TRIBUNBANYUMAS.COM, SLAWI — Ratusan warga saling berdesakan demi berebut (ngerayah) tumpeng nasi kuning raksasa setinggi hampir 2 meter dan aneka hasil bumi dalam tradisi Grebek Tumpeng Suro "Patra Manggalla" di Desa Batuagung, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Selasa (16/6/2026).
Tradisi tahunan yang digelar sebagai bentuk tradisi sedekah bumi ini ludes tak tersisa dalam hitungan detik akibat antusiasme luar biasa masyarakat yang berburu berkah.
Saanah, salah satu warga setempat, bahkan sengaja membawa wadah sendiri dari rumah dan nekat merangsek ke barisan paling depan agar bisa mengantongi nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya.
"Ini sudah jadi agenda rutin dan ditunggu-tunggu warga. Ya sebagai wujud rasa syukur terhadap Allah Swt dan dengan berebut ini ngalap berkah. Nasi kuningnya langsung saya makan sambil mendengarkan ceramah," ujar Saanah dengan penuh semangat usai berhasil membawa pulang seporsi besar nasi kuning pelengkap kentang balado dan ayam.
Arak-Arakan Hasil Bumi ke Makam Leluhur
Kemeriahan ritual adat di Desa Batuagung Tegal ini dimulai sejak pagi hari dengan arak-arakan tumpeng jumbo serta gunungan hasil bumi hortikultura.
Beragam sayuran segar hasil panen lokal—seperti buncis, kacang panjang, tomat, cabai mengkreng merah, timun, terong ungu, hingga pisang—diarak keliling desa oleh warga.
Baca juga: Kerap Picu Kecelakaan Fatal, Warga Blora Desak Pemprov Jateng Segera Perbaiki Jalan Kunduran-Ngawen
Rombongan sempat berhenti di halaman Balai Desa Batuagung untuk disambut oleh jajaran pemerintah desa dan pejabat terkait guna melangsungkan doa bersama.
Setelah itu, arak-arakan berlanjut menuju kompleks makam eyang Patra Manggalla, yang merupakan sosok sesepuh sekaligus pendiri desa setempat. Di area pemakaman inilah ritual perebutan tumpeng sakral dimulai setelah aba-aba resmi diberikan.
Kepala Desa Batuagung, Bambang Purnomo, menjelaskan bahwa tumpeng megah setinggi dua meter tersebut merupakan simbol kebersamaan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Seluruh materi tumpeng dan gunungan sayur murni berasal dari swadaya masyarakat yang berkolaborasi dengan pemerintah desa.
Wujud Syukur Agraris dan Rangkaian Ritual Adat
Mayoritas penduduk Desa Batuagung berprofesi sebagai petani tanaman pangan, buah-buahan, dan tanaman hortikultura. Oleh karena itu, ritual ini menjadi momentum krusial bagi warga lokal untuk menunjukkan rasa terima kasih atas kesuburan tanah yang mereka kelola.
Baca juga: Iran-AS Sepakat Damai, Israel Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon
"Kegiatan ini sebagai wujud syukur dan terima kasih kepada Allah Swt, dan terima kasih kami kepada bumi atas nikmat yang diberikan. Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat Desa Batuagung selalu diberi keselamatan, kesehatan, kesejahteraan, dan barokah," tutur Bambang.
Grebek tumpeng ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian panjang acara adat Suroan di desa tersebut. Sehari sebelumnya, pihak desa telah melaksanakan ritual pemotongan kambing dan doa bersama.
Setelah puncak perebutan tumpeng dan acara pengajian umum selesai pada siang hari, perayaan estetik ini dijadwalkan akan ditutup dengan aksi pawai obor massal oleh warga pada malam harinya.(dta)