POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Deretan perahu kater warna-warni berjejer rapi di atas pasir putih Pantai Serdang, Desa Baru, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Rabu (17/6/2026).
Di bawah hembusan angin yang kencang, seorang pria terlihat mengayunkan kuas. Jemarinya yang legam secara telaten memoleskan cat baru ke dinding kayu lambung perahunya, mencoba menutup bagian yang lapuk dimakan usia.
Ia adalah Sapri (45), satu di antara ratusan nelayan yang menggantungkan seluruh hidupnya pada kekayaan laut Belitung Timur.
Sudah menjadi rutinitas tahunan bagi Sapri ketika kalender mulai memasuki pertengahan tahun, mereka harus bersiap menghadapi datangnya musim angin selatan.
Sambil sesekali menyeka keringat, Sapri menceritakan bagaimana pergerakan laut mulai berubah sejak bulan Mei lalu.
Angin kencang tidak hanya membuat gelombang tinggi, tetapi juga membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Perlu diketahui bahwa perahu kater yang kecil tidak memiliki kabin pelindung di dalamnya. Sehingga, hantaman ombak di tengah malam harus dihadapi dengan ketahanan yang luar biasa.
"Kalau angin kencang badan basah dihempas gelombang, otomatis dingin kan. Kalau perahu besar enak ada kamarnya bisa untuk berlindung, kalau kita di kater ini polosan," ujar Sapri.
Musim selatan juga mengubah cara Sapri dalam melaut. Jika biasanya ia bertolak pukul 04.00 WIB, maka pada musim selatan waktu keberangkatan harus dimajukan jadi pukul 01.00 WIB atau 02.00 WIB.
Hal ini dikarenakan saat musim selatan, titik berkumpulnya ikan bergeser menjauh dari bibir pantai.
"Perginya terpaksa jam 1 atau jam 2 malam karena mancingnya jauh. Tapi untungnya pas pulang agak enak, karena posisi kater didorong ombak menuju daratan, jadi terasa lebih cepat," ucapnya.
Dari 20 tahun pengalamannya, Sapri memprediksi bahwa angin kencang ini baru akan mencapai puncaknya pada bulan Juli hingga Agustus mendatang.
Meski begitu, dalam tiga hari terakhir Sapri mengaku masih bisa melaut, meskipun tenaga yang dikeluarkan harus ekstra dari biasanya.
"Tiga hari ini saya tetap melaut, alhamdulillah hasil tangkapan masih normal dan ada saja bawa pulang ikan sekitar 20 sampai 30 kilogram. Harganya juga lumayan di pasar kalau musim angin begini karena pasokan ikan berkurang," ungkapnya.
Namun, jika kecepatan angin sudah menembus angka 19 hingga 20 knot lebih, Sapri memilih untuk memarkirkan katernya. Mengambil risiko tidak akan memberikan keuntungan apapun bagi dirinya yang sudah dari kecil melaut ini.
Sapri menceritakan bahwa dulu, saat cuaca ekstrem melanda, ia terpaksa menganggur. Ia pun akhirnya tidak melaut sama sekali selama tiga bulan berturut-turut.
Untungnya, uang dari hasil tabungan di musim teduh menjadi satu-satunya penghidupan bagi Sapri dan keluarganya.
"Dari musim teduh itulah kita harus pandai-pandai menyimpan uang untuk bertahan hidup. Tapi bagi nelayan yang tidak punya tabungan dan tidak ada biaya, alternatifnya adalah meminjam uang ke empat kita biasa menjual hasil tangkapan," katanya.
Pinjaman ini juga Sapri akui menjadi penyelamat bagi sebagian besar nelayan di Pantai Serdang untuk melakukan perawatan kater pada musim selatan ini. Mengingat kater terbuat dari kayu, dinding perahu tentunya wajib dilakukan perbaikan, setidaknya pengecatan ulang.
Biaya perbaikan yang bisa mencapai Rp2 juta per unit membuat banyak nelayan terpaksa berutang. Akan tetapi, terkhusus Sapri, perbaikan kater miliknya masih dilakukan menggunakan dana pribadi yang dikumpulkannya dari hasil melaut sebelumnya.
"Rezeki nelayan ini kan masing-masing, ada yang banyak dan ada yang sedikit. Kalau dapatnya agak lumayan sewaktu musim teduh, ya kita tidak perlu pinjam ke orang," ujarnya.
Terakhir, Sapri berharap kesulitan ini bisa berakhir sesegera mungkin. Ia tidak ingin para nelayan, terutama di Pantai Serdang hidup kekurangan akibat sulit untuk melaut di tengah cuaca ekstrem yang berlangsung lama.
"Harapan saya tidak muluk-muluk, semoga ini semua segera berlalu dan tentunya tidak membawa kerugian yang besar, apalagi menyangkut nyawa para nelayan," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)