Laporan Reporter SURYAMALANG.COM/Bobby Koloway/Luhur Pambudi
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Peringatan keras dilontarkan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kepada kontraktor hingga jajaran kepala dinas pasca-insiden maut yang menewaskan seorang pengendara lansia di lokasi proyek gorong-gorong Jalan Margorejo, Kota Surabaya, Jawa Timur.
Sikap tegas ini langsung disampaikan usai masa cuti ibadah haji 2026 berakhir, di mana Eri Cahyadi menegaskan akan mengevaluasi secara menyeluruh pemenuhan standar keselamatan dokumen Rencana Kerja dan Syarat (RKS).
Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu menyatakan, pembangunan infrastruktur penanggulangan banjir di Kota Pahlawan tidak boleh mengorbankan nyawa warga akibat kelalaian pelaksana di lapangan.
Wali Kota menyebut peristiwa meninggalnya pengendara motor di lokasi proyek saluran drainase Jumat (12/6/2026) malam tersebut, menjadi peringatan keras bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan di Kota Pahlawan.
Tidak hanya menyasar proyek di Margorejo, evaluasi pun akan dilakukan secara menyeluruh.
Khususnya, yang saat ini tengah berjalan. "Ini peringatan keras saya buat kontraktor dan jajaran dinas," kata Eri, Selasa (16/6/2026).
Baca juga: Gendam Nekat di Madiun Sasar Rumah Lansia, Harta Rp30 Juta Mbah Kadinem Raib Termasuk Emas 18 Gram
Peringatan ini disampaikan setelah pihaknya menyelesaikan masa cuti pasca ibadah haji 2026.
"Karena kemarin saya cuti gak iso ngekeki teguran. Tapi hari ini cuti saya sudah berakhir, maka saya memberikan teguran keras kepada kontraktor dan jajaran dinas," katanya.
Eri menegaskan akan memberikan sanksi apabila ditemukan adanya kelalaian dalam pengamanan proyek. Menurutnya, pembangunan tidak boleh mengorbankan keselamatan warga.
"Pembangunan boleh dijalankan, tapi tidak boleh muncul korban akibat pembangunan dari Kota Surabaya. Iki nggo nyelesaino banjir, iya, tapi gak oleh ono korbane," tuturnya.
Eri memastikan investigasi internal telah dilakukan melalui jajaran terkait untuk menelusuri apakah prosedur keselamatan proyek telah dijalankan sesuai dokumen Rencana Kerja dan Syarat (RKS).
"Nanti saya akan lihat yang di dalam dokumen penawaran, dokumen RKS-nya, itu pengamanan terhadap proyek seperti apa. Kalau ternyata pengamanan proyeknya itu tidak dilakukan dan ternyata dinasnya juga diam, maka saya akan memberi sanksi," ujarnya.
Orang nomor satu di Surabaya itu bahkan tidak segan menjatuhkan sanksi berat terhadap kepala dinas maupun pimpinan proyek (pimpro) apabila ditemukan pelanggaran.
"Seluruh proyek di Surabaya terkait dengan keamanannya harus sesuai dengan RKS-nya dan sesuai dengan penawarannya. Lek sampai gak dilakoni, berarti dinase gak tepak, Pak. Saya copot itu pejabatnya," katanya.
Baca juga: Lansia Asal Wagir Malang Ditemukan Meninggal Dunia di dalam Sumur, Sempat Hilang Selama Sehari
Eri menegaskan, penindakan bukan dilakukan karena adanya hubungan kekeluargaan dengan korban, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam melindungi seluruh warga Surabaya.
"Saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi kepada warga Surabaya. Sanksi ini saya berikan kepada Pemerintah Kota Surabaya yang ngurusi proyek agar menyelamatkan warga Kota Surabaya," tegasnya.
Selain itu, Eri mengajak masyarakat aktif melaporkan proyek-proyek yang dinilai tidak memenuhi standar keselamatan melalui hotline pengaduan Pemkot Surabaya.
"Kalau ada proyek-proyek yang tidak ada penandanya, agar tidak terulang kembali, tolong sampaikan kepada hotline saya. Jadi sebelum kejadian bisa kami antisipasi," tandasnya.
Eri berharap insiden di Margorejo menjadi yang terakhir dan menjadi pengingat bagi seluruh pelaksana proyek agar mengutamakan aspek keselamatan kerja dan perlindungan masyarakat.
"Muga-muga ini jadi pengingat untuk proyek-proyek Surabaya ke depannya tidak lagi ada korban. Ini yang terakhir dan menjadi yang terbaik untuk proyeknya Kota Surabaya," kata Wali Kota dua periode tersebut.
Sebelumnya, sepasang suami istri lanjut usia (lansia) asal Kawatan, Bubutan, Surabaya, berinisial EP (65) dan LE (69), tercebur ke dalam lubang proyek gorong-gorong sedalam 2,5 meter dan berdiameter 5 meter di Jalan Margorejo Indah, Wonocolo, pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 19.45 WIB.
