TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Para mahasiswa memblokade Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Senin (15/6/2026) petang.
Hingga pukul 18.22, jalan tersebut masih lumpuh karena mahasiswa memilih bertahan di tengah jalan.
Pantauan Tribun di lapangan, mahasiswa membakar sejumlah poster kampanye dan bahan kampanye berupa boneka yang diikat di pintu gerbang DPRD Jateng.
Massa aksi menolak untuk membubarkan diri meskipun sudah mendapatkan teguran petugas dari mobil Raisa atau Mobil Pengurai Massa.
Mahasiswa tetap kukuh bertahan di jalan, bahkan mereka sempat tiduran.
Sebaliknya, polisi berusaha menerobos blokade jalan dengan menggunakan pengguna jalan lainnya.
Massa aksi yang bertahan berjumlah sekitar 30-an orang.
Mereka menolak dibubarkan karena sebagai rakyat, Jalan Pahlawan merupakan jalan mereka.
Hal itu ditanggapi oleh kepolisian dari mobil Raisa yang menyatakan aksi mahasiswa sudah tidak sah karena sudah lewat pukul 18.00.
Massa aksi lantas membentangkan spanduk "Negara Sedang Kritis Ayo Jangan Apatis".
Pengendara mobil sempat adu mulut dengan massa aksi.
Akan tetapi setelah mahasiswa menjelaskan soal aksi mereka, pengguna jalan tersebut bersedia untuk memutar balik kendaraan.
Namun, tiga menit kemudian disusul ada gelombang kedua pengguna jalan yang melintasi tersebut dikawal oleh kepolisian, terutama dari Bidang Profesi Pengamanan (Bidpropam) yang dipimpin langsung oleh Kombes Pol Saiful Anwar.
Selepas itu, massa mulai mundur, ada sejumlah yang bertahan ditarik minggir polisi.
Kelompok massa itu lalu tercerai berai selepas puluhan polisi berpakaian preman mengejar mahasiswa.
Sontak, mahasiswa lari tunggang langgang mengarah ke patung Diponegoro, Pleburan.
Mereka melarikan diri menuju ke kampus Undip, Pleburan.
Para petugas kepolisian terus mengejar mereka ke arah tersebut menggunakan satu unit mobil Raisa, belasan motor Brimob, dan puluhan anggota intelijen.
"Tidak ada yang ditangkap. Nihil yang ditangkap," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jateng, Kombes Pol Artanto.
Tuntutan Mahasiswa
Aliansi Mahasiswa Seluruh Semarang melakukan aksi demonstrasi di depan kantor DPRD Jateng dan Gubernur Jateng di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Senin (15/6/2026).
Sebelum bertemu di Jalan Pahlawan, aliansi mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang itu melakukan aksi di beberapa titik seperti di depan Kantor Pertamina Jateng-DIY dan Tugu Muda.
Selepas itu, massa aksi bertemu di Jalan Pleburan Undip untuk berkumpul bersama lalu melalukan longmarch ke Jalan Pahlawan, pada pukul 16.11.
Massa aksi yang mencapai ribuan orang tersebut terbagi di dua titik meliputi massa aksi dari Badan Eksekutif Mahasiswa Semarang Raya (BEM Sera) yang melakukan aksi dengan mobil komando (Mokom) depan kantor DPRD Jateng.
Sebaliknya, massa aksi dari HMI Semarang melakukan aksi di depan kantor Gubernur Jateng.
Kedua lokasi hanya berjarak selemparan batu atau sekitar 100 meter.
Aksi HMI Semarang diwarnai dengan aksi bakar ban persis di depan Gerbang Kantor Gubernur Jateng.
Kepulan asam hitam tampak membumbung yang arahnya masuk ke kantor Gubernur Jateng.
Aksi ini sempat memicu ketegangan dengan polisi yang berjaga di dalam pintu gerbang.
Pemicu ketegangan itu karena polisi berusaha mematikan api tersebut dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), pada pukul 16.38.
Sementara aksi BEM Sera di Gedung DPRD Jateng diwarnai dengan aksi orasi dan penempelan poster bernada protes di antaranya "Negara Sedang Terluka Jangan Lupa Bersuara" "Reformati", dan lainnya.
Ketua HMI Cabang Semarang, Muhammad Nabil Muallif menjelaskan, aksi ini setidaknya diikuti oleh 5 ribu mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Semarang.
"Aksi ini diikuti dari seluruh aliansi seluruh mahasiswa seluruh Semarang, baik UKM maupun internal kampus," bebernya.
Terkait tuntutan, ia membeberkan, aksi kali ini ingin menyuarakan soal buruknya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
"Prabowo harus evaluasi total MBG dan KDMP, kami rasa program itu merugikan dan turut melemahkan ekonomi," katanya.
Sementara itu, perwakilan mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Septia Linasari mengatakan, aksi kali ini para mahasiswa dari BEM Sera menyampaikan Panca Tuntutan Rakyat (Pantura).
Kelima tuntutan itu meliputi, turunkan harga BBM dan stabilkan nilai rupiah, kembalikan TNI dan Polri ke fungsi yang sesungguhnya, evaluasi total MBG dan Kopdes, kembalikan tanah kepada kepemilikan rakyat, serta hentikan budaya KKN di pemerintahan. (Iwan Arifianto/Rezanda Akbar D/Reza Gustav)