Di Tengah Gelombang AI, Pelaku Bisnis Dituntut Bukan Sekadar Cepat tetapi Adaptif  
Seno Tri Sulistiyono June 17, 2026 08:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak banyak teknologi yang mampu mengubah cara manusia bekerja secepat kecerdasan buatan (AI). 

Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah mengubah cara perusahaan memasarkan produk, melayani pelanggan, menganalisis data, hingga mengambil keputusan bisnis.

Di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat, muncul pertanyaan yang kini dihadapi banyak pelaku usaha: bagaimana tetap relevan ketika teknologi terus berkembang, sementara perilaku konsumen dan pola persaingan ikut berubah?

Baca juga: KTT G7 Undang CEO OpenAI, Anthropic, dan Perusahaan AI Jepang, Fokus pada Perlindungan Anak

Kegelisahan itulah yang mempertemukan lebih dari 7.000 pemilik bisnis, praktisi pemasaran, kreator, dan pelaku ekonomi digital dalam Indonesia Digital Marketing Conference (IDMC) 2026 yang digelar di ICE BSD City, Tangerang.

Mengusung tema "Move, Adapt, and Play", konferensi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang belajar bagi para pelaku usaha untuk memahami arah baru dunia bisnis di era kecerdasan buatan.

Sebab hari ini, tantangan bisnis tidak lagi sekadar menghadirkan produk yang baik atau menjalankan strategi pemasaran yang efektif.

Perusahaan juga dituntut mampu bergerak lebih cepat, membaca perubahan pasar, dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai baru bagi pelanggan.

Tema yang diusung IDMC 2026 merefleksikan tantangan tersebut. "Move" menjadi simbol keberanian untuk mengambil langkah di tengah ketidakpastian.

"Adapt" menegaskan pentingnya kemampuan menyesuaikan diri terhadap perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen, sementara "Play" menggambarkan kesiapan untuk memenangkan peluang baru yang lahir dari transformasi digital.

Initiator IDMC 2026, Ryan Kristo Muljono, mengatakan perubahan yang dipicu AI telah mengubah hampir seluruh aspek bisnis, mulai dari operasional hingga cara konsumen mengambil keputusan.

“AI mengubah cara bisnis beroperasi, cara marketer bekerja, dan cara konsumen mengambil keputusan. IDMC hadir untuk membantu para pelaku bisnis dan profesional Indonesia beradaptasi terhadap perubahan tersebut,” ujarnya dikutip, Selasa (17/6/2026).

Menurut Ryan, tantangan terbesar saat ini bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada kemampuan manusia dan organisasi untuk memahami serta memanfaatkannya secara optimal.

Di tengah derasnya adopsi AI, banyak pelaku usaha mulai menyadari bahwa teknologi bukan lagi sekadar alat pendukung.

AI kini menjadi bagian dari strategi bisnis yang dapat meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pasar, sekaligus membantu perusahaan memahami kebutuhan pelanggan secara lebih akurat.

Semangat tersebut tercermin dalam berbagai inovasi yang ditampilkan sepanjang konferensi, termasuk kehadiran svo.ai, platform yang mengintegrasikan product sourcing, affiliate network, dan social commerce dalam satu ekosistem berbasis AI.

Kehadiran platform semacam ini menunjukkan bagaimana AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu, melainkan telah menjadi penghubung berbagai proses bisnis yang sebelumnya berjalan terpisah sehingga menjadi lebih efisien, terukur, dan berbasis data.

Untuk memperkaya perspektif peserta, IDMC 2026 juga menghadirkan pakar global seperti Neil Patel dan Peng Joon yang membagikan wawasan mengenai pemanfaatan AI dalam pemasaran, pertumbuhan bisnis, dan ekonomi kreator.

Ribuan peserta yang hadir menunjukkan bahwa pelaku usaha Indonesia tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam gelombang transformasi digital yang sedang berlangsung. Mereka ingin menjadi bagian dari perubahan tersebut sekaligus mencari cara agar tetap kompetitif di tengah persaingan yang semakin dinamis.

Antusiasme peserta di area pameran inovasi dan berbagai sesi networking juga memperlihatkan semakin kuatnya kesadaran bahwa masa depan bisnis tidak dibangun oleh teknologi semata, melainkan oleh kombinasi antara inovasi, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi.

IDMC 2026 menjadi gambaran bagaimana dunia usaha tengah memasuki babak baru, di mana keberhasilan tidak lagi hanya ditentukan oleh ukuran perusahaan atau besarnya modal, tetapi oleh kemampuan untuk terus belajar dan merespons perubahan.

"AI mungkin dapat mengotomatisasi banyak pekerjaan. Namun keberanian untuk berubah, kemampuan membaca peluang, dan kemauan untuk terus berkembang tetap menjadi faktor yang menentukan siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan tertinggal dalam ekonomi digital masa depan," katanya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.