Buruh Muat Sawit dan Paradoks Panen Raya di Bengkulu Selatan, Rezeki Melimpah tapi Kelimpungan
Ricky Jenihansen June 16, 2026 03:53 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Nur Rahma Sagita

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN – Terik matahari siang menyengat halaman sebuah RAM sawit di Desa Padang Jawi, Kabupaten Bengkulu Selatan, Selasa (16/6/2026).

Ram sawit (sering disebut loading ramp atau peron) adalah tempat penampungan dan transaksi jual beli Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari petani

Di sudut lapangan, tandan buah segar (TBS) sawit menggunung membentuk bukit-bukit kecil berwarna cokelat kehitaman.

Butiran buah sawit yang terlepas dari tandannya berserakan di tanah.

Sesekali terdengar suara besi egrek dan kait yang beradu dengan bak truk, memecah sunyi perkebunan yang dikelilingi pohon-pohon sawit menjulang tinggi.

Tiga orang buruh muat tampak sibuk bekerja.

Dengan gerakan yang sudah terlatih, mereka mengait tandan sawit berbobot belasan hingga puluhan kilogram, lalu mengangkatnya satu per satu ke atas truk.

Keringat membasahi kaus yang mereka kenakan.

Namun, tak ada waktu untuk beristirahat terlalu lama. Saat panen raya seperti sekarang, tumpukan buah seolah tak pernah habis.

Bagi para buruh muat, musim panen raya adalah masa yang paling dinanti.

Buah sawit datang silih berganti dari kebun warga. Truk pengangkut tak pernah sepi keluar masuk RAM.

Artinya, pekerjaan tersedia hampir sepanjang hari.

"Kalau kami sebagai buruh muat tentu senang karena buah banyak," ujar Jendri, salah seorang buruh muat sawit yang ditemui TribunBengkulu.com.

Antrean Pengiriman ke Pabrik

Namun, di balik melimpahnya hasil panen yang membawa tambahan penghasilan, tersimpan persoalan lain yang membuat para buruh justru kelimpungan.

Bukan karena kurang pekerjaan, melainkan karena terlalu banyak buah yang harus dikirim ke pabrik.

Tingginya produksi sawit saat panen raya membuat antrean kendaraan pengangkut di pabrik kelapa sawit semakin panjang.

Menurut Jendri, antrean bahkan bisa berlangsung hingga dua hari dua malam sebelum truk mendapatkan giliran untuk membongkar muatan.

"Yang jadi masalah itu waktu menunggu saat mengantar buah ke pabrik sangat lama," katanya.

Upah Buruh Muat Sawit

Buruh muat biasanya menerima upah Rp200 ribu untuk satu truk.

Jika pekerjaan dilakukan oleh tiga orang, maka uang tersebut dibagi rata.

Meski jumlah muatan meningkat saat panen raya, waktu yang tersita akibat antrean panjang membuat proses kerja menjadi jauh dari kata efisien.

Kondisi Distribusi Buah Sawit

Di halaman RAM, tumpukan buah sawit terus bertambah.

Karung-karung berisi brondolan sawit berjajar di bawah atap bangunan.

Sementara itu, truk yang sudah penuh muatan bersiap berangkat menuju pabrik.

Bagi para buruh, pekerjaan mereka sebenarnya selesai saat tandan terakhir berhasil dinaikkan ke bak kendaraan.

Namun, perjalanan sawit menuju pabrik masih menyisakan cerita panjang.

Antrean panjang tidak hanya terjadi di pabrik yang berada di Bengkulu Selatan.

Kondisi serupa juga dirasakan saat mengirim buah ke sejumlah pabrik lain, termasuk yang berada di kawasan Sendawar, Kabupaten Seluma.

Saat ini, buah sawit dari RAM tempat Jendri bekerja dikirim ke PT Mutiara Sawit Seluma (MSS).

Membludaknya volume buah yang masuk membuat antrean kendaraan tak terhindarkan.

Di satu sisi, panen raya menjadi berkah bagi petani dan buruh muat karena pekerjaan melimpah.

Namun, di sisi lain, kapasitas penerimaan pabrik yang terbatas membuat rantai distribusi tersendat.

Harapan Buruh Muat

Jendri berharap ada solusi dari pihak pabrik agar antrean tidak berlangsung terlalu lama.

"Kalau bisa kapasitas penerimaan ditambah atau ada solusi lain, supaya antrean tidak terlalu lama," harapnya.

Sebab, bagi para buruh muat sawit di Bengkulu Selatan, panen raya bukan hanya soal rezeki yang melimpah.

Panen raya juga menghadirkan tantangan baru: bekerja lebih keras, sembari menunggu lebih lama.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.