Fakta di Balik Proyek Tol Jambi-Rengat, 5 Tahun Warga Pijoan Ragu Perbaiki Rumah
asto s June 16, 2026 07:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Rencana pembangunan Jalan Tol Jambi-Rengat yang melintasi wilayah Kelurahan Pijoan, Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro Jambi, menyisakan kegelisahan di tengah masyarakat. 

Satu di antara titik paling terdampak bagian dari ruas tol Trans Sumatera itu, berada di RT 23, Pijoan. Puluhan rumah warga terancam tergusur akibat pembebasan lahan proyek strategis nasional tersebut.

Dari total sekitar 40 unit rumah yang berada di RT 23 Kelurahan Pijoan, sebagian besar masuk dalam zona terdampak pembangunan tol. 

Bahkan berdasarkan informasi terakhir yang diterima warga, hanya sekitar lima rumah yang berpotensi tersisa jika terjadi penambahan lebar jalur proyek. Kondisi ini membuat satu RT nyaris hilang dan seluruh warga harus bersiap untuk relokasi.

Sejak proses sosialisasi dimulai, warga RT 23 mengaku mendukung pembangunan infrastruktur nasional. 

Namun, seiring berjalannya waktu, persoalan mulai muncul, terutama terkait penilaian harga ganti rugi lahan dan bangunan. 

Perbedaan nilai kompensasi yang dianggap jauh dari harapan memicu tanda tanya besar di kalangan warga.

Ketidakpastian waktu pembayaran pembebasan lahan juga menjadi persoalan serius. 

Sejak proses pendataan dan penilaian dimulai pada 2021, hingga 2026 belum ada kepastian kapan pembayaran dilakukan. 

Akibatnya, warga hidup dalam kondisi serba ragu, tak berani merenovasi rumah maupun mengelola kebun karena khawatir sewaktu-waktu harus pindah.

Bagaiaman kronologi awal masuknya proyek tol, respons warga, persoalan penilaian ganti rugi, hingga harapan masyarakat terhadap pemerintah? 

Berikut petikan wawancara Halim, Ketua RT 23 Kelurahan Pijoan, bersama Reporter Tribun Jambi, Rifani Hali,:

Tribun Jambi: Di lokasi inilah rencananya akan dibangun flyover jalan Tol Jambi-Rengat yang menghubungkan pintu tol Pijoan hingga ke Rengat, Provinsi Riau. Bagaimana awal mula warga mengetahui wilayah ini terdampak proyek tol?

Halim: Kalau untuk awal pembangunan jalan tol ini, pertama kali kami diinformasikan dari pihak kelurahan. 

Waktu itu disampaikan bahwa Kelurahan Pijoan akan terdampak jalan tol, dan lokasi yang persis terkena itu adalah RT 23.

Tribun Jambi: Setelah informasi awal tersebut, apa yang terjadi selanjutnya di lapangan, Pak?

Halim: Yang pertama datang itu orang dari Jakarta, mereka membawa drone dan menerbangkannya di atas kawasan ini. 

Kami sempat bertanya, untuk apa drone itu. Mereka bilang untuk keperluan jalan tol. 

Awalnya, respons warga cukup senang karena merasa bisa mendukung pembangunan pemerintah.

Tribun Jambi: Apakah sejak awal warga langsung sepakat dengan rencana tersebut?

Halim: Kalau di awal-awal, warga sepakat dan setuju. 

Tapi permasalahan mulai timbul ketika sudah masuk tahap penilaian, yaitu penilaian dari KJPP. 

Dari situ, warga mulai merasa ada nilai yang kurang dan tidak sesuai.

Tribun Jambi: Seberapa besar dampak proyek ini terhadap rumah warga di RT 23?

Halim: Kalau di RT kami, hampir seluruh rumah terdampak. Dari sekitar 40-an rumah, yang tersisa itu hanya sekitar 8 rumah. 

Informasi terakhir yang kami terima, katanya bakal ada penambahan sekitar 5 meter ke kanan. 

Kalau itu benar, maka satu RT ini bisa habis semua, tinggal sekitar 5 rumah saja, bahkan bisa hilang satu RT.

Tribun Jambi: Bagaimana kondisi sosial warga yang terdampak di wilayah ini?

Halim: Kebanyakan warga di sini sudah lama tinggal, bahkan lahir dan besar di sini. 

Orang tua kami dulu merantau dan membeli tanah di sini. Suku di sini juga beragam, ada Jawa, Sunda, Padang, tapi mayoritas memang dari Jawa Barat.

Tribun Jambi:  Soal nilai ganti rugi, apa yang menjadi keberatan utama warga?

Halim: Yang kami pertanyakan itu perbedaan harga. 

Sama-sama satu kelurahan, sama-sama di pinggir jalan. Tapi yang di sekitar pintu tol, informasinya bisa sampai 62 juta, sementara kami di sini hanya sekitar Rp29,7 juta sampai Rp30 jutaan. 

Selisihnya jauh sekali, lebih dari separuh.

Tribun Jambi:  Perbedaan harga itu untuk apa saja, Pak?

Halim: Untuk tanah dan bangunan. Memang ada kategori jarak dari jalan, beda surat, beda harga. 

Tapi kalau satu hamparan dan satu surat, seharusnya dari depan sampai ke belakang harganya sama. Itu yang kami sayangkan.

Tribun Jambi:  Kalau untuk rumah pribadi Bapak sendiri, bagaimana hasil penilaiannya?

Halim: Kalau rumah saya, luasannya sekitar 2,3 meteran. Ukuran rumah sekitar 7 kali 10, ditambah garasi, dan panjang ke belakang sekitar 14 meter sampai dapur. 

Kalau hitungan harga sekarang, menurut kami nilainya sekitar Rp500 jutaan. 

Tapi hasil dari KJPP itu sekitar Rp300 sampai Rp380 jutaan, hampir Rp400 juta. Itu sudah termasuk tanah, bangunan, dan tanaman.

Tribun Jambi: Apakah ada kepastian waktu pembayaran pembebasan lahan?

Halim: Itu yang kami tunggu-tunggu. Pernah waktu Safari Ramadan tahun 2021 di Masjid Al-Nusadah, Pak Gubernur menyampaikan bahwa pembebasan lahan dilakukan tahun ini, tapi bulan pastinya belum jelas. 
Informasi lain, tahun 2027 baru mulai pengerjaan.

Tribun Jambi:  Bagaimana kondisi warga selama menunggu kepastian tersebut?

Halim: Kami jadi serba ragu. Rumah tidak berani direnovasi, kebun sawit juga ragu mau dipupuk atau dibersihkan. 

Takutnya, ketika sudah diperbaiki, tahu-tahu pembayaran dilakukan dan kami harus pindah. 

Dari 2021 sampai sekarang 2026, sudah lima tahun belum ada pembayaran.

Tribun Jambi: Apa harapan utama warga RT 23 terkait proyek jalan tol ini?

Halim: Kami ingin kepastian waktu dan kejelasan. Selain itu, kami berharap ada penyesuaian harga. 

Jangan lagi pakai penilaian lama tahun 2021. 

Sekarang harga bahan bangunan, upah tukang, besi, semua sudah naik. 

Kalau memang dibayar tahun 2026, kami berharap penilaiannya juga disesuaikan dengan harga sekarang.

Tribun Jambi: Terakhir, bagaimana perasaan warga menghadapi situasi ini?

Halim: Banyak warga merasa terkatung-katung. Mau memperbaiki rumah takut sia-sia. 

Banyak rumah bocor tapi tidak berani diperbaiki. Kami hanya ingin kejelasan dan keadilan, supaya bisa melanjutkan hidup dengan tenang. (Tribun Jambi/Rifani Halim)

Baca juga: Kabarnya Gaji ke-13 ASN di Sarolangun Jambi Belum Cair, Berapa Besarannya?

Baca juga: Jambi Top 5, Kecelakaan Maut Bulan Juni Telan Korban Jiwa

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.