TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Sejauh dua kilometer dari jalan raya Kendal, ada sebuah rumah sederhana yang tetap berdiri di tengah genangan air rob.
Rumah itu merupakan milik Siti Rokhanah (64), seorang janda warga RT 5 RW 1, Kelurahan Mbalok, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal.
Dibutuhkan perjuangan ekstra untuk sampai ke rumah Siti Rokhanah, yang tepat berada di tengah-tengah lahan yang sepenuhnya tergenang air rob.
Baca juga: Banjir Rob Mengganas di Pati, 436 Hektare Tambak Terendam dan Kerugian Ditaksir Capai Rp50 Miliar
Dari total jarak 2 kilometer, hanya 1 kilometer jalan yang bisa dilalui menggunakan sepeda motor.
Selebihnya, harus melewati jalan berlumpur yang tak lagi terlihat fisiknya, ditambah genangan air pasang yang mengancam keselamatan.
Sesekali, harus menggunakan tongkat untuk menemukan badan jalan yang sepenuhnya telah tenggelam.
Jika tak waspada dan salah langkah, kaki bisa terpeleset ke tambak sedalam 1 meter. Namun bagi Siti Rokhanah, aktivitas itu sudah ia jalani sejak 2006 silam.
Bersama putranya, Sisdri Atmoko (37), mereka tetap bertahan tinggal di lokasi yang setiap hari dikelilingi air rob.
Rokhanah bercerita, sewaktu pertama kali tinggal di RT 5 RW 1, Kelurahan Mbalok, tempatnya begitu sejuk.
Sepanjang jalan di kiri dan kanan, ditumbuhi tanaman dengan lahan pertanian yang cukup subur.
Tak hanya itu, warga juga masih banyak yang hidup di sana. Namun sejak tahun 2021, air rob mulai memasuki permukimannya. Di tahun-tahun setelahnya, ketinggian air semakin tinggi.
Banyak tetangganya satu per satu meninggalkan perkampungan dan membangun rumah baru yang terbebas dari rob. Tapi bagi Rokhanah yang terkendala ekonomi, dia tak bisa berbuat apa-apa.
Dia pun terpaksa setiap hari hidup dalam kepungan air rob yang terus naik setiap harinya.
"Kalau setiap hari, air yang masuk ke rumah paling tidak sekitar 10 cm. Rumah tidak pernah bebas dari air rob,” kata Rokhanah, Senin (15/6/2026).
Dia mengatakan, selama hidup dalam kepungan rob, dia hanya mengandalkan uluran tangan dari anaknya. Rumahnya pun tak ditinggikan, saban hari kakinya hanya dilindungi sepatu boot.
Saat air rob naik tinggi, tempat tidurnya juga ikut terendam. Dia pun mencari tempat lain di dalam rumah yang lebih tinggi untuk sedikit menyandarkan tubuhnya yang sudah semakin menua.
“Bulan Februari kemarin, datang angin kencang yang membuat dapur rumah roboh. Sekarang saya kalau memasak di ruang tamu,” sambungnya.
Anak Rokhanah, Sisdri Atmoko (37) tak pernah sekalipun mengizinkan ibunya keluar rumah demi keselamatan dengan akses jalan yang tak lagi terlihat.
Setiap hari, seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi sendiri oleh Sisdri. Ia berbelanja, mengambil kebutuhan sehari-hari, hingga memastikan ibunya tetap nyaman berada di rumah.
"Kebutuhan setiap hari, saya yang belanja. Ibu hanya memasak di rumah," kata Sisdri.
Di balik keterbatasan ekonomi dan kehidupan yang dikepung air rob, Sisdri menyimpan harapan besar.
Ia ingin memiliki rumah yang lebih layak, tidak jauh dari tempatnya bekerja, dan yang terpenting, terbebas dari genangan rob agar ibunya dapat menjalani hari tua dengan nyaman.
"Inginnya punya rumah di dekat-dekat sini yang tidak terkena rob. Ibu yang sudah tua bisa bergerak bebas, dan saya tidak jauh dari kerjaan," terangnya.
Bagi Sisdri, memiliki rumah yang aman bukan sekadar impian tentang tempat tinggal, melainkan wujud bakti kepada ibunya yang selama bertahun-tahun bertahan hidup di tengah kepungan rob dan keterisolasian.
Pria yang bekerja serabutan itu mengaku telah lama bercerai dengan istrinya. Kondisi tersebut justru membuatnya bisa lebih fokus merawat ibunya yang kini berusia 64 tahun.
"Saya kerja serabutan. Bisa lebih banyak mengawasi ibu," ujarnya.
Rencana Relokasi
Lurah Mbalok, Agus, mengatakan keluarga tersebut mengajukan permohonan agar dapat direlokasi dari rumahnya yang selama bertahun-tahun terdampak rob.
Pihaknya juga telah mengundang Siti Rokhanah dan putranya ke kantor kelurahan pada Jumat (12/6/2026) untuk membahas solusi tempat tinggal yang lebih aman.
"Keinginan mereka adalah direlokasi ke tempat yang lebih aman," kata Agus.
Agus menambahkan, pihaknya juga telah mengupayakan penyediaan lahan di wilayah kelurahan berupa tanah eks bengkok yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat tinggal baru.
Namun, pemanfaatan lahan tersebut harus mendapatkan izin dari pemerintah daerah melalui Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD).
Selain itu, pihak kelurahan juga telah mengajukan permohonan bantuan pembangunan rumah kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) melalui Kecamatan Kendal.
"Untuk rumah, kami sudah bersurat ke Baznas melalui Kecamatan Kendal pada Jumat pagi," ujarnya.
Agus menambahkan, Siti Rokhanah dan Sisdri Atmoko menyatakan kesediannya menempati lahan eks bengkok tersebut meski dikenakan biaya sewa.
Sebab, lahan tersebut merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten Kendal yang pengelolaannya berada di bawah bagian aset daerah.
"Ada sewa karena tanah itu milik Pemda dan ditangani bagian aset. Sewanya per tahun di bawah Rp100 ribu," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kendal, Nur Hasyim menerangkan, pihaknya sedang mengupayakan proses relokasi ke lahan yang terbebas dari rob.
"Nanti kalau sudah relokasi, kami akan lakukan intervensi. Tetapi nanti dari BPKAD terlebih dahulu prosesnya, karena menempati tanah dari Pemda," paparnya.
Beri Bantuan
Kapolres Kendal, AKBP Hendry Susanto Sianipar pun ikut terketuk hatinya usai melihat video rumah Rokhanah yang viral di media sosial.
Dengan menempuh jalan berlumpur dan genangan rob, Kapolres bersama jajarannya membawa bantuan berupa paket sembako, mi instan, serta 20 galon air bersih untuk meringankan beban hidup ibu dan anak tersebut.
"Bantuan ini kami berikan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara," kata AKBP Hendry Susanto Sianipar.
Menurutnya, kondisi yang dialami Siti dan Sisdri sangat memprihatinkan.
Apalagi, keduanya harus hidup terisolasi dan kesulitan mendapatkan akses air bersih akibat rumah mereka terus digenangi rob.
Baca juga: Rob Sayung: Dampak dari Kebijakan yang Tidak Tepat
Tak hanya memberikan bantuan, Kapolres Kendal juga berjanji akan mencarikan tempat tinggal yang lebih layak bagi keduanya.
Dia ingin Siti Rokhanah dapat menikmati masa tuanya di lingkungan yang aman dan terbebas dari genangan air.
“Secepatnya akan kami cari tempat yang lebih layak, bisa rusun, kontrakan atau fasilitas lainnya,” tandasnya. (ags)