TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Pelaksanaan Ruwat Bumi Guci, Kabupaten Tegal tahun ini diwarnai satu orang mengalami kesurupan dan menyampaikan beberapa hal menggunakan bahasa jawa.
Warga yang kesurupan merupakan perempuan yang kebetulan ada di lokasi Pancuran 13 menyaksikan prosesi memandikan wedus kendit, pada Selasa (16/6/2026).
Tepat setelah prosesi memandikan wedus kendit selesai, perempuan ini langsung berbicara lantang menggunakan bahasa jawa.
Baca juga: Bobol Rumah demi Modal Nikah, Jamil Pura-Pura Kesurupan saat Ditangkap
Kejadian tersebut langsung menyita perhatian warga dan pengunjung yang berada di lokasi.
Beberapa orang berada di sekitar perempuan yang sedang kesurupan tersebut untuk berjaga-jaga karena kondisi di lokasi yang licin dan bebatuan.
Perempuan itu menyampaikan kalimat sugeng rahayu yang secara harfiah dalam bahasa Jawa, sugeng berarti selamat, dan rahayu berarti selamat, sejahtera, aman, serta terhindar dari mara bahaya.
Kemudian kalimat selanjutnya mendoakan kondisi air di kaki Gunung Slamet khususnya Guci.
Kemudian meminta agar tidak lupa slametan milik gusti pangeran.
Semuanya yang ada di Guci diberi keselamatan, keberkahan semuanya yang diminta.
Dengan suara masih nyaring, ekspresi dan gelagat tak biasa, perempuan yang kesurupan juga menyampaikan pesan kepada semuanya agar menjaga baik-baik kawasan kaki Gunung Slamet.
Mendengar yang diucapkan, warga dan pengunjung di lokasi kompak menjawab dengan mengiyakan apa yang disampaikan mengenai menjaga kaki Gunung Slamet
Terpisah, Kepala Disporapar Kabupaten Tegal Akhmad Uwes Qoroni mengungkapkan, tahun ini agenda Ruwat Bumi Guci kembali digelar dengan lebih meriah.
Selama enam hari penuh, mulai 12 hingga 17 Juni 2026, kawasan wisata pemandian air panas Guci menjadi panggung pertemuan antara tradisi, spiritualitas, dan pariwisata.
Bagi masyarakat setempat, ruwat bumi bukan hanya perayaan budaya.
Tradisi yang digelar setiap bulan Muharram atau Suro itu merupakan ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil bumi, keberkahan sumber air panas alami, serta doa bersama agar masyarakat dan wisatawan senantiasa diberi keselamatan.
Agenda pembuka berupa resik bumi, yakni kegiatan membersihkan sungai dan lingkungan sekitar kawasan wisata Guci.
Ratusan warga, pelaku wisata, hingga komunitas pecinta lingkungan turun langsung memunguti sampah dan membersihkan aliran sungai.
Hari berikutnya, semangat menjaga alam berlanjut melalui kegiatan nandur kekayon atau penanaman pohon.
Bibit-bibit tanaman ditanam di sejumlah titik kawasan wisata sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem sekaligus memperkuat kawasan hijau di sekitar lereng Gunung Slamet.
Di sela agenda pelestarian lingkungan, nuansa religius dan budaya juga mengisi rangkaian acara.
Festival hadroh yang diikuti sekitar 30 kelompok dari berbagai wilayah Kabupaten Tegal menggema di kawasan wisata.
Agenda selanjutnya, warga ziarah ke makam Mbah Klitik dan para sesepuh yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah kawasan Guci.
Setelah itu, masyarakat mengikuti istigasah di Dukuh Pekandangan, Desa Rembul, dan Desa Guci yang dipadukan dengan prosesi nyiwer atau larung sesaji.
Prosesi ini menjadi salah satu inti ritual ruwat bumi.
Doa-doa dipanjatkan sebagai harapan agar masyarakat terhindar dari bencana, diberi kesehatan, dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana semakin khidmat ketika upacara adat penyembelihan kambing kendit digelar di Gunung Kelir.
Hewan tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
"Tradisi yang diwariskan turun-temurun itu menjadi bukti kuatnya nilai gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Guci, Kabupaten Tegal," ungkap Uwes, pada Tribunjateng.com.
Ruwat Bumi Guci tidak hanya menyuguhkan ritual sakral, kemeriahan juga hadir melalui Kirab Gunungan Hasil Bumi yang selalu menjadi magnet wisatawan.
Gunungan berisi hasil pertanian dan perkebunan warga diarak melintasi dua rute berbeda.
Baca juga: Tampang Jamil, Pinter Akting Kesurupan saat Ditangkap Polisi Usai Nyolong Laptop Demi Mahar Nikah
Dari Dukuh Pekajangan, Desa Rembul menuju area parkir UPTD Guci, serta dari Desa Guci menuju Kantor UPTD Guci.
Uwes menyebut, Ruwat Bumi Guci menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah daerah tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada kemampuannya menjaga tradisi dan identitas budaya.
"Momentum ini adalah kesempatan menyaksikan bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan alam dan leluhur, sekaligus menikmati pesona wisata pegunungan yang tetap hangat dalam balutan budaya," ujar Uwes. (dta)