Motor Honda Supra X berplat L-5478-AAE yang mereka kendarai terjungkal saat melaju dari arah timur ke barat.
Kecelakaan diduga kuat akibat minimnya lampu penerangan jalan di sekitar lokasi proyek rumah pompa yang sudah berjalan satu bulan tersebut.
Selain itu, pembatas water barrier di pinggir bibir lubang semula hanya dipasang tiga buah secara renggang, serta adanya pasir galian yang membuat motor sulit mengerem.
Sang istri, LE, meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka parah terbentur beton bangunan. Sementara sang suami, EP, selamat dengan luka ringan namun sempat menolak naik dari lubang karena fokus menjaga istrinya yang tidak sadarkan diri di dalam kubangan air yang gelap.
Baca juga: Lansia Madyopuro Kota Malang Sulap Bahan Daur Ulang Jadi Hiasan Dinding Bernilai Jual Tinggi
Korban baru berhasil dievakuasi setelah hampir satu jam terjebak dan langsung dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya.
Titik proyek ini diketahui rawan kecelakaan. Menurut saksi di lokasi, insiden maut yang menimpa pasutri lansia ini merupakan kejadian yang ketiga kalinya dan menjadi yang paling parah, di mana dua kejadian sebelumnya juga terjadi pada malam hari namun pemotor hanya terjatuh di area pasir galian.
Petugas keamanan pusat perbelanjaan, SO, menceritakan momen ketika sang suami menolak dievakuasi demi mendampingi istrinya di dasar lubang.
"Nah, yang laki-lakinya kan enggak mau naik itu karena lihat istrinya di dalam. Fokus ke istrinya. gitu Sebenarnya tadi kan ada medis juga yang ngecek itu benar-benar meninggal dunia," ujar SO.
Petugas parkir minimarket, Nanang Budi Santoso, menjelaskan sulitnya proses evakuasi awal karena kondisi medan yang gelap dan kedalaman lubang:
"Kondisinya tadi enggak kelihatan, soalnya gelap, yang laki-laki tadi berdiri, ada yang perempuan kan ada airnya tadi soalnya. Jadi enggak kelihatan. Sudah ada yang masuk ke dalam pengin nolongin tapi juga enggak bisa. Sudah berusaha pakai tampar juga enggak ngatasi. Enggak kuat," kata Nanang.
Nanang juga membeberkan bahwa insiden di lokasi proyek tersebut bukan pertama kalinya terjadi.
"Yang pertama kali itu nimpa ini itu jatuh. Mbak-mbak itu jatuh. Terus berapa kali jatuh lagi tapi enggak ke gorong-gorong masih di ini, Pasir-pasirnya. Ya, ini yang ketiga kali ini. Ya, kejadiannya malam malam semua. Ini paling parah," pungkasnya.
Pantauan terbaru Selasa (16/6/2026), di lokasi proyek koridor Jalan Margorejo sisi utara dan selatan, menunjukkan pengerjaan saluran masih berlangsung.
Sebagian jalan digali untuk selanjutnya dipasang unit saluran U-Ditch berukuran besar.
Sejumlah unit saluran U-Ditch berukuran besar telah terpasang berjajar di beberapa titik. Namun, pada bagian lainnya masih tampak lubang galian terbuka dengan kedalaman cukup signifikan.
Area pekerjaan dibatasi menggunakan barrier jalan, pagar proyek, serta marka pengaman berwarna mencolok.
Meski demikian, terdapat beberapa titik yang masih menyisakan celah akses bagi pengguna jalan sehingga pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat malam hari.
Berdasarkan data pengadaan yang beredar, proyek tersebut tercatat sebagai paket pembangunan saluran U-Ditch ukuran 150/150 dengan cover beban gandar 15 ton.
Paket bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak sekitar Rp15,47 miliar.
Proyek yang dilaksanakan melalui mekanisme E-Purchasing E-Katalog 6.0 itu saat ini masih berstatus "on process". Proyek ini dikerjakan oleh pengembang asal Surabaya.
Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita sebelumnya menjelaskan infrastruktur pendukung terus disiapkan untuk mengantisipasi genangan di kawasan tersebut. Salah satunya adalah pembangunan saluran baru serta pengoperasian rumah pompa Margorejo sejak Desember 2025.
Adi menerangkan, aliran air dari kawasan Margorejo akan diarahkan ke Wonorejo, kemudian masuk ke saluran Prapen Tengah dan dibuang ke Kali Jagir melalui sistem pompa.
Untuk memperkuat kapasitas, Pemkot Surabaya juga akan melakukan pelebaran saluran Prapen, dari yang sebelumnya hanya sekitar 2–3 meter akan ditingkatkan menjadi sekitar 11–12 meter.
“Saluran Prapen nanti akan dilebarkan untuk menampung aliran dari Margorejo dan sekitarnya,” imbuh Adi.