TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Kerusakan jalan di Desa Wringinputih, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang yang sempat diprotes warga dengan aksi menanam pohon pisang dan meletakkan batu di badan jalan dipastikan segera diperbaiki.
Perbaikan dilakukan oleh PT Mahidara Artha Sangkara selaku perusahaan yany melakukan aktivitas usaha tambang di kawasan tersebut.
Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening mengatakan, kesepakatan mengenai perbaikan jalan telah dicapai dalam pertemuan yang digelar pada 13 Juni 2026.
Pertemuan itu dihadiri berbagai pihak. Mulai dari DPRD, DPU, DLH, Dishub, pihak perusahaan, Camat, Lurah, kepolisian, hingga perwakilan warga.
Baca juga: Merawat Tradisi Nenek Moyang, Warga Sidomulyo Semarang Wajib Makan Ketupat saat Malam 1 Suro
• Kepala DPUPR Jateng: Anggaran Jalan Perbatasan di Wonogiri Ditambah Rp32,6 Miliar
"Kami dari DPRD ikut menyaksikan. Intinya, perusahaan bersedia memperbaiki jalan itu," kata Bondan, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, tahapan awal telah dimulai sejak Senin (15/6/2026) dengan melakukan pengukuran di lokasi. Pelaksanaan direncanakan pada pekan depan.
Perbaikan yang dilakukan bukan sekadar tambal sulam, melainkan menggunakan konstruksi beton sehingga diharapkan lebih kuat dan tahan lama.
Perusahaan, kata Bondan, juga berkomitmen menggunakan metode fast track agar proses pembangunan dapat selesai dalam waktu relatif singkat dan jalan segera kembali digunakan masyarakat.
"Ini bukan tambal sulam, tetapi beton. Mereka akan menggunakan metode fast track sehingga pembangunan tidak membutuhkan waktu lama dan jalan bisa segera digunakan," jelasnya.
Pihaknya mengapresiasi kesediaan perusahaan untuk menjalankan tanggung jawabnya.
Menurutnya, kewajiban memperbaiki fasilitas umum yang rusak akibat aktivitas usaha telah diatur dalam dokumen perizinan perusahaan.
"Itu memang kewajiban perusahaan ketika dalam operasional usahanya menimbulkan kerusakan atau fasilitas pemerintah menjadi rusak. Kewajiban itu tertuang dalam dokumen perizinan," tegas Bondan.
DPRD Kabupaten Semarang bersama pemerintah daerah akan terus mengawasi proses perbaikan hingga selesai.
Pengawasan dilakukan untuk memastikan komitmen yang telah disepakati dapat dijalankan seluruh pihak.
"Kalau perusahaan sudah melakukan kewajibannya, tentu kami sangat menghargai."
"Semoga komitmen yang sudah dibangun ini dijalankan oleh masing-masing pihak. Prosesnya akan terus diawasi, baik oleh legislatif maupun eksekutif," tuturnya.
Sepanjang hampir satu kilometer, batu pondasi menumpuk di sejumlah titik badan jalan dengan batang pohon pisang tertancap di atasnya sebagai penanda.
Kondisi jalan di sejumlah titik nampak berlubang. Di tengah kondisi tersebut, truk-truk pengangkut hasil tambang masih hilir mudik melintas.
Saat truk-truk bermuatan besar melintas, kendaraan lain terpaksa mengurangi kecepatan dan bergantian lewat.
Ketua RT 05 RW 01 Wringinputih, Winarto (42) mengatakan, pemasangan batu di badan jalan merupakan inisiatif warga yang sudah lama resah dengan kondisi jalan rusak dan debu yang ditimbulkan kendaraan berat.
Batu-batu yang ditempatkan di badan jalan tersebut dipasang secara swadaya oleh warga sekitar.
Langkah itu kesepakatan bersama warga Wringinputih yang selama ini terdampak kondisi jalan tersebut.
Ada 20 RT di Wringinputih yang telah sepakat memasang batu sebagai bentuk protes.
Sementara, ada lima RT di jalur tersebut yakni RT 01, RT 02, RT 04, RT 05, dan RT 07.
Baca juga: Harga Pertamax di Indonesia Paling Murah, Mahasiswa Unissula Semarang: Jangan Bodohi Kami
• Polisi Blokir Aset Eks Karyawan Mandiri Taspen Purwokerto Terkait Investasi Bodong
"Kalau yang berada di pinggir jalan ada lima RT. Mereka yang merasakan langsung dampaknya karena setiap hari harus menghadapi debu, jalan rusak, dan lalu lalang truk besar," katanya, Kamis (11/6/2026).
Winarto menuturkan, kerusakan jalan diduga dipicu tingginya intensitas truk pengangkut material tambang yang melintas setiap hari dengan muatan penuh.
Kondisi tersebut, kata dia, telah berlangsung hampir dua tahun terakhir.
"Truknya lalu lalang nggak terhitung. Itu truk besar-besar bawa material," ungkapnya.
Tak hanya mengganggu kenyamanan warga, jalan rusak tersebut juga dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Sejumlah kecelakaan, mulai dari pengendara terjatuh hingga senggolan kendaraan, disebut kerap terjadi di ruas jalan tersebut.
"Sebelum ada batu-batu ini, kecelakaan sering terjadi. Kalau hujan lebih berbahaya karena lubang tertutup air dan jalan menjadi licin," ungkapnya.
Dia berharap perbaikan jalan dapat segera terealisasi. Warga menginginkan jalan yang layak dan aman dilalui setelah hampir dua tahun terdampak kerusakan akibat lalu lalang kendaraan berat.
Pengendara jalan asal Gondoriyo, Karminto (40) mengatakan, selalu melintasi jalan tersebut untuk berangkat dan pulang kerja.
Menurutnya, kondisi jalan yang rusak dan berdebu sangat mengganggu aktivitas warga.
"Mengganggu sekali. Kalau lewat pasti kena debu, tidak nyaman," ujarnya.
Karminto pernah menyaksikan kecelakaan di lokasi tersebut. Bahkan dirinya juga pernah menjadi korban akibat kondisi jalan yang rusak.
"Saya pernah melihat orang terlindas di sini. Saya sendiri juga pernah jatuh karena jalannya rusak," katanya.
Dia berharap, kendaraan bertonase besar tidak lagi melintas di jalan kampung tersebut.
Sebab, selain memperparah kerusakan jalan, keberadaan truk-truk besar membuat perjalanan warga menjadi lebih lama karena harus bergantian melintas.
"Ini jalan kampung, jalan kecil. Harapan kami truk-truk besar jangan lewat sini lagi."
"Kalau ada truk lewat, kendaraan lain harus menunggu. Selain berbahaya, perjalanan juga jadi lebih lama," terangnya. (*)