TRIBUNTRENDS.COM - Gelombang kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memunculkan polemik baru. Kali ini sorotan publik tertuju kepada Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon dari Fraksi Gerindra, Nana Kencanawati, setelah komentarnya di media sosial dinilai menghina fisik seorang ibu rumah tangga yang menyampaikan kritik terhadap program pemerintah tersebut.
Peristiwa itu memicu reaksi keras dari masyarakat luas. Tangkapan layar komentar Nana dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memantik perdebatan publik mengenai etika pejabat negara dalam menghadapi kritik warga.
Di tengah derasnya kecaman, Nana akhirnya menyampaikan permohonan maaf terbuka melalui akun media sosial pribadinya.
“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada ibu yang bersangkutan, keluarga, serta seluruh masyarakat atas komentar yang saya tuliskan di media sosial,” tulis Nana.
Ia mengakui komentarnya tidak pantas disampaikan oleh seorang pejabat publik dan telah melukai banyak pihak.
“Komentar tersebut tidak tepat, tidak mencerminkan sikap yang seharusnya saya tunjukkan dan telah menimbulkan ketidaknyamanan serta ketersinggungan bagi banyak pihak.
Baca juga: BGN Siap Coret 8 Juta Penerima MBG: Anak SMA yang Uang Sakunya Rp 100.000 Gak Usah Dikasih
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih bijak, berhati-hati dan menghormati setiap warga dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial,” tulisnya lagi.
Nana juga berjanji akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang publik, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Kontroversi itu bermula dari aksi demonstrasi gabungan Aliansi BEM Cirebon Raya di depan DPRD Kota Cirebon pada Senin (15/6/2026).
Dalam aksi tersebut, seorang ibu rumah tangga bernama Made Nok ikut menyuarakan keresahan masyarakat terkait kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah, khususnya Program Makan Bergizi Gratis.
Di tengah orasi massa aksi, Made Nok dengan lantang menyampaikan kritiknya.
“Saya mewakili emak emak ikut unjuk rasa, banyak anak yang tidak bisa meneruskan pendidikan, hentikan MBG. Kami hanya butuh pendidik murah, kesehatan murah, sandang pangan murah,” teriak Made Nok saat berorasi.
Video orasi tersebut kemudian diunggah oleh sejumlah akun media dan menyebar luas di media sosial. Namun di salah satu unggahan itulah muncul komentar dari akun Instagram @nanakencanawati yang kemudian memicu kemarahan publik.
“Lagian siapa yang mau ngasih lo makan? Udah GEMBROT!!!,” tulis akun tersebut.
Komentar itu akhirnya dihapus. Namun tangkapan layarnya sudah lebih dulu beredar luas dan menjadi bahan kecaman dari berbagai kalangan masyarakat.
Baca juga: Megawati Tantang Aparat Hukum Usai Bela Demo BEM UI: Saya Mau Ditangkap? Ayo Panggil Polisi ke Sini
Gelombang kritik tidak hanya datang dari netizen, tetapi juga organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil.
Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Cirebon, Ruslan Baidowi Kamal, mengecam keras dugaan tindakan body shaming yang dilakukan pejabat publik terhadap warga yang menyampaikan kritik.
Menurut Ruslan, kritik terhadap pemerintah adalah hak konstitusional warga negara dan seharusnya dijawab dengan argumentasi, bukan penghinaan personal.
“Ketika sebuah kritik dibalas dengan serangan fisik (ad hominem), di situlah kita tahu bahwa sang penguasa sedang mengalami kepailitan nalar berpikir dan krisis argumentasi,” kata Ruslan.
PMII menilai komentar bernada penghinaan fisik tersebut mencerminkan persoalan etika sekaligus krisis moral dalam kepemimpinan publik.
Situasi semakin memanas setelah akun media sosial Nana diketahui menutup kolom komentar dan mengubah pengaturan akun menjadi privat di tengah derasnya kritik.
Sementara itu, hingga polemik ini menjadi perhatian luas masyarakat, DPRD Kabupaten Cirebon belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kontroversi tersebut.
***
(TribunTrends/Kompas)