TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menjanjikan upaya baru untuk mengakhiri perang Ukraina setelah bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky di sela KTT G7 di Prancis.
"Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa," kata Trump kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).
Ia menegaskan bahwa Rusia harus segera masuk ke meja perundingan.
"Rusia harus membuat kesepakatan," ujar Trump.
Pernyataan itu muncul ketika para pemimpin Barat berupaya mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun dan menewaskan puluhan ribu orang di kedua belah pihak.
Dikutip dari Al Jazeera, pertemuan Trump dan Zelensky berlangsung dalam suasana positif dan menjadi salah satu agenda paling penting dalam KTT G7 tahun ini.
Bagi Zelensky, pertemuan dengan Trump bukan sekadar seremoni diplomatik.
Baca juga: KTT G7 Dimulai, Iran dan Ukraina Jadi Sorotan Utama
Presiden Ukraina itu datang dengan misi yang jelas: mendapatkan lebih banyak bantuan militer, memperkuat pertahanan udara, dan memastikan tekanan Barat terhadap Rusia tidak mengendur.
Usai pertemuan, Zelensky mengatakan pembicaraan mereka berfokus pada dua hal utama: pertahanan dan diplomasi.
"Fokus utamanya adalah memperkuat pertahanan udara untuk Ukraina dan memajukan diplomasi agar Rusia mengakhiri perangnya," tulis Zelensky di media sosial X.
Ia menambahkan bahwa Ukraina memperoleh sejumlah komitmen penting dari negara-negara G7.
"Lebih banyak rudal pertahanan udara, lisensi untuk memproduksinya, paket dukungan musim dingin, dan peningkatan tekanan terhadap Rusia," katanya.
Menurut Zelensky, dukungan Washington tetap menjadi faktor terpenting.
"Yang paling penting, Amerika Serikat siap memberikan dukungan di seluruh upaya ini," ujarnya.
Di balik layar KTT, para pemimpin Eropa juga berusaha meyakinkan Trump agar mengambil peran lebih besar dalam proses perdamaian.
Dikutip dari The Guardian, sejumlah pemimpin Eropa mendorong Presiden AS itu untuk menjadi tuan rumah pembicaraan langsung antara Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Baca juga: KTT G7 Undang CEO OpenAI, Anthropic, dan Perusahaan AI Jepang, Fokus pada Perlindungan Anak
Harapannya, kedekatan Trump dengan kedua pemimpin dapat membantu memecah kebuntuan diplomatik yang selama ini menghambat proses perdamaian.
Trump sendiri mengakui hubungan antara Zelensky dan Putin masih sangat tegang.
"Ada permusuhan yang besar," katanya.
Meski demikian, ia tetap yakin peluang negosiasi masih terbuka.
Trump bahkan mengklaim bahwa baik Zelensky maupun Putin menunjukkan kesediaan untuk bertemu jika kondisi memungkinkan.
Dalam pidatonya kepada para pemimpin G7, Zelensky berusaha meyakinkan para sekutunya bahwa Ukraina tidak berada di posisi kalah.
Ia mengatakan Rusia kehilangan banyak sumber daya dan dukungan sejak perang berlangsung.
"Rusia tidak menang dan kehilangan banyak dukungan. Karena itu mereka harus mencapai kesepakatan secepat mungkin," kata Zelensky.
Pernyataan itu sejalan dengan pandangan sejumlah pemimpin Eropa.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen mengatakan situasi di medan perang kini berbeda dibanding tahun lalu.
"Ukraina dengan berani mempertahankan garis depan. Kelelahan Rusia terlihat jelas. Inilah saatnya melipatgandakan dukungan kita," tulisnya di X.
Selain membahas jalur diplomasi, para pemimpin G7 juga sepakat meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Moskow.
Baca juga: Jelang KTT G7, PM Kanada Mulai Lunakkan Kritik terhadap Trump
Uni Eropa (UE) tengah menyiapkan paket sanksi baru yang menargetkan sektor energi Rusia, termasuk pembatasan tambahan terhadap armada kapal tanker yang membantu ekspor minyak dan gas Rusia.
Langkah itu diharapkan dapat mempersempit ruang gerak ekonomi Kremlin sekaligus meningkatkan tekanan agar Rusia bersedia bernegosiasi.
Meski belum ada terobosan konkret, KTT G7 kali ini memperlihatkan satu pesan yang semakin kuat: negara-negara Barat ingin melihat perang Ukraina berakhir melalui meja perundingan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)