William Saliba telah menegaskan posisinya sebagai salah satu pilar utama di lini pertahanan Arsenal dan tim nasional Prancis, namun pemain berusia 25 tahun itu tetap rendah hati dalam menilai status ketenarannya. Meskipun kerap disebut sebagai salah satu pemain terbaik di Liga Primer Inggris, bek tengah ini cepat membedakan perannya dari rekan-rekan setimnya yang tampil lebih mencolok di lini depan dan memiliki status superstar dunia.
Perjalanan menuju status elit
Saliba mengalami transformasi luar biasa sejak kembali ke London utara setelah menjalani beberapa masa pinjaman di Ligue 1. Kini menjadi bagian tak tergantikan dalam susunan pemain utama Mikel Arteta, sang bek menunjukkan rasa percaya diri yang kuat, sebanding dengan kehadiran fisiknya di lapangan. Meski koleksi gelarnya masih terbatas — termasuk dua trofi Community Shield — keyakinannya terhadap kemampuan pribadi tetap tak tergoyahkan, dengan tekad untuk menambah gelar-gelar besar dalam kariernya.
“Trofi adalah hal yang membuat orang mengingatmu,” ujar Saliba kepada GQ. “Sepak bola adalah olahraga tim. Saya masih kekurangan gelar-gelar besar, dan ketika saya meraihnya, itu akan jauh lebih baik. Saya yakin saya adalah salah satu bek terbaik di dunia.”
Manajernya memiliki peran besar dalam perkembangan tersebut. Saliba mengungkapkan bahwa Arteta ingin para pemain lawan merasa gentar ketika melihat namanya tercantum di daftar pemain utama.
Kerendahan hati di antara para superstar
Meski berstatus sebagai bek papan atas, Saliba sangat menyadari hierarki popularitas di skuad tim nasional Prancis. Tumbuh di kawasan pinggiran Paris, Bondy — tempat yang sama dengan Kylian Mbappe — ia memahami perbedaan antara peran pekerja keras di lini belakang dan para pemain menyerang yang kerap menjadi sorotan utama.
Ia mengakui bahwa meskipun tidak memiliki daya tarik “bintang” seperti para penyerang, kontribusinya di posisinya sendiri tidak kalah penting dan berkelas tinggi.
“Tuhan memutuskan saya menjadi bek tengah, dan saya sangat bahagia dengan itu,” jelasnya. “Ketika masih kecil, biasanya kita lebih sering memperhatikan para penyerang — mereka yang mencetak gol, membuat umpan kunci; mereka yang paling membuatmu bersemangat. Kalau bisa, saya juga ingin jadi penyerang dan mencetak 30 gol setiap musim. Saya bukan bintang seperti Mbappé atau Dembélé, tapi di posisi saya, saya termasuk yang terbaik.”
Kepemimpinan di ruang ganti Prancis
Di tengah skuad Les Bleus yang dipenuhi bintang, Saliba melihat dirinya sebagai pemimpin melalui tindakan, bukan lewat banyak bicara. Ia membandingkan gaya kepemimpinannya dengan pemain yang lebih vokal seperti Mike Maignan atau Mbappe, dan lebih memilih menunjukkan pengaruhnya melalui organisasi pertahanan di lapangan. Terinspirasi oleh sosok legendaris Raphael Varane, Saliba berusaha memimpin dengan memberi contoh dan memenangkan setiap duel yang dihadapinya.
“Jelas saya bukan tipe pemain yang akan berbicara banyak di ruang ganti seperti Maignan atau Mbappé,” ujar Saliba. “Namun sebagai bek, saya berpegang pada prinsip bahwa kamu harus banyak berkomunikasi dengan rekan setim di lapangan, karena kamu bisa melihat segalanya. Jadi saya berusaha melakukan itu. Lalu bermain baik dan memenangkan duel. Itulah cara saya meninggalkan jejak di dalam tim.”
Ambisi Piala Dunia dan misi balas dendam
Menatap Piala Dunia mendatang, Saliba termotivasi oleh pengalamannya di Qatar, di mana ia hanya bermain selama 27 menit sebagai pemain pengganti. Ia melihat turnamen berikutnya sebagai debut sejatinya di panggung dunia. Kekalahan di final 2022 masih menjadi bahan bakar semangatnya, dengan keinginan kuat untuk kembali menghadapi Argentina dan menebus kekecewaan dari turnamen sebelumnya.
Saliba juga menyebut beberapa tim besar yang berpotensi menjadi ancaman bagi peluang Prancis meraih gelar ketiganya, seperti Argentina, Spanyol, Brasil, Inggris, dan Portugal. “Argentina. Ketika sebuah tim mengalahkanmu seperti cara mereka mengalahkan kami, kamu pasti ingin melawan mereka lagi. Kamu ingin membalas,” katanya.
Sejauh mana Prancis akan melangkah di Piala Dunia mendatang?