Polisi Pastikan Gas Karbon Monoksida Jadi Penyebab Kematian Satu Keluarga di Posong 
Muhammad Fatoni June 17, 2026 08:01 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG - Selama tiga pekan jadi tanda tanya, misteri di balik penyebab kematian satu keluarga asal Kabupaten Semarang akhirnya terungkap. 

Polda Jawa Tengah memastikan empat anggota keluarga itu meninggal dunia akibat keracunan gas karbon monoksida (CO) yang berasal dari pembakaran briket arang di dalam tungku tanah liat. 

Perlu diketahui, satu keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan dua puteranya itu  ditemukan tak bernyawa di dalam tenda glamping di kawasan Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung akhir Mei 2026 lalu. 

Kondisi mereka masih seperti tertidur saat ditemukan oleh petugas.        

Banyak dugaan tentang penyebab kematian, diantaranya keracunan makanan hingga gas portable.

Setelah hampir tiga pekan penyelidikan, Polda Jawa Tengah memastikan pemicu kematian adalah keracunan gas karbon monoksida (CO) yang berasal dari pembakaran briket arang di dalam tungku tanah liat. 

Temuan itu sekaligus mematahkan dugaan awal yang mengarah pada kebocoran gas portable maupun keracunan makanan.

Tungku tersebut diduga menjadi sumber gas karbon monoksida yang menyebabkan empat anggota keluarga meninggal dunia di Glamping Safari Nomor 3, Taman Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung, pada 27 Mei 2026.

Dalam konferensi pers di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Senin (15/6/2026) sore, polisi memperlihatkan tungku tanah liat yang menjadi satu di antara barang bukti utama dalam kasus tersebut. 

Tungku itu sebelumnya disediakan pengelola untuk kebutuhan memanggang atau membakar makanan di area glamping. 

Namun, berdasarkan hasil penyelidikan, tungku tersebut diduga dibawa masuk ke dalam tenda saat para korban beristirahat. 

Penyidik menduga awalnya tungku digunakan untuk membakar pisang atau keperluan lain di luar tenda. 

Saat malam semakin dingin, tungku kemudian dimasukkan ke dalam tenda yang tertutup rapat dan minim ventilasi untuk menghangatkan ruangan.

Akibatnya, gas karbon monoksida yang dihasilkan dari proses pembakaran briket arang terakumulasi di dalam tenda hingga mencapai kadar mematikan. 

Saat ditemukan keesokan harinya, seluruh jenazah korban berada dalam posisi tidur masing-masing.

"Hari ini (kemarin) kami memaparkan hasil penyelidikan berbasis Scientific Crime Investigation terhadap peristiwa tersebut. 

Seluruh kesimpulan yang disampaikan didasarkan pada hasil olah TKP, autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, dan rangkaian penyelidikan yang dilakukan secara komprehensif," kata Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto.

Baca juga: Hasil Labfor Kasus Tewasnya Satu Keluarga di Glamping Posong: Kadar Gas Beracun Capai 2.000 PPM

Autopsi

Kesimpulan penyelidikan diperoleh setelah tim gabungan melakukan olah TKP, autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, pemeriksaan telepon genggam korban, pra-rekonstruksi hingga simulasi di lokasi kejadian.

Secara keseluruhan, polisi memeriksa 27 saksi, di antaranya pengelola wisata, keluarga korban, pengunjung, warga sekitar rumah korban, teman korban, perangkat desa, akademisi, hingga anggota kepolisian yang kali pertama mendatangi lokasi.

Kabid Dokkes Polda Jateng, Kombes Pol drg Agung Hadi Wijanarko mengatakan hasil autopsi menunjukkan seluruh korban mengalami keracunan karbon monoksida yang menyebabkan mati lemas.

"Pemeriksaan forensik terhadap korban dan sampel darahnya menunjukkan adanya tanda-tanda keracunan karbon monoksida. 

Kami juga tidak menemukan luka akibat kekerasan di tubuh para korban maupun kandungan zat beracun lain seperti sianida yang dapat menyebabkan kematian," kata dia.        

Dalam kesimpulan forensik juga disebutkan tidak ditemukan tanda kekerasan benda tumpul maupun tajam pada tubuh korban. 

Pemeriksaan toksikologi memastikan adanya paparan karbon monoksida dan tidak ditemukan keracunan sianida.

Lampaui Batas Manusia

Kasubbid Kimia Biologi Forensik Bidlabfor Polda Jateng, AKBP Ibnu Sutarto mengatakan hasil simulasi menunjukkan sumber karbon monoksida berasal dari pembakaran tungku arang di dalam tenda.

"Hasil simulasi yang kami lakukan menunjukkan diduga kuat gas karbon monoksida berasal dari pembakaran tungku di dalam tenda. Konsentrasi gas yang dihasilkan dapat mencapai 2000 ppm yang sangat berbahaya bagi manusia," ungkap dia.

Menurut Ibnu, kadar tersebut jauh melampaui batas aman bagi manusia. 

"Bahkan ketika dilakukan uji pembakaran di luar tenda, gas karbon monoksida masih berpotensi masuk ke dalam dan melampaui ambang batas aman (200 ppm)," imbuh dia. (tribunjateng.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.