Bukan Sekadar Bubur, Jenang Manggul Jadi Perekat Kebersamaan Warga Lereng Merapi Saat Mapak Suran
Delta Lidina June 16, 2026 06:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Jenang manggul menjadi sajian utama dalam Mapak Suran #6 – Kirab Pager Banyu di Desa Sidorejo, Kemalang, Klaten, Minggu (14/6/2026), yang mempertemukan warga lintas usia dalam tradisi menyambut Bulan Suro.

Di tengah suasana sejuk lereng Gunung Merapi, warga bergantian menyendok bubur putih dari loyang-loyang besar. 

Deretan piring berwarna merah muda berisi jenang manggul memenuhi nampan yang ada di bawah tenda kawasan Kampung Siluman, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten.

Bubur kemudian disajikan ke piring kecil dan diberi taburan serundeng kelapa serta ayam sebelum dibagikan kepada para peserta kegiatan.

Makanan tradisional itu menjadi sajian utama dalam puncak kegiatan Mapak Suran #6 – Kirab Pager Banyu yang digelar Kelompok Tani Hutan (KTH) Deles Indah untuk menyambut datangnya Bulan Suro.

KIRAB PAGER BANYU - Jenang manggul sebagai hidangan istimewa Mapak Suran #6 di Kampung Siluman, Desa Sidorejo, Kemalang, Klaten, Minggu (14/6/2026).
KIRAB PAGER BANYU - Jenang manggul sebagai hidangan istimewa Mapak Suran #6 di Kampung Siluman, Desa Sidorejo, Kemalang, Klaten, Minggu (14/6/2026). (TribunSolo/Ibnu Dwi Tamtomo)

Sebelum prosesi makan bersama, tampak belasan perempuan berjalan beriringan membawa wadah berisi jenang di atas kepala. Mereka menyusuri jalan desa menuju lokasi acara, diikuti rombongan warga yang turut mengikuti kirab budaya.

Baca juga: Kampung Siluman Segera Dibuka, Bupati Hamenang: Kirab Pager Banyu Jadi Wisata Baru Lereng Merapi

Ketua RT 16 Desa Sidorejo sekaligus Ketua Panitia Mapak Suran #6 – Kirab Pager Banyu Djenarto, mengatakan jenang manggul dipilih karena memiliki makna kebersamaan yang kuat.

"Kalau jenang itu makanan yang semua umur bisa menikmati dari bayi sampai lansia bisa menikmati. Artinya ketika kita berkumpul lintas umur kita bisa saling menikmati," katanya.

Menurut Djenarto, tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan makanan khas warga, tetapi juga menjadi simbol harapan keselamatan bagi masyarakat lereng Merapi.

"Sedangkan manggulnya itu artinya adalah benteng, benteng supaya kita terhindar dari bencana bahaya," ujarnya.

Ia menjelaskan, jenang manggul dibuat dari bubur beras dengan cita rasa gurih yang dipadukan serundeng kelapa dan ayam.

"Jenang manggul itu bubur, bubur dari beras. Itu gurih kemudian diberi topping kelapa sama ayam, serundeng," jelasnya.

Tradisi memasak jenang manggul, lanjut dia, rutin dilakukan setiap tahun menjelang Bulan Suro.

"Iya," katanya saat ditanya mengenai keberlangsungan tradisi tersebut.

Djenarto berharap tradisi makan bersama itu terus menjadi ruang perjumpaan warga dari berbagai kelompok usia.

"Harapan dengan bubur ini tadi, dari anak-anak sampai orang tua bisa menikmati bersama," tuturnya.

Selain kirab dan makan jenang manggul, kegiatan Mapak Suran #6 juga menghadirkan sarasehan bertajuk "Kirab Pager Banyu", ritual budaya, penanaman pohon, serta pentas seni dengan tema besar "Merawat Tradisi, Menjaga Alam, Mengalirkan Kehidupan". (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.