TRIBUNNEWSMAKER.COM - Suasana berbeda terlihat di kawasan wisata Watu Prau, Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Minggu (14/6/2026).
Sejak pagi hari, ratusan pelari dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara memadati lokasi untuk mengikuti ajang trail running Run To Geopark Klaten Volume 2.
Tak hanya menawarkan tantangan medan yang ekstrem, event tahunan ini juga menyuguhkan pemandangan unik dan penuh warna dari para pesertanya.
Jika biasanya pelari tampil dengan perlengkapan olahraga lengkap, kali ini sejumlah peserta justru hadir dengan kostum yang tak biasa.
Beberapa peserta mengenakan pakaian unik dan mencuri perhatian peserta lain maupun penonton di sepanjang lintasan.
Yang paling mencolok adalah kehadiran peserta perempuan yang tetap percaya diri berlari menggunakan kebaya.
Penampilannya langsung menjadi pusat perhatian dan berkali-kali diabadikan oleh peserta lainnya.
Meski mengenakan pakaian tradisional, semangat peserta tersebut tak kalah dengan para pelari lain yang mengenakan perlengkapan trail running profesional.
Keunikan itu membuat suasana lomba terasa lebih meriah dan menghibur.
Tak hanya orang dewasa, event ini juga diikuti peserta dari berbagai kalangan usia.
Mulai dari pria dan wanita dewasa, komunitas pelari, hingga anak-anak tampak ikut ambil bagian dalam kemeriahan acara.
Kehadiran peserta lintas usia tersebut menunjukkan bahwa Run To Geopark Klaten bukan sekadar ajang olahraga, tetapi juga menjadi ruang berkumpulnya masyarakat untuk menikmati keindahan alam dan semangat kebersamaan.
Tahun ini, panitia kembali menjadikan kawasan wisata Watu Prau sebagai titik start sekaligus garis finis perlombaan.
Baca juga: Sosok Mujazin Investor Dapur MBG yang Marah-marah di Kantor BGN, Mengaku Kena Tipu Rp 218 M
Ratusan pelari kemudian diajak menjelajahi kawasan Geopark Klaten melalui dua kategori yang disediakan, yakni 8 kilometer dan 15 kilometer.
Namun jangan salah, meskipun jaraknya terlihat tidak terlalu panjang, medan yang harus dilalui para peserta terbilang cukup berat.
Sejak beberapa meter setelah start, peserta langsung dihadapkan pada tanjakan terjal dengan tingkat kemiringan yang mencapai sekitar 60 derajat.
Lintasan yang menanjak tajam membuat para pelari harus mengeluarkan tenaga ekstra sejak awal perlombaan.
Tantangan semakin bertambah setelah hujan mengguyur wilayah Klaten selama dua hari berturut-turut pada Jumat dan Sabtu (12-13/6/2026).
Akibatnya, sejumlah jalur menjadi lebih licin dan membutuhkan kehati-hatian lebih saat dilalui.
Para peserta harus melewati berbagai karakter medan khas kawasan perbukitan Bayat.
Mulai dari hamparan rerumputan, jalan setapak, tanah keras khas pegunungan, hingga jalur berbatu yang menguji keseimbangan dan ketahanan fisik.
Meski demikian, kondisi tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelari trail.
Rasa lelah selama perjalanan seakan terbayar lunas ketika para peserta berhasil mencapai titik-titik tertinggi lintasan.
Salah satu lokasi favorit adalah kawasan Bukit Gunung Pendul yang menyuguhkan panorama alam menawan dari ketinggian.
Banyak peserta memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto sambil menikmati pemandangan hijau yang membentang luas.
Baca juga: Mengenang Olivia Dewi, Model Meninggal Kecelakaan Nissan Juke, Ternyata Kakak Aktor, Ziarah ke Makam
Selain Bukit Gunung Pendul, trek batu di kawasan Kawah Putih juga menjadi pengalaman yang berkesan bagi para peserta, terutama mereka yang datang dari luar Klaten.
Karakter medan yang unik serta lanskap geologi khas kawasan Geopark memberikan sensasi berbeda dibandingkan ajang lari pada umumnya.
Perpaduan antara olahraga, wisata alam, tantangan medan ekstrem, dan kreativitas peserta dalam berbusana membuat Run To Geopark Klaten 2026 berlangsung meriah.
Tak heran jika event ini kembali menjadi salah satu agenda olahraga wisata yang paling dinantikan para pencinta trail running di Jawa Tengah.
(Tribunnewsmaker.com/Candra)