Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Curhat kegelisahan seorang pesinden senior di Kabupaten Kepahiang mencari anak muda untuk mewariskan budaya menyinden ketika dirinya tak lagi berada di atas panggung.
Iin Ratnasari (53), pesinden yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk seni karawitan. Perempuan kelahiran 1973 itu mengenang kecintaannya terhadap dunia sinden yang tumbuh sejak masih kanak-kanak.
"Saya belajar nyinden karena sering ikut ayah manggung kesenian Sunda. Dari situ saya melihat langsung dan mendengar suara gamelan, jadi bisa nyinden," tutur Iin.
Bakat yang tumbuh sejak kecil itu kemudian terus diasahnya sehingga pada saat masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, Iin untuk pertama kalinya tampil di atas panggung dalam sebuah pertunjukan kesenian di Kecamatan Pondok Kelapa pada 1982.
"Saat pertama kali manggung saya hanya bisa membawakan enam lagu," kenangnya sambil tersenyum.
Berjalannya waktu Iin menjelma menjadi pesinden berpengalaman dan dikenal luas di kalangan pelaku seni tradisional karena mampu membawakan berbagai lagu karawitan dengan tangga nada slendro maupun pelog, dua sistem nada yang menjadi ciri khas musik gamelan Jawa dan Sunda.
Meski demikian, menjadi seorang pesinden bukanlah perkara mudah. Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menjaga intonasi dan memahami tangga nada yang tepat.
"Kesulitan dari menyinden ini ada pada intonasi dan tangga nadanya. Kalau menghafal lagu tidak terlalu sulit bagi saya," ujar Iin.
Namun di balik pengalaman dan kemahirannya, Iin menyimpan kegelisahan yang mendalam, melihat minat generasi muda terhadap seni karawitan dan dunia sinden semakin berkurang.
Kondisi itu membuatnya khawatir budaya yang telah diwariskan turun-temurun akan perlahan menghilang.
Karena itu, perempuan yang telah puluhan tahun setia menjaga suara gamelan tersebut berharap ada anak-anak muda yang mau belajar dan mencintai seni tradisional.
"Keinginan saya ke depan ingin mengajak anak-anak muda ada yang melanjutkan, meneruskan, dan menggantikan saya menyinden. Jangan sampai hilang," kata Iin dengan penuh harap.
Bagi Iin, menjadi pesinden bukan sekadar menyanyikan lagu-lagu tradisional.
Di dalam setiap tembang terdapat sejarah, nilai budaya, dan identitas yang harus dijaga. Ia percaya, selama masih ada generasi muda yang bersedia belajar, suara gamelan akan tetap bergema dan warisan leluhur tidak akan tenggelam oleh perkembangan zaman.
Kini, di setiap kesempatan tampil, Iin bukan hanya menyanyikan tembang karawitan. Ia juga sedang menitipkan harapan, mencari penerus yang kelak akan menjaga agar suara sinden tetap hidup di bumi Kepahiang.