Komponen Impor Mahal, Harga Kendaraan Diprediksi Ikut Terkerek Buntut Penguatan Nilai Tukar Dolar 
Kemal Setia Permana June 16, 2026 06:47 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pakar industri otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, menilai menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah diperkirakan akan berdampak pada harga kendaraan di pasar domestik. 

Agus mengatakan bahwa Industri otomotif nasional masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap komponen dan bahan baku impor. 

Kondisi tersebut membuat setiap pelemahan rupiah langsung berpengaruh terhadap biaya produksi kendaraan.

“Biaya produksi akan melonjak karena komponen dan bahan baku otomotif masih memiliki kandungan impor yang tinggi,” ujarnya, Selasa (16/6/2026). 

Baca juga: JK Bicara Kondisi Indonesia yang Dipenuhi Gelombang Protes Mahasiswa, Namun Diam Soal MBG

Menurut Agus, kenaikan harga komponen impor tidak hanya meningkatkan biaya produksi di lini perakitan, tetapi juga berpotensi mengurangi margin keuntungan perusahaan. 

"Beban tambahan akibat imported inflation membuat pelaku industri harus mencari cara untuk menjaga keberlanjutan usaha di tengah gejolak nilai tukar."

Ia menyebut dampak pelemahan rupiah akan paling terasa pada kendaraan yang masih menggunakan banyak komponen impor. 

Agus memperkirakan tekanan terhadap industri otomotif akan semakin terasa dalam dua hingga tiga bulan mendatang. 

"Selain menghadapi kenaikan biaya, produsen juga harus berhadapan dengan ketidakpastian dalam menyusun target produksi, menentukan harga jual, hingga merancang program pemasaran," katanya. 

Baca juga: Dongkrak Sektor Pangan hingga Maritim, Bupati Indramayu Inisiatif Jemput Bola ke Bappenas

Meski demikian, pelaku industri yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) disebut masih optimistis. 

Dia menambahkan, bila penguatan dolar terhadap rupiah bersifat sementara, sehingga dampaknya terhadap industri otomotif nasional tidak akan berlangsung dalam jangka panjang.

“Pelaku industri menilai kondisi ini tidak akan berlangsung lama sehingga tidak berdampak buruk dalam jangka panjang,” kata Agus. (*)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.