BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Tradisi mendirikan telur saat perayaan Peh Cun atau Duanwu Festival kembali menjadi perhatian masyarakat di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Fenomena unik yang dipercaya terjadi tepat saat tengah hari itu kini tidak hanya dipandang sebagai tradisi budaya masyarakat Tionghoa, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya daerah.
Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang melalui Dinas Pariwisata menilai tradisi telur berdiri memiliki nilai budaya, historis hingga potensi promosi wisata yang besar. Bahkan, tradisi tersebut kini dikemas dalam rangkaian Festival Pasir Padi, agenda wisata tahunan yang rutin digelar di kawasan Pantai Pasir Padi.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang, Yan Rizana, mengatakan tradisi mendirikan telur saat Peh Cun merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Tionghoa yang telah lama tumbuh dan berkembang di Kota Pangkalpinang.
Menurutnya, pemerintah daerah melihat tradisi tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya yang mencerminkan keberagaman serta toleransi yang telah menjadi karakter masyarakat Bangka Belitung.
"Tradisi mendirikan telur pada perayaan Peh Cun merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Tionghoa yang telah lama hidup dan berkembang di Kota Pangkalpinang. Pemerintah melihat ini sebagai bagian dari kekayaan budaya yang mencerminkan keberagaman dan toleransi masyarakat Bangka Belitung," kata Yan kepada Bangkapos.com, Selasa (16/6/2026).
Ia menjelaskan, melalui Festival Pasir Padi, tradisi tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi muda dan wisatawan sebagai atraksi budaya yang unik, edukatif, dan sarat nilai sejarah.
"Pengemasan dalam bentuk festival diharapkan mampu memperkuat identitas daerah sekaligus menjadi daya tarik wisata berbasis budaya," ujarnya.
Fenomena telur berdiri saat Peh Cun selama ini selalu menyedot perhatian masyarakat. Tradisi yang dapat diikuti berbagai kalangan itu kerap ramai diperbincangkan, termasuk di media sosial.
Yan menilai, daya tarik tradisi tersebut tidak hanya berdampak pada aspek budaya, tetapi juga memberi pengaruh terhadap sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat sekitar.
Menurutnya, setiap pelaksanaan Festival Pasir Padi mampu menarik masyarakat datang ke kawasan Pantai Pasir Padi untuk menyaksikan langsung berbagai rangkaian kegiatan, termasuk momen mendirikan telur.
"Tradisi telur berdiri memiliki daya tarik yang sangat kuat karena sifatnya unik dan mudah diikuti semua kalangan. Setiap pelaksanaan kegiatan selalu mendapat perhatian masyarakat, media massa, hingga pengguna media sosial yang secara tidak langsung membantu promosi Kota Pangkalpinang dan Bangka Belitung secara luas," jelasnya.
Selain meningkatkan pergerakan wisatawan, kata Yan, festival tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pedagang kuliner, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat sekitar lokasi kegiatan.
"Lebih penting lagi, tradisi ini telah menjadi salah satu cerita khas atau storytelling tourism yang membedakan Pangkalpinang dengan destinasi lain di Indonesia," katanya.
Meski memiliki nilai hiburan dan daya tarik visual yang tinggi, Pemerintah Kota Pangkalpinang menegaskan pengembangan tradisi Peh Cun tidak boleh menghilangkan nilai budaya dan filosofinya.
Karena itu, dalam pelaksanaan Festival Pasir Padi, pemerintah berupaya menghadirkan edukasi mengenai sejarah Peh Cun, filosofi tradisi, hingga memperkenalkan kuliner khas seperti bacang.
Keterlibatan komunitas Tionghoa dan tokoh budaya juga terus didorong agar masyarakat memahami makna di balik tradisi tersebut, bukan sekadar menikmati atraksinya.
"Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata. Masyarakat tidak hanya menyaksikan atraksinya, tetapi juga memahami nilai sejarah, kebersamaan, dan akulturasi budaya yang terkandung di dalamnya," ucap Yan.
Yan optimistis perayaan Peh Cun di Bangka Belitung memiliki potensi besar menarik wisatawan, baik lokal maupun luar daerah. Sebab, tradisi tersebut berkembang melalui proses akulturasi budaya yang khas dan mencerminkan kehidupan masyarakat multikultural.
Menurut dia, perpaduan atraksi telur berdiri, kuliner khas, hingga nuansa toleransi antarbudaya menjadi keunikan yang tidak banyak ditemukan di daerah lain.
"Dengan pengemasan yang baik dan promosi berkelanjutan, Peh Cun berpotensi menjadi salah satu agenda wisata budaya unggulan yang mampu menarik wisatawan lokal, regional, maupun nasional," katanya.
Pemerintah Kota Pangkalpinang juga terus mengembangkan Festival Pasir Padi sebagai agenda wisata unggulan daerah agar semakin dikenal secara nasional.
Yan menyebut, tradisi telur berdiri menjadi salah satu ikon utama festival karena memiliki nilai keunikan, daya tarik visual, serta keterkaitan kuat dengan sejarah dan budaya masyarakat Bangka Belitung.
"Keunikan inilah yang menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Festival Pasir Padi sebagai event wisata budaya yang berdaya saing," ujarnya.
Ia berharap Festival Pasir Padi ke depan dapat berkembang lebih besar dan memperoleh pengakuan lebih luas sebagai salah satu festival budaya unggulan yang merepresentasikan keberagaman, toleransi, dan kekayaan budaya Bangka Belitung.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)