Alih Tanam Tembakau Mulai Meningkat, Petani Magelang Kembangkan Kopi dan Hortikultura
Yoseph Hary W June 17, 2026 11:02 PM

 

‎TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Tren diversifikasi pertanian di kawasan sentra tembakau Kabupaten Magelang terus menunjukkan perkembangan positif. Sejumlah petani mulai mengurangi ketergantungan terhadap tembakau dan beralih ke komoditas lain seperti kopi, hortikultura, ubi jalar, hingga sorgum sebagai upaya meningkatkan pendapatan sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat ketidakpastian usaha tani tembakau.

‎Temuan tersebut mengemuka dalam pemaparan hasil kajian bertajuk “Membangun Dialog tentang Masa Depan Petani Tembakau, Kesehatan Masyarakat, dan Kebijakan Pengendalian Tembakau” yang diselenggarakan Pusat Kajian Pengendalian Tembakau Muhammadiyah (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) di Atria Hotel Magelang, Rabu (17/6/2026).

Beralih komoditas


‎Ketua MTCC UMM, Dr. Retno Rusdjijati, mengatakan hasil penelitian menunjukkan sebagian petani tembakau mulai beralih ke komoditas yang dinilai lebih menguntungkan dan memiliki risiko usaha lebih rendah.

‎“Di Kecamatan Windusari sudah lebih dari 50 persen petani beralih ke komoditas lain, terutama kopi dan tanaman hortikultura. Di Temanggung juga sudah banyak petani yang melakukan diversifikasi tanaman,” ujarnya.

‎Menurut Retno, selama ini petani tembakau sering dijadikan alasan oleh industri rokok untuk menolak berbagai kebijakan pengendalian tembakau. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan banyak petani yang belum memperoleh kesejahteraan yang memadai.

‎“Petani tembakau sering dijadikan tameng industri rokok. Kenyataannya banyak petani yang pendapatannya belum sejahtera dan sangat bergantung pada kondisi pasar maupun cuaca,” katanya.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan, menegaskan pemerintah daerah tidak pernah melarang petani menanam tembakau. Namun, pemerintah berkewajiban memberikan edukasi agar petani memahami risiko usaha dan memiliki alternatif sumber pendapatan.

‎Menurutnya, usaha tani tembakau memiliki risiko tinggi karena sangat dipengaruhi perubahan iklim, membutuhkan biaya produksi besar, serta menghadapi sistem pemasaran yang membuat posisi tawar petani relatif lemah.

‎“Tembakau merupakan komoditas dengan risiko tinggi. Cuaca sangat memengaruhi produktivitas, biaya produksinya besar, sementara pasar hasil panennya sangat terbatas sehingga posisi tawar petani rendah,” jelasnya.

‎Karena itu, pemerintah daerah mendorong pola tanam tumpang sari dan diversifikasi komoditas sebagai strategi mitigasi risiko. Berbeda dengan pola lama yang mengharuskan tembakau ditanam secara monokultur, kini petani didorong menanam komoditas lain secara bersamaan.

‎“Kami ingin petani tetap boleh menanam tembakau, tetapi memiliki pilihan pendapatan lain. Kalau tembakaunya gagal, masih ada hasil dari kopi, sayuran, edamame, atau komoditas lainnya,” ujarnya.

‎Romza mengungkapkan luas areal tanam tembakau di Kabupaten Magelang mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sebelum tahun 2021, luas tanam tembakau mencapai sekitar 6.000 hektare. Namun berdasarkan data tahun 2025, luasannya tinggal sekitar 3.000 hektare.

‎“Artinya terjadi penurunan hampir 50 persen. Selain dipengaruhi berbagai faktor, kondisi ini juga terjadi karena semakin banyak petani yang memilih komoditas lain yang dinilai lebih menjanjikan, seperti kopi, tanaman rempah, maupun ubi-ubian,” katanya.

Peluang pendapatan


‎Menurut Romza, diversifikasi tanaman memberikan peluang pendapatan yang lebih stabil bagi petani dibanding hanya bergantung pada satu komoditas.

Salah satu pelaku diversifikasi, petani asal Kecamatan Windusari sekaligus Ketua Forum Petani Lestari Indonesia, Istanto mengaku mulai mengembangkan sistem tumpang sari sejak 2013 setelah mengalami kerugian akibat anomali cuaca yang menyebabkan kualitas tembakau menurun.

‎“Waktu itu musim kemarau tetