Laskar Mataram Tak Bisa Bermain di Mandala Krida, Suporter PSIM Yogyakarta Gelar Topo Bisu 1 Suro
Yoseph Hary W June 17, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Suporter PSIM Yogyakarta menggelar aksi bertajuk Topo Bisu Mandala Krida pada malam 1 Suro, Selasa (16/6/2026) malam. 

Aksi tersebut menjadi bentuk aspirasi damai suporter terkait kondisi Stadion Mandala Krida yang hingga kini belum dapat digunakan sebagai kandang utama PSIM di kompetisi Super League musim 2026/2027.

Pantauan Tribun Jogja di lapangan, para suporter mulai berkumpul di Wisma PSIM sekitar pukul 20.00 WIB. Para peserta yang berasal dari berbagai elemen suporter kemudian menggelar doa bersama di sekretariat Brajamusti dan The Maident.

Sekitar pukul 21.40 WIB, para suporter menyanyikan lagu Indonesia Raya dan melantunkan kidung sebelum memulai rangkaian utama aksi. 

Berjalan kaki dalam keheningan

Selanjutnya, mereka menggelar Topo Bisu (ritual berjalan kaki dalam keheningan total tanpa berbicara sepatah kata pun) mengelilingi Stadion Mandala Krida sebanyak tujuh putaran atau pitulungan sebagai simbol permohonan pertolongan kepada Tuhan agar PSIM dapat kembali bermarkas di stadion tersebut.

Penggagas aksi, Andre Miliran, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keresahan suporter yang hingga kini belum dapat menyaksikan PSIM bermain di Mandala Krida.

”Malam hari ini saya mendengarkan keluhan adik-adik di mana kita sebagai suporter PSIM tidak bisa main di Mandala Krida karena ada kasus korupsi. Sehingga, kita sebagai pendukung merasakan pengin bisa kembali ke Mandala Krida, karena Mandala Krida adalah ‘nyawa’ kita dan Mandala Krida harus bisa kita jadikan home base. Karena di Mandala Krida kita dilahirkan dan dirawat, dibesarkan di Mandala Krida,” kata Andre.

Perjuangkan

Ia menegaskan para suporter akan terus memperjuangkan agar PSIM dapat kembali menggunakan Mandala Krida sebagai kandang.

“Kita harus tetap memperjuangkan agar PSIM bisa main di Mandala Krida. Makanya pada malam hari ini, saya menginisiasi teman-teman untuk mengadakan Topo Bisu. Karena Topo Bisu itu adalah diam, di mana diam bukan berarti kita kalah, tapi itulah doa tertinggi. Apalagi di malam bulan Suro ini, ini adalah momen yang paling tepat agar Yang Di Atas mendengarkan doa kita dan PSIM segera dapat main di Mandala Krida,” ujarnya.

Andre menjelaskan rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan kidung, kemudian dilanjutkan dengan mengelilingi stadion sebanyak tujuh kali.

“Rangkaian acaranya, sebelum acara, nanti ada menyanyikan lagu Indonesia Raya, ada kidung. Habis itu kita keliling monumen bola selama 7 (tujuh) kali, pitulungan, karena kita meminta pertolongan kepada Yang Di Atas agar segera bisa direalisasikan. Karena adik-adik sangat berharap sekali kita bisa kembali main di Mandala Krida,” katanya.

Menurut Andre, aksi tersebut terbuka untuk umum dan sekaligus menjadi sarana edukasi bahwa suporter dapat menyampaikan aspirasi dengan cara yang damai dan berbudaya.

“Harapannya ya agar adik-adik dan teman-teman semua, kita mengadakan ini secara budaya. Kita mengedukasi agar jangan sampai stigma sementara ini kan suporter itu kan negatif. Makanya saya menginisiasi agar kita sekarang harus mawas diri, apalagi di bulan ini yang bulan keramat buat orang Jawa,” ulasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.