SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Memasuki tahun ajaran baru, banyak lulusan SMA dan SMK mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Namun, menentukan jurusan kuliah yang tepat masih menjadi tantangan bagi sebagian calon mahasiswa.
Psikolog Anak dan Remaja, Devi Delia, M.Psi, mengingatkan agar pemilihan jurusan kuliah tidak dilakukan hanya karena mengikuti tren, ajakan teman, atau keinginan sesaat.
Menurutnya, jurusan yang tepat harus disesuaikan dengan minat, bakat, karakter, serta kondisi yang dimiliki masing-masing individu.
"Minat itu menunjukkan ketertarikan seseorang yang cenderung menetap. Misalnya ada yang sejak lama menyukai bidang yang berhubungan dengan angka dan perhitungan, ada yang senang bersosialisasi dan berinteraksi dengan banyak orang, atau ada yang tertarik pada bidang literasi dan membaca. Itu menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan jurusan," kata Devi saat diwawancarai Sripoku.com, Rabu (17/6/2026).
Menurut Devi, salah satu cara yang dapat membantu siswa menentukan pilihan adalah melalui tes minat dan bakat.
Melalui tes tersebut, seseorang dapat mengenali bidang yang paling sesuai dengan kecenderungan dan potensinya.
Meski demikian, minat saja tidak cukup menjadi dasar dalam menentukan jurusan. Calon mahasiswa juga perlu memastikan bahwa minat tersebut didukung oleh kemampuan atau bakat yang memadai.
Ia mencontohkan, seseorang mungkin sangat tertarik untuk masuk fakultas kedokteran. Namun jika kemampuan memorinya kurang mendukung, maka proses perkuliahan yang banyak menuntut hafalan akan menjadi tantangan yang cukup berat.
"Potensi atau bakat juga harus dilihat. Kalau dia suka bidang yang berhubungan dengan angka, apakah kemampuan berhitung, logika, dan pemahaman aritmatikanya memang baik. Kalau ingin masuk teknik, apakah kemampuan nalarnya mendukung. Jadi harus ada kesesuaian antara minat dan kemampuan," jelasnya.
Selain minat dan kemampuan, karakter pribadi juga menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan. Menurut Devi, setiap orang memiliki kecenderungan karakter yang berbeda sehingga pilihan jurusan harus selaras dengan kepribadian masing-masing.
Misalnya, seseorang yang lebih nyaman bekerja secara mandiri dan tidak terlalu menyukai interaksi sosial yang intens mungkin lebih cocok memilih bidang teknik, akuntansi, atau pekerjaan yang berfokus pada analisis.
Sebaliknya, mereka yang senang berkomunikasi dan berinteraksi dengan banyak orang dapat mempertimbangkan jurusan yang berkaitan dengan hubungan masyarakat, pemasaran, atau pelayanan publik.
"Kalau dia bukan tipe yang suka berinteraksi dengan banyak orang, tentu kurang tepat jika memilih bidang yang mengharuskan komunikasi intens setiap hari," ujarnya.
Dalam proses tes minat dan bakat, lanjut Devi, biasanya juga dilakukan wawancara untuk menggali latar belakang keluarga, nilai-nilai yang dianut, hingga alasan seseorang memilih jurusan tertentu. Tujuannya agar pilihan tersebut benar-benar berasal dari keinginan individu, bukan karena tekanan dari lingkungan sekitar.
Tak kalah penting, calon mahasiswa juga perlu mempertimbangkan faktor realistis seperti biaya pendidikan, dukungan keluarga, dan prospek setelah lulus.
Devi mencontohkan jurusan kedokteran gigi yang membutuhkan biaya pendidikan cukup besar, termasuk kebutuhan alat praktik, pelatihan, hingga modal ketika membuka praktik mandiri setelah lulus.
"Jangan hanya melihat saat masuk kuliahnya saja. Harus dipikirkan juga proses selama menjalani pendidikan hingga nantinya bekerja. Dukungan keluarga dan kesiapan diri sangat penting," katanya.
Selain itu, karakter seperti ketekunan, kedisiplinan, kemampuan bekerja keras, dan ketelitian juga harus menjadi pertimbangan karena berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang dalam menjalani profesi yang dipilih.
Karena itu, bagi siswa yang masih merasa bingung menentukan pilihan jurusan, Devi menyarankan untuk mengikuti tes minat dan bakat sebagai langkah awal mengenali potensi diri.
"Dengan memahami diri sendiri, peluang untuk sukses dan nyaman menjalani pendidikan maupun karier akan lebih besar," pungkasnya.