Donald Trump: Selat Hormuz Dibuka Lagi 19 Juni, Pertamina Didesak Turunkan Harga Pertamax
Choirul Arifin June 16, 2026 06:37 PM

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Selat Hormuz yang menjadi jalur minyak vital dunia akan kembali dibuka sepenuhnya pada Jumat, 19 Juni 2026 setelah Washington dan Teheran mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Pembukaan kembali salah satu jalur energi terpenting di dunia ini akan menandai langkah besar menuju pengakhiran konflik mematikan dan gejolak ekonomi selama berbulan-bulan yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari.

“Kapal-kapal mulai bergerak, banyak yang bermuatan minyak, keluar dari Selat Hormuz,” kata Trump seraya mengatakan, AS tidak akan membutuhkan banyak bantuan untuk menjaga alur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka.

Pengumuman Trump tersebut memicu reli besar di pasar saham global dan saham di Dow di Wall Street mencapai rekor tertinggi, sementara harga minyak mentah anjlok hampir lima persen.

Media Iran melaporkan pada malam 15 Juni bahwa tiga kapal tanker minyak dan dua kapal kargo bermuatan telah melewati wilayah perairan yang sebelumnya diblokade oleh angkatan laut AS.

Iran telah memblokade selat tersebut sejak awal perang, menyebabkan harga minyak melonjak dan meningkatkan kekhawatiran akan guncangan inflasi yang berkepanjangan. Amerika Serikat kemudian memblokir pengiriman ke dan dari pelabuhan Iran.

AS, Iran, dan mediator Pakistan mengatakan perjanjian perdamaian AS dengan Iran akan ditandatangani pada Jumat, 19 Juni di Swiss.

Sekutu AS di Eropa Masih Skeptis

Di sela-sela penyelenggaraan KTT Kelompok Tujuh (G7) di mana Iran akan menjadi topik pembicaraan di sesi makan malam, tergambar jelas bahwa sekutu-sekutu AS di Eropa tidak menunjukkan sikap  optimisme mereka atas masa depan Selat Hormuz.

Mereka tidak sependapat bahwa perdagangan dapat dilanjutkan pada akhir pekan, seperti yang dijanjikan Trump.

Sekutu AS di Eropa mempertanyakan, hal apa sebenarnya yang disepakati kedua pihak sebelum sekutu AS di Eropa ikut bergabung pada misi pembersihan ranjau dan patroli di Selat Hormuz.

Baca juga: Selat Hormuz Dibuka, Anggota DPR Desak Pertamina Turunkan Harga Pertamax

Menurut seorang pejabat G7 yang tak bersedia disebut namanya, ada kesulitan serius dalam menemukan posisi bersama di antara kelompok G7 soal bagaimana strategi menangani situasi di Iran.

Sedikit yang mengharapkan adanya komunike bersama, hal yang terbukti sulit dicapai selama era Trump.

Bahkan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, yang selama ini cerdik menghindari provokasi terhadap Trump, mengatakan, kontribusi negaranya bergantung pada penghentian permusuhan di Lebanon. Selama beberapa hari terakhir ini militer Israel telah terus menerus melakukan serangan di Lebanon.

Muncul Desakan Pertamina Turunkan Harga Pertamax

Dicapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran dalam perang di Timur Tengah yang akan diikuti dengan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran memunculkan desakan di Indonesia agar Pemerintah dan Pertamina menurunkan kembali harga BBM nonsubsidi Pertamax.

Desakan itu antara lain disampaikan =anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam.

Harga minyak dunia turun hampir 5 persen pada perdagangan Senin (15/6/2026) setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sudah ada kesepakatan menghentikan perang antara AS dengan Iran dan Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz.

Baca juga: Selat Hormuz Memanas: Iran Blokir Kapal Tanker, Ledakan Terdengar di Bandar Abbas dan Sirik

"Ketika perang memanas, rakyat diminta memahami kenaikan harga BBM karena harga minyak dunia melonjak. Maka ketika perang mereda, Selat Hormuz kembali aman, dan harga minyak dunia turun, rakyat juga menuntut hal yang sama, manfaatnya harus segera dirasakan," kata Mufti kepada wartawan, Senin (15/6/2026).

Mufti menyatakan, upaya menurunkan harga BBM kerap terlambat dieksekusi sementara kenaikan harga cepat direalisasikan ketika harga minyak mentah dunia sedang naik.

"Jangan sampai logikanya hanya berlaku satu arah. Saat harga minyak naik, harga BBM cepat menyesuaikan. Tetapi saat harga minyak turun, yang muncul justru berbagai alasan untuk menunda penyesuaian," ujarnya. 

Mufti mengingatkan, pergerakan harga BBM berdampak luas di masyarakat terutama kelas menengah dan bawah. "Setiap kenaikan BBM selalu berdampak ke tarif transportasi, biaya logistik, harga pangan, biaya produksi UMKM, hingga daya beli masyarakat," ungkapnya. 

Mufti mendesak pemerintah dan Pertamina menurunkan lagi harga BBM nonsubsidi.

"Jika memang ruang penurunan sudah tersedia, jangan ditunda. Rakyat tidak boleh terus menjadi pihak yang pertama menanggung dampak gejolak global, tetapi terakhir menikmati manfaat ketika keadaan membaik," imbuhnya. 

Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi di Indonesia saat ini masih melambung tinggi. Harga Pertamax dibanderol Rp 16.250 per liter, naik drastis Rp 3.950 dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Saat ini harga BBM Ron 92 (Pertamax) naik menjadi Rp16.250 per liter dan harga Pertamax Green naik Rp4.100 per liter menjadi Rp 17.000.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.