BANGKAPOS.COM -- Kematian Yogi Saleh (44), pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta yang ditemukan tewas penuh luka di kamar rumahnya menguak fakta baru.
Polisi intensif melakukan penyelidikan memastikan penyebab kematian Yogi Saleh di Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, Minggu (14/6/2026) malam.
Yogi diketahui merupakan pejabat yang bertuga di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Kini, fokus penyelidikan polisi tertuju pada temuan kondisi plafon rumah korban yang rusak atau jebol.
Temuan janggal di rumah korban yang beralamat di Jalan Patinggi III, Kampung Karangsari, Desa Citalang, Kabupaten Purwakarta ini menjadi alasan kuat bagi Satreskrim Polres Purwakarta untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) lanjutan.
Tidak main-main, demi mengungkap tabir di balik plafon jebol tersebut, Polres Purwakarta sampai meminta bantuan dari Tim Inafis Polda Jawa Barat serta Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Mabes Polri.
Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, membenarkan bahwa kondisi plafon yang rusak tersebut kini menjadi atensi utama tim gabungan forensik dalam olah TKP ulang.
"Itu (plafon) juga yang menjadi alasan kami meminta bantuan dari Polda dan Puslabfor untuk melakukan penyelidikan ulang terkait plafon yang jebol dan sejumlah temuan lainnya di lokasi," ujar AKP I Made Purwantara saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (16/6/2026) sore.
Baca juga: Histeris Istri Pulang Wisuda, Temukan Yogi Saleh Kabid BKAD Tewas Penuh Luka Tusuk di Kamar
Selain meneliti kerusakan pada plafon rumah, tim identifikasi juga bergerak cepat mengambil sejumlah sampel sidik jari di sekitar area tersebut dan ruangan lainnya.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan apakah ada jejak orang asing yang masuk ke dalam rumah sebelum Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah BKAD Purwakarta itu ditemukan tewas.
"Kami sudah mengambil sampel sidik jari dan masih menunggu hasil pemeriksaan. Nanti akan diketahui apakah ada sidik jari lain di luar keluarga atau korban," kata Made.
Sejauh ini, polisi telah memeriksa tiga orang saksi dari pihak istri, mertua, dan rekan kerja korban.
Sejumlah barang bukti berupa berkas dokumen hingga telepon genggam milik Yogi Saleh dan istrinya juga turut disita demi kepentingan digital forensik.
Korban pertama kali ditemukan oleh sang istri yang baru saja pulang menghadiri acara wisuda bersama anak dan mertuanya.
Hingga saat ini, rumah korban masih tertutup rapat dan dipasangi garis polisi seiring dengan tim Puslabfor Mabes Polri yang terus mendalami bukti-bukti ilmiah di TKP.
Istri Temukan Korban Penuh Luka Tusuk
Histeris tak terbendung seketika menyelimuti istri saat menemukan sang suami, Yogi Saleh (44) tewas dalam kondisi bersimbah darah di kamar rumahnya Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, Minggu (14/6/2026) malam.
Kepada polisi, istri menceritakan peristiwa tragis yang menimpa suaminya.
Saat itu, istri korban baru saja kembali ke rumah usai menghadiri acara wisuda bersama anak dan mertua.
Ketika tiba di rumah, korban sudah ditemukan tidak bernyawa di dalam kamar.
Baca juga: Nasib Julita Damanik, ASN Tarif Rp60 Juta Kursi Kepala Puskesmas, Tak Dikenal Bupati Kini Diperiksa
Kecurigaan sang istri bermula saat mendapati rumah dalam keadaan gelap gulita dan seluruh akses pintu terkunci dari dalam.
Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, mengatakan istri korban lantas mencongkel jendela.
"Istri korban sempat menggedor pintu depan dan memeriksa bagian belakang rumah, namun seluruh akses masih terkunci dari dalam," jelas Made, Senin (15/6/2026) sore, dilansir TribunJabar.id.
Made menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi, korban terakhir kali berada di rumah seorang diri setelah istrinya bersama anak dan mertuanya pergi menghadiri acara wisuda di Hotel Harper Purwakarta sekitar pukul 16.00 WIB.
Nahas, saat berhasil masuk rumah, ia menemukan sang suami bersimbah darah di kamar.
