terangnya, setiap orang Indonesia dapat saling menghormati dan menghargai pelaksanaan ajaran agama masing-masing.
Dalam tulisannya yang bertajuk “Pancasila Itu Bukan Agama” Pak AR menafsirkan sila demi sila dalam Pancasila. Salah satunya adalah sila kelima, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Dalam pandangan Pak AR, sila ini tidak hanya mendorong terciptanya pemerataan kesejahteraan di antara masyarakat Indonesia. Tapi juga mendorong terwujudnya keadilan bagi umat manusia di seluruh dunia.

Naik angkutan umum
Pak AR dikenal dekat dengan Presiden Soeharto. Gaya komunikasi Pak AR yang luwes dan sopan, yang terkadang diselingi oleh bahasa Jawa halus, membuat relasi Muhammadiyah dan Soeharto kian dekat.
Buya Syafii dalam autobiografinya, Titik-titik Kisar di Perjalananku (2009), berkisah, ketika hendak membangun Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammadiyah membutuhkan dana yang besar, terutama untuk membeli lahan yang ada di Kasihan, Bantul. Lalu apa yang dilakukan Pak AR?
Sebuah surat singkat, dalam bahasa Jawa, dia tulis dan kirimkan ke Presiden Soeharto lewat perwira kepercayaan sang presiden, Ali Afandi. Surat itu berbuah manis karena tak lama kemudian Muhammadiyah menerima dana yang tergolong banyak pada masa itu, Rp500 juta, untuk pembangunan kampus UMY.
Kini UMY merupakan salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia.
Pak AR memandang Muhammadiyah sebagai mitra yang strategis bagi pemerintah. Ini bisa dilihat dari Muktamar Muhammadiyah ke-41 yang yang menyetujui asas tunggal Pancasila, sebagaimana disebut di awal.
Ketika itu Pak AR kembali terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. 1.059 dari 1.086 muktamirin memberikan suaranya kepada Pak AR, membuktikan kuatnya kepercayaan warga Muhammadiyah pada dirinya.
Beberapa hari selepas penutupan muktamar, wartawan Tempo mewawancarai Pak AR. Dalam salah satu perbincangannya, sang wartawan meringkas gaya kepemimpinan Pak AR yang dipandang paling dapat diterima oleh warga Muhammadiyah yakni “luwes ke pemerintah dan berwibawa di kalangan umat”.
Dalam meresponnya, Pak AR menerangkan visi kepemimpinannya. Menurutnya, luwes itu sebenarnya merupakan ciri khas Muhammadiyah dalam berinteraksi, tidak hanya dengan pemerintah, tetapi juga dengan pihak-pihak lainnya.
Dia mengemukakan tentang ajaran Islam yang melarang orang untuk mengumpat dan menjelekkan orang lain. Ketika pemerintah salah, lanjutnya, Muhammadiyah tidak melakukan kritik secara demonstratif.
Sebagai pemimpin, Pak AR tidak hanya dikenal fleksibel dalam pergaulan, tapi juga bersahaja dalam kehidupannya. Dia terbiasa pergi ke berbagai tempat dengan sepeda motor atau kendaraan umum.
Rumah yang ditinggalinya merupakan milik Muhammadiyah. Ketika wafat, dia mewariskan ilmu dan nilai pada keluarganya, warga Muhammadiyah, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Pak AR wafat di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) pada Jumat pagi, 17 Maret 1995. Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat melayat ke sana, termasuk Presiden Soeharto dan Bu Tien, Menteri Agama Tarmizi Taher, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Hasan Basri, dan Ketua PPP Ismail Hasan Metareum.
Majalah resmi Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah, pada edisi 1-15 April 1995 dan edisi 16-30 April 1995 menampilkan foto Pak AR sebagai kover majalah sebagai tanda duka. Berita meninggalnya Pak AR tersebar via berbagai media komunikasi, mulai dari mimbar Jumat, media cetak, radio hingga televisi.
Dari Jakarta, jenazah Pak AR diterbangkan ke Yogyakarta. Jurnalis majalah Suara Muhammadiyah melaporkan bahwa para pelayat yang berdatangan di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta mengungkapkan memori mereka tentang kebaikan, kesederhanaan, kejujuran, keikhlasan, keterusterangan dan kearifan Pak AR.
Sebuah foto di majalah itu memperlihatkan lautan manusia yang mengantar kepergian Pak AR.
Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun punya kenang-kenangan tersendiri Pak AR. “Allah mencerminkan diri pada nama orang tua terkasih kita ini (Pak AR. red.), pada perilakunya yang amat bersahaja, pada cinta kasih sosialnya yang meluber, pada kepemimpinannnya yang sepuh, pada pilihan zuhudnya, pada kesegaran penuturannya yang penuh ketulusan.”
Itulah AR Fachruddin, tokoh Muhammadiyah yang sederhana namun bersahaja.