Rahasia Bramgor Putri Mangu 'Approved by YouTuber' Kondang, Sukses Ekspor dari Modal Awal Rp50 Ribu
Ryantono Puji Santoso June 17, 2026 07:32 PM

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Hanang Yuwono

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Siapa sangka dari modal awal Rp50 ribu, Sulistyo Rini (Anik) kini bisa sukses dari berjualan bawang (brambang) goreng. Berkat kerja kerasnya tersebut, Anik bahkan bisa membeli empat rumah dan memberdayakan tetangga sekitar.

Di sebuah rumah yang terletak di dalam gang di Madegondo RT 04/4, Dusun III, Madegondo, Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing pada Jumat (1/5/2026) siang pukul 13.00 WIB.

Ada tiga perempuan yang mengiris bawang merah dengan alat parut, sementara dua orang laki-laki cekatan mengaduk-aduk bawang goreng di wajan berdiameter 30 sentimeter.

Baca juga: Jalan Panjang Attempe Jadikan Kedelai Lokal Tuan di Negeri Sendiri di Tengah Banjir Impor

Uap minyak panas tak menyurutkan tangannya untuk terus mengaduk, lalu meniris bawang goreng beberapa menit sebelum ditaruh ke tampah berlandaskan kertas minyak.

Nantinya, bawang goreng di sini akan dikemas dengan produk Bramgor Putri Mangu, lalu didistribusikan ke beberapa daerah di luar Solo Raya bahkan luar negeri.

Bramgor Putri Mangu ini setiap hari bisa memproduksi 500 sampai 700 kilogram produk olahan bawang per hari.

Dari toples-toples plastik ini, Bramgor Putri Mangu telah menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar selama bertahun-tahun.

Salah satunya adalah Hartinah. Dia sudah cukup lama ikut bekerja di Bramgor Putri Mangu ini.

Perempuan berusia 50 tahun ini sebelumnya adalah ibu rumah tangga. Kini dia bisa mendapatkan penghasilan sendiri dari pekerjaan mengiris bawang.

"Alhamdulillah bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," kata Hartinah.

UMKM SOLO RAYA - Sejumlah karyawan mengupas bawang putih di tempat peoduksi Bramgor Putri Mangu di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia.
UMKM SOLO RAYA - Sejumlah karyawan mengupas bawang putih di tempat peoduksi Bramgor Putri Mangu di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Sementara itu, Suratmi yang bertugas mengiris bawang menceritakan kisahnya ikut bekerja di Bramgor Putri Mangu.

Dia mengaku pertama kali hanya ikut membantu mengupas. Jumlahnya pun kala itu tak banyak, hanya 2-5 kilogram bawang merah.

"Sekarang satu orang bisa mengupas 50 kilogram," ujarnya yang sudah bekerja di sini 10 tahun lebih.

Suratmi mengatakan, bekerja di Bramgor Putri Mangu sangat membantu perekonomiannya. Dulu dia hanya menjadikan pekerjaan ini sebagai sampingan sembari momong anak.

Kini justru bisa jadi penghasilan utama, bahkan seminggu bisa mendapatkan Rp800 ribu.

"Harapannya bisa lancar, semakin tambah laris," harapnya.

Pencapaian Rini bisa sampai seperti sekarang bukanlah dengan cara instan. Dia sudah melewati berbagai macam jalan terjal, hinaan, dan tempaan dalam merintis Bramgor Putri Mangu bersama sang suami, Sumardi.

UMKM SOLO RAYA - Proses penggorengan Bramgor Putri Mangu di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia.
UMKM SOLO RAYA - Proses penggorengan Bramgor Putri Mangu di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Dirintis Pasangan Suami Istri

Sumardi mengenang kisahnya bersama istri membangun Bramgor Putri Mangu. Anik sebelumnya merantau ke Ibu Kota menjadi Asisten Rumah Tangga (ART).

Sementara Sumardi berjualan sayur di kampung sambil merawat anaknya yang berkebutuhan khusus.

Pada 2014, Anik pulang kampung karena ingin mendampingi tumbuh kembang anaknya yang masuk usia sekolah dan membutuhkan perhatian khusus.

Bertahun-tahun Sumardi jualan sayuran, hasil yang didapat hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. 

"Terus akhirnya ibu (Anik) ini punya ide. Gimana kalau jualan brambang goreng. Coba pertama itu dua kilo, dijual ke sana kemari. Terus kata orang kok rasanya enak, akhirnya kita tambah produksi langsung banyak. Dari Tawangmangu ke sini, sampai sekarang jadi gini," kata Sumardi.

Maka lahirlah BBGSA Putri Mangu. BBGSA Putri Mangu adalah singkatan dari Berkah Bawang Goreng Sumardi-Anik. Namun karena nama tersebut dinilai kurang populer dan jenama Berkah dirasa terlalu pasaran, Anik pun mengubahnya jadi Bramgor Putri Mangu.

Putri Mangu berarti seorang anak perempuan dari Tawangmangu, di mana Anik merupakan asli dari Tawangmangu, Karanganyar, selain itu mereka juga mengambil bawang merah dari daerah tersebut.

Anik menambahkan, ketika pertama kali merintis Bramgor Putri Mangu dirinya menitipkan ke tukang-tukang sayur, dan guru sekolah anak-anaknya. Proses produksi dimulai dari kamar 2x3 meter.

Pada dini hari pukul 03.00 WIB, Anik memulai mengiris bawang merah, sebelum paginya dia antar jualannya itu ke orang-orang yang dikenalnya.

UMKM SOLO RAYA - Produk Bramgor Putri Mangu yang didisplay di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia.
UMKM SOLO RAYA - Produk Bramgor Putri Mangu yang didisplay di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

"Terus dari mulut ke mulut, sambil saya jemput anak sekolah saya tawarkan dagangan ke kantor-kantor itu. Lama-lama pada jadi langganan. Yang beli bahkan sampai ikut menjualkan, jadi tidak hanya dikonsumsi sendiri, tapi untuk dijual lagi," ujar Anik.

Bramgor Putri Mangu ini kata Anik dirintis sejak 2014. Modal awalnya pun tidak banyak, kurang lebih dua kilogram bawang dan minyak goreng satu liter.

"Pokoknya kalau dihitung-hitung itu Rp50 ribu. Alhamdulillah sekarang per harinya itu bisa produksi sampai 700 kilogram pas ramai," ungkapnya.

Anik menjelaskan, pasokan bawang diambil dari beberapa daerah, salah satunya adalah Tawangmangu. Awal-awal merintis, dia mengaku hanya bermodal kepercayaan dari pemasok bahan baku.

"Kita kan ambil bawang merah dari Tawangmangu. Alhamdulillah sama juragannya bawang merah di Tawangmangu karena tahu kami berdua itu tekun, itu jadi modal dipinjami. Jadi kulakan bawang itu enggak bayar dulu, kalau sudah jadi uang baru bayar. Bahkan kita juga dibantu dikirim, pertama kali itu 300 kilogram atau 3 kuintal. Alhamdulillah dua hari tiga hari habis," kata Anik.

Kini menurutnya, sekali kirim ke Bramgor Putri Mangu bisa mencapai satu ton. Jumlah itu bisa habis untuk dua hari produksi.

Ketika usahanya semakin melejit, Bramgor Putri Mangu juga harus menghadapi terpaan angin yang kencang. Saat itu, produk mereka banyak yang meniru. 

Anik dan Sumardi tidak tinggal diam, mereka lalu membuat branding sendiri, termasuk kemasan toples yang sudah dipatenkan hingga tak boleh ditiru.

Tantangan tidak berhenti di situ. Produksi brambang goreng ini juga sangat bergantung pada faktor cuaca dan musim panen.

"Susahnya kalau musim penghujan. Karena kalau waktu mau panen, kena hujan yang namanya bawang itu mati. hampir semuanya itu gagal panen," imbuh Sumardi.

Hal itu pun membuat harga bawang melejit tinggi. Terkait hal ini, Anik mengaku sudah jadi risiko. Dia pun enggan menaikkan harga, apalagi sampai mengurangi jumlah karyawan.

"Kalau pas mahal yang penting karyawan tetap kerja, yang penting kita bisa makan, meskipun enggak ada yang buat ditabung. Yang penting buat kesehariannya itu jalan dulu," ucap Anik.

UMKM SOLO RAYA - Produk Bramgor Putri Mangu di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, siap kemas pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia.
UMKM SOLO RAYA - Produk Bramgor Putri Mangu di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, siap kemas pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Sementara ketika panen raya bawang tiba, Anik juga tak serta merta mencari untung besar. Begitu panen bawang melimpah dan harganya murah, Bramgor Putri Mangu justru mengadakan promo untuk para pembeli.

Bramgor Putri Mangu sekarang memiliki 14 karyawan yang bekerja di bagian produksi. Sedangkan, di luar juga ada beberapa karyawan.

Karyawannya biasanya membawa pulang bawang untuk dikupas di rumah lalu disetorkan ke rumah produksi untuk digoreng.

"Empat belas orang itu ada yang ibu rumah tangga, ada laki-laki. Kalau di luar paling banyak, kurang lebih ada 30-an orang (bertugas mengupas bawang-red)," ujar Anik.

Anik sendiri memberdayakan tetangga-tetangga sekitarnya dalam produksi Bramgor Putri Mangu. Semua dikerjakan secara manual, tanpa alat modern.

"Kalau mau beli alat itu kita malah enggak mau. Soalnya kalau saya beli alat, otomatis tetangga-tetangga saya enggak punya sambilan lagi. Kalau pakai alat itu sebenarnya satu jam saja sudah bisa memproduksi 50 kilogram sampai satu kuintal. Nah, kalau kita pakai alat, tetangga kita enggak punya kerjaan lagi. Padahal dulu waktu susah, belum punya uang, tetangga dan saudara yang bantuin. Mosok kita sudah punya uang bisa beli alat terus ninggalin yang dulu mau bantuin?" terang dia.

Langganan Review YouTuber

Cita rasa Bramgor Putri Mangu ini pun sudah diakui oleh YouTuber, food vloger, hingga selebgram terkenal Indonesia. Salah satunya adalah Farida Nurhan, food vloger yang memiliki 5,3 juta subscriber di YouTube.

Di YouTube ada banyak video tentang Bramgor Putri Mangu, mulai dari ulasan cita rasa hingga mengulik kisah inspiratif Anik dan Sumardi.

Pada Februari 2023, lewat unggahan di akun Instagramnya, Farida Nurhan yang karib disapa Omay ini memberikan review positif untuk bawang goreng Bramgor Putri Mangu.

Dia memperlihatkan momen ketika makan mi instan dengan dicampur Bramgor Putri Mangu. Omay pun mengakui jika produk Anik sangat enak.

Menariknya, Bramgor Putri Mangu tidak pernah menerapkan startegi endorsement. Semua yang dilakukan YouTuber dan Food Vloger adalah murni inisiatif mereka alias organik, tanpa permintaan Anik langsung.

Anik tidak pernah menyangka, dirinya yang dulu Asisten Rumah Tangga (ART) kini bisa membuat produk yang terkenal di kalangan influencer kuliner.

"Enggak ada endorse. Biasanya YouTuber itu dateng terus meliput. Ada beberapa kali, mereka meliput prosesnya, packingnya, bahkan dicoba di sini juga," kata Anik.

Tumbuh Didampingi BRI

Usaha Bramgor Putri Mangu yang dirintis oleh Anik berawal dari modal pribadi sebelum akhirnya berkembang pesat dan memanfaatkan pembiayaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Anik menceritakan bahwa pada tahap awal pengembangan usaha, ia mengajukan pinjaman KUR dalam dua tahap.

"Pertama kali buka KUR itu ambil Rp50 juta. Lalu ambil Rp500 juta untuk membuat rumah produksi ini. Alhamdulillah sudah lunas," ucap Anik.

Ia menjelaskan bahwa pinjaman tersebut memiliki tenor empat tahun, namun dapat dilunasi lebih cepat karena usaha yang terus meningkat.

"Awalnya 4 tahun, tapi kurang dari 2 tahun sudah lunas," kata dia.

Menurut Anik, KUR BRI dipilih karena menawarkan bunga yang rendah serta persyaratan yang relatif mudah dipenuhi oleh pelaku usaha kecil.

"Bunga rendah, persyaratan sederhana, jadi lebih mudah dijangkau," ujarnya.

Perkembangan usaha ini turut didukung oleh pendampingan melalui Rumah BUMN Solo. Program tersebut membantu pelaku UMKM dalam peningkatan kapasitas, branding, hingga pemasaran digital. Pada 2025, Bramgor Putri Mangu berhasil masuk dalam 25 UMKM terbaik dalam program BRIncubator Lokal Rumah BUMN Solo.

UMKM SOLO RAYA - Produk bawang goreng siap kemas di Bramgor Putri Mangu di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia.
UMKM SOLO RAYA - Produk bawang goreng siap kemas di Bramgor Putri Mangu di Madegondo, Grogol, Sukoharjo, pada Jumat (1/5/2026). Begini perjalanan inspiratif Bramgor Putri Mangu hingga bisa tembus pasar dunia. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Anik menuturkan bahwa dukungan dari BRI tidak berhenti setelah pelatihan selesai.

"Setelah ada pelatihan BRIncubator itu tidak berhenti begitu saja. Jadi ada kesinambungannya," ucapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa BRI turut membantu dalam aspek branding dan promosi produk.

"BRI turut mendampingi ketika bikin sticker, bikin logo. Mereka turut membantu promosi," kata Anik.

Selain itu BRI juga memberikan fasilitas Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) atau pembayaran via kode batang hingga turut mendampingi proses sertifikasi halal.

"QRIS juga dapat dari BRI. Sekarang lagi proses pendampingan sertifikasi halal juga baru berjalan dari BRI," tambahnya.

Saat ini, produk Bramgor Putri Mangu telah dipasarkan melalui platform digital seperti Link UMKM BRI serta marketplace Shopee dan TikTok Shop, dengan jangkauan pasar yang telah menembus luar negeri seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Singapura.

Anik menjelaskan bahwa produknya memiliki keunggulan pada bahan baku dan proses produksi.

"Bramgor di sini itu asli. Bawang merah tanpa campuran sama sekali, baik itu tepung, ubi. Kedua, di tempat kami semuanya masih manual, dari proses memotong, mengupas, semua masih manual," ujar dia.

Ia juga menambahkan bahwa seluruh proses dilakukan secara manual hingga menghasilkan irisan bawang yang lebih besar dan bersih.

Produk ini diketahui memiliki daya tahan hingga enam bulan apabila disimpan dalam kondisi tertutup rapat dan kering.

Kini, Bramgor Putri Mangu tidak hanya menjual brambang goreng saja, melainkan ada varian produk lainnya yang siap mampir di dapur para pembeli.

"Saat ini yang dijual ada bawang merah, bawang putih, kentang, usus, sama kremes," ucap Anik.

Sementara itu, produk dipasarkan dengan harga mulai dari Rp29.500 hingga Rp108.000 tergantung jenis dan ukuran kemasan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.