TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pembengkakan jumlah peserta Piala Dunia 2026 menjadi 48 negara rupanya membawa sudut pandang tersendiri bagi para pelaku usaha perlengkapan olahraga di Denpasar, Bali.
Format baru yang diterapkan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tahun ini dinilai membuat esensi turnamen bergeser lebih condong ke arah industri dan bisnis, ketimbang peningkatan tensi persaingan di fase awal.
Hal tersebut diungkapkan oleh Cokro Priyanto, pemilik toko jersi Hawaii Sports di Jalan Thamrin, Pemecutan, Denpasar, Bali, pada Rabu 17 Juni 2026.
Pria kelahiran Singkawang ini mengamati, banyaknya negara yang ikut serta justru membuat atmosfer kompetisi di pembukaan turnamen terasa kurang menggigit.
Baca juga: Kelesuan Ekonomi Redam Geliat Demam Jersi Piala Dunia 2026 di Denpasar Bali
"Gimananya ke depan kita belum tahu, karena pertandingan baru pertama," kata Cokro saat berbincang dengan Tribun Bali di tokonya.
Menurut Cokro, hambar atau serunya turnamen tahun ini akan sangat bergantung pada kemunculan tim-tim tidak diunggulkan untuk merusak dominasi kekuatan lama.
Berkaca pada laga-laga pembuka, ia melihat potensi itu ada pada representasi benua kuning, di mana negara-negara Asia mencatatkan awal yang impresif.
"Negara Asia kemarin kan belum kalah satu pun, semua dari zona Asia masih belum pernah kalah, walau masih ada sisa tiga negara Asia yang belum main.," imbuhnya.
Kejutan di lapangan hijau ini dinilai sangat krusial, bukan hanya demi daya tarik kompetisi, melainkan juga untuk memicu kembali gairah belanja masyarakat yang saat ini tengah lesu akibat faktor ekonomi.
Cokro mengakui, daya beli publik untuk pernak-pernik sepak bola kali ini memang melorot drastis jika dibandingkan dengan era sebelum pandemi Covid-19, seperti saat Piala Dunia 2018 silam.
"Ekonomi saat ini kan agak turun, jadi ya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kalau dibanding sebelum Covid, Euforia nggak seperti dulu. Cuman tetep aja euforianya ada, cuma berkurang. Faktor ekonomi utama sih harusnya," jelasnya.
Di tokonya, jersi yang dipasok langsung dari supplier ini dibanderol dengan harga bervariasi demi menyiasati ketatnya kondisi finansial konsumen saat ini.
"Tergantung kualitas. Ada yang 100 ribu lebih sampai yang original juga ada, start dari harga 1 jutaan," bebernya.
Meski berharap ada kejutan dari tim semenjana, secara bisnis Cokro tetap menyandarkan perputaran omzetnya pada jersi tim-tim raksasa yang dihuni pemain mega bintang.
Karakteristik pasar di Denpasar disebutnya masih sangat bergantung pada figur pemain idola global.
"Rutinnya itu harusnya tiap kali event Piala Dunia itu pasti Argentina. Portugal, kan ada Ronaldo gitu. Tergantung pemainnya lah, pemain bintangnya banyak, ya itu yang paling diminati orang," ungkap Cokro.
Menariknya, tren pasar lokal untuk tim Asia sejauh ini masih didominasi oleh satu negara, sementara segmen ekspatriat belum memberikan dampak besar pada penjualan atribut Piala Dunia di tokonya.
"Kalau Asia paling-palingnya Jepang lah, itu yang masih permintaan paling penting. Kalau negara lain agak jarang. Untuk WNA ada, tapi sedikit sekali," tuturnya.
Sebagai pedagang, Cokro juga memilih untuk menjaga netralitasnya demi keberlangsungan usaha. Ia enggan bersikap fanatik atau menjagokan satu tim tertentu dalam perburuan trofi emas tahun ini.
"Kita jualan nggak boleh dukung, nggak boleh fanatik. Kalau nggak, jualannya tinggal satu tim aja kan. Logisnya begitu," kelakarnya. (*)