"Ketika pintu kamar dibuka, korban ditemukan sudah dalam kondisi tergeletak dan bersimbah darah di dalam kamar," kata Made.
Berdasarkan hasil visum sementara, korban mengalami luka akibat senjata tajam (sajam).
Made mengatakan setidaknya ada tiga luka tusuk di leher, satu luka robek di ulu hati, bekas jeratan di leher, serta memar di lutut dan pergelangan kaki.
"Korban mengalami tiga luka tusuk di leher, satu luka robek di bagian ulu hati, bekas jeratan di leher, serta beberapa memar di bagian lutut dan pergelangan kaki," jelas Made.
Kondisi luka yang bervariasi ini membuat pihak kepolisian belum bisa gegabah menyimpulkan penyebab pasti kematian korban.
Selain itu, lanjut dia, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa tangga, kabel yang terputus, ikat pinggang, serta sebilah pisau dapur yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Penyidik masih membuka segala kemungkinan, baik tindakan bunuh diri maupun tindak pidana pembunuhan.
"Ini masih dugaan sementara berdasarkan temuan di lapangan. Kami belum bisa menyimpulkan apakah korban meninggal karena bunuh diri atau tindak pidana," ungkapnya.
Saat ini, Made mengatakan, penyidik masih menunggu hasil autopsi dari tim kedokteran forensik.
Sempat Keluhkan Pekerjaan ke Istri
Polisi juga mendalami percakapan terakhir dalam telepon genggam korban serta keterangan para saksi untuk mengungkap penyebab pasti kematian Yogi Saleh.
Sementara itu, pantauan Tribunjabar.id di lokasi kejadian menunjukkan rumah korban masih tertutup rapat dan telah dipasangi garis polisi.
Kasus tersebut hingga kini masih dalam penyelidikan Satreskrim Polres Purwakarta.
Eka, perwakilan keluarga, juga mengungkapkan bahwa korban sempat mengeluhkan persoalan pekerjaan kepada istrinya, meski ia mengaku tidak mengetahui secara detail persoalan yang dimaksud.
"Saya hanya mendengar ada keluhan terkait pekerjaan. Detailnya saya tidak tahu, mungkin istrinya yang lebih mengetahui," ujarnya, di rumah duka Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, Senin (15/6/2026) sore.
Keluarga juga meminta dukungan pemerintah daerah agar kasus tersebut mendapat perhatian serius.
Eka berharap aparat kepolisian dapat mengungkap penyebab kematian korban dan menemukan pihak yang bertanggung jawab apabila terbukti terjadi tindak pidana.
"Kami minta kasus ini diusut tuntas. Kalau memang ada pelaku, harus ditangkap. Jangan sampai kasus ini berhenti tanpa kejelasan," katanya.
Baca juga: Sosok Julita Damanik, Ngaku Dekat Bupati Simalungun, Pasang Tarif Rp60 Juta Kursi Kepala Puskesmas
Pasalnya, keluarga menemukan banyak luka pada tubuh korban yang menurutnya perlu dijelaskan secara rinci melalui hasil autopsi dan penyelidikan kepolisian.
"Saya melihat ada kejanggalan. Banyak luka di tubuh kakak saya, di leher dan bagian lainnya. Kalau takdir saya terima, tapi kalau memang ada tindakan pidana, keluarga meminta keadilan dan meminta polisi mengungkap kasus ini seterang-terangnya," kata Eka.
Menurutnya, hingga kini keluarga masih menunggu penjelasan resmi terkait hasil autopsi yang telah dilakukan terhadap jenazah korban.
"Kami belum menerima hasil resminya. Kalau memang ada luka-luka seperti yang disampaikan, tentu harus dijelaskan secara terbuka. Jangan sampai ada yang ditutupi," pungkasnya.
Sosok Yogi Saleh
Yogi Saleh diketahui menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Aset Daerah pada BKAD Kabupaten Purwakarta.
Kejadian ini pun langsung menjadi perhatian dan sorotan publik di wilayah setempat.
Semasa hidupnya, Yogi dikenal sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan rekam jejak karier yang cukup baik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purwakarta.
Berdasarkan data resmi BKAD Purwakarta, Yogi Saleh lahir pada 13 April 1982 dan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2009.
Karier Yogi terus menanjak hingga dipercaya mengemban posisi strategis sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah di BKAD Purwakarta.
