SERAMBINEWS.COM Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya benar-benar memasuki babak baru. Setelah ketegangan hebat yang menguras energi global selama beberapa bulan terakhir, kedua negara dikabarkan sukses mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik bersenjata.
Menariknya, Presiden AS Donald Trump langsung melontarkan pernyataan mengejutkan. Ia tak ragu memuji kepemimpinan baru di Teheran, yang menurutnya jauh lebih rasional dan terbuka untuk berdialog jika dibandingkan dengan era sebelumnya.
Trump juga menegaskan bahwa Washington kini tidak lagi ambil pusing soal urusan pergantian rezim di Iran. Fokus utamanya saat ini adalah bagaimana menciptakan stabilitas dan perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Secara garis besar, kesepakatan bersejarah ini mencakup komitmen bersama untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, hingga komitmen untuk memulai negosiasi lanjutan guna menyelesaikan isu-isu sensitif yang masih menggantung.
Meski draf perdamaian sudah memasuki tahap akhir dan siap diformalkan di Swiss dalam waktu dekat, situasi di lapangan sebenarnya belum sepenuhnya mulus. Sejumlah poin penting kabarnya masih menjadi perdebatan sengit dan butuh pembahasan yang lebih mendalam dari kedua belah pihak.
Respons dunia pun terbelah. Di satu sisi, banyak pemimpin dunia menyambut baik kabar ini dengan harapan tensi geopolitik di Timur Tengah bisa segera mereda. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula pihak yang skeptis dan meragukan bagaimana implementasi nyata serta keberlanjutan dari kesepakatan ini dalam jangka panjang.
Terlepas dari riuh pro dan kontra tersebut, pelunakan sikap Trump yang kini menyebut pemimpin Iran "rasional" jelas menjadi sorotan utama. Ini adalah perubahan arah politik luar negeri yang sangat drastis dari Washington, sekaligus berpotensi menjadi titik balik besar yang akan mengubah peta keamanan global dalam beberapa tahun ke depan.
Baca juga: Sistem Baru Makan Bergizi Gratis, Dapur dengan Kualitas Baik Akan Mendapat Insentif yang Besar
Pernyataan Trump yang memuji wajah baru kepemimpinan Iran ini meluncur persis sehari setelah kesepakatan damai kedua negara tercapai pada Senin (15/6/2026).
"Mereka sekarang memiliki kepemimpinan yang rasional, para pemimpin Iran yang sama sekali tidak rasional, sekarang sudah tiada," ujarnya kepada wartawan di sela-sela KTT G7 di Perancis, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (16/6/2026).
Bagi Trump, kesepakatan baru ini diposisikan sebagai "temok" kokoh untuk memastikan Iran tidak akan pernah bisa memproduksi senjata pemusnah massal tersebut. Ia bahkan sempat menyindir kesepakatan nuklir era Barack Obama dulu, yang dinilainya justru memberi kelonggaran bagi Teheran.
“Satu-satunya hal yang benar-benar penting bagi saya adalah Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir dan mereka mengatakannya dengan lantang dan jelas,” jelas dia.
“Neraka akan menimpa Iran jika Republik Islam itu berniat memperoleh senjata nuklir,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, AS berencana mengekstrak uranium yang diperkaya Iran yang terkubur di bawah lokasi penyimpanannya. Namun, Trump memastikan pihaknya tidak akan grasa-grusu dalam mengeksekusi rencana tersebut.
“Begitu kita mendapatkannya, kita akan menghancurkannya. Kita tidak berniat mengambilnya, kita berniat menghancurkannya. Kita punya banyak sekali,” tuturnya.
Di sisi lain, posisi Iran sebenarnya tidak berubah sejak dulu. Selama bertahun-tahun, para pejabat di Teheran berulang kali menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengembangkan senjata nuklir, dan menegaskan bahwa seluruh aktivitas nuklir mereka murni untuk tujuan damai serta kebutuhan energi domestik.
Baca juga: Trump Mengaku Kecewa dengan Netanyahu: Tanpa Dukungan AS, Israel Akan Hancur
Sebelum dinamika ini menggelinding ke publik, kabar mengejutkan soal kesepakatan damai dan penghentian permanen operasi militer di semua front termasuk Lebanon justru pertama kali ditiupkan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Lewat akun X (Twitter) miliknya, Sharif membocorkan bahwa penandatanganan dokumen resmi perjanjian damai ini bakal digelar pada Jumat (19/6/2026) mendatang di Swiss.
Tak butuh waktu lama, Donald Trump langsung mengonfirmasi kebenaran kabar tersebut pada Minggu (14/6/2026), tepat di hari ulang tahunnya yang ke-80.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai," ujarnya, dikutip dari AFP, Senin (15/6/2026).
"Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan, bersamaan dengan itu, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laurel Amerika Serikat. Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!" sambungnya.
Pemerintah Iran pun langsung mengeluarkan pernyataan senada lewat saluran televisi resmi mereka. Teheran mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini menyudahi era konfrontasi bersenjata langsung di antara kedua negara.
"Pengakhiran perang secara permanen dan segera telah diumumkan di semua lini, termasuk Lebanon," kata Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi dalam komentar yang disiarkan televisi di Iran.
(Serambinews.com/TribunNewsmaker.com/Kompas.com)