BGN Siap Coret 8 Juta Penerima MBG: 'Anak SMA yang Uang Sakunya Rp 100.000 Gak Usah Dikasih'
jonisetiawan June 16, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah kini memasuki fase evaluasi dan penataan ulang.

Di tengah berbagai sorotan terkait efektivitas penyaluran anggaran dan ketepatan sasaran penerima manfaat, Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menyusun langkah refocusing agar program tersebut lebih terarah kepada kelompok yang dinilai paling membutuhkan.

Salah satu opsi yang kini mengemuka adalah pengurangan penerima manfaat dari kalangan siswa sekolah menengah atas (SMA) yang berasal dari keluarga mampu.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya penyesuaian kebijakan agar intervensi gizi pemerintah tidak hanya luas cakupannya, tetapi juga tepat sasaran.

Baca juga: Komnas HAM Sebut Program MBG Langgar HAM, Menteri Natalius Pigai Tak Terima: Itu Komentar Bodoh!

Anak SMA dari Kalangan Mampu Berpotensi Dicoret

Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, mengungkapkan bahwa salah satu contoh refocusing yang sedang dipertimbangkan adalah menghentikan pemberian MBG kepada siswa SMA dari kelompok ekonomi atas.

“Misalnya lah contoh gampang, untuk SMA ya mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA yang, mungkin yang uang sakunya anak-anaknya sudah Rp 100.000, Rp 200.000 gitu ya,” kata Arumsari di Kompleks DPR, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi jumlah penerima manfaat yang selama ini dianggap terlalu luas cakupannya.

Jumlah Penerima Manfaat Bisa Berkurang 8 Juta Orang

BGN memperkirakan bahwa apabila peserta didik dari kelompok ekonomi mampu tidak lagi masuk dalam kategori penerima MBG, maka jumlah penerima manfaat dapat berkurang secara signifikan.

“Mungkin yang high class gitu itu tidak perlu lagi. Nah, itu beberapa contoh. Itu sudah akan berkurang sekitar 8 juta penerima manfaat,” sambung Arumsari.

Pengurangan tersebut dinilai dapat membantu pemerintah mengalokasikan anggaran secara lebih efektif kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.

POLEMIK MBG - (Ilustrasi) Menu MBG.
POLEMIK MBG - (Ilustrasi) Menu MBG. Badan Gizi Nasional melalui Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menyebut siswa SMA dari keluarga mampu berpotensi tidak lagi menjadi penerima Program MBG. (Instagram @badangizinasional.ri)

Fokus pada Ketepatan Sasaran, Bukan Mengurangi Intervensi Gizi

Meski berpotensi memangkas jutaan penerima manfaat, BGN menegaskan bahwa refocusing tidak dimaksudkan untuk mengurangi komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Arumsari menekankan bahwa tujuan utama kebijakan ini adalah memastikan bantuan pemerintah diberikan kepada kelompok yang paling membutuhkan sehingga manfaat program menjadi lebih optimal.

“Jadi, sekali lagi, refocusing ini adalah kami perlukan supaya memang pemberian intervensi pemerintah lebih tepat sasaran, kemudian diikuti otomatis dengan angka anggaran yang semakin turun. Itu yang keluar ke penerima manfaat,” ujar dia.

Baca juga: Aturan Baru Pasca Dadan Hindayana Cs Ditangkap! BGN Larang Anak Buahnya Main Proyek Dapur MBG

Penataan Dapur MBG Ikut Jadi Sorotan

Penyesuaian jumlah penerima manfaat diperkirakan akan berdampak langsung pada tata kelola dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang selama ini menjadi ujung tombak pelaksanaan program.

Arumsari mengakui bahwa berkurangnya jumlah penerima manfaat akan berimplikasi pada kebutuhan dapur dan mekanisme operasional di lapangan.

Karena itu, BGN juga berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas fasilitas produksi makanan.

“Kita bicaranya penerima manfaat dulu, baru dampaknya ada dapur dan sebagainya. Kita akan tata ulang ya termasuk masalah kualitas dapur,” ucap dia.

Kualitas Dapur Jadi Prioritas Evaluasi

Selain melakukan penyesuaian sasaran penerima, BGN juga menyoroti pentingnya peningkatan standar dapur MBG. Menurut Arumsari, kualitas makanan yang baik tidak mungkin dihasilkan apabila fasilitas dan alur kerja dapur tidak memenuhi standar yang semestinya.

“Karena tidak masuk akal ketika kita mengharapkan menghasilkan kualitas yang baik ketika dapurnya tidak sesuai dengan kaidah bagaimana flow of cooking yang baik dan sebagainya lah. Itu nanti adalah salah satu dampak dari refocusing,” lanjutnya.

Langkah refocusing ini menjadi bagian dari upaya BGN membenahi tata kelola MBG secara menyeluruh, mulai dari penerima manfaat, penggunaan anggaran, hingga kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap program MBG dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran di tengah berbagai evaluasi yang terus berlangsung.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.