Di BKAD, Yogi membawahi Sub Bidang Perencanaan Aset, serta Sub Bidang Pencatatan dan Mutasi Aset.
Baca juga: Jadwal Main Skotlandia Vs Maroko: Daftar Skuad Pemain, Head to Head, Prediksi Skor Piala Dunia 2026
Tidak hanya aktif di lingkungan birokrasi dinas, sosok Yogi juga dikenal aktif berkontribusi dalam agenda nasional.
Pada gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Purwakarta 2024 lalu, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) untuk wilayah Kecamatan Bojong.
Di sisi lain, Yogi dikenal sebagai sosok yang religius dan aktif beribadah.
Hal itu disampaikan oleh perwakilan keluarga korban, Eka Yusuf, yang tidak mempercayai isu yang berkembang bahwa korban mengakhiri hidupnya sendiri.
"Kalau ada yang mengatakan bunuh diri karena depresi, saya pribadi sulit percaya. Kakak (Yogi Saleh) saya orang yang religius, rajin beribadah," ucapnya.
Hasil Visum: Luka Tusuk dan Jeratan
Temuan luka pada tubuh Yogi Saleh kini menjadi fokus utama penyelidikan Tim Satreskrim Polres Purwakarta.
Berdasarkan hasil visum luar sementara, terdapat kombinasi luka tajam dan trauma fisik yang cukup kompleks.
"Korban mengalami tiga luka tusuk di leher, satu luka robek di bagian ulu hati, bekas jeratan di leher, serta beberapa memar di bagian lutut dan pergelangan kaki," ujar AKP I Made Purwantara.
Baca juga: Titip Anak dan Istri, Sony Sanjaya Bongkar Peran Nanik S Deyang Masuk 26 Nama Terlibat Korupsi MBG
Kondisi luka yang bervariasi ini membuat pihak kepolisian belum bisa gegabah menyimpulkan penyebab pasti kematian korban.
Penyidik masih membuka segala kemungkinan, baik tindakan bunuh diri maupun tindak pidana pembunuhan.
"Ini masih dugaan sementara berdasarkan temuan di lapangan. Kami belum bisa menyimpulkan apakah korban meninggal karena bunuh diri atau tindak pidana," lanjutnya.
Temuan Pisau Dapur, Kabel hingga Tangga di TKP
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi mengamankan sejumlah barang bukti yang mencurigakan di sekitar area kamar korban.
Benda-benda yang disita petugas di antaranya adalah sebuah tangga besi, dua potong kabel yang sudah dalam keadaan terputus, serta sebuah ikat pinggang.
Selain itu, ada satu senjata tajam yang ikut dibawa oleh petugas.
"Polisi juga mengamankan sebilah pisau dapur berwarna kuning dengan panjang sekitar 10 hingga 15 centimeter yang ditemukan di lokasi," ungkap Made.
Kronologi Penemuan Jasad
Berdasarkan keterangan saksi-saksi, korban terakhir kali diketahui berada di rumah seorang diri.
Sang istri bersama anak dan mertuanya sedang pergi keluar untuk menghadiri acara wisuda di Hotel Harper Purwakarta sejak pukul 16.00 WIB.
Ketika pihak keluarga tiba di rumah sekitar pukul 19.30 WIB, kondisi rumah sudah dalam keadaan terkunci rapat dari dalam dan seluruh lampu padam.
Karena panggilan mereka tidak mendapat respons dari korban, sang istri akhirnya berinisiatif masuk secara paksa melalui jendela yang dicongkel.
Langkah kaki sang istri mendadak terhenti saat menuju area kamar akibat melihat ceceran darah segar di depan pintu.
Begitu pintu kamar dibuka, Yogi Saleh ditemukan sudah dalam posisi tergeletak tak bernyawa dengan kondisi bersimbah darah.
Saat ini Satreskrim Polres Purwakarta masih menunggu hasil autopsi resmi dari tim kedokteran forensik.
Polisi juga mulai mendalami jejak digital berupa percakapan terakhir dalam telepon genggam korban serta memeriksa sejumlah saksi demi mengungkap tabir kematian sang pejabat daerah.
(TribunJabar.id/Deanza Falevi) (TribunJatim.com/TribunSumsel.com/Bangkapos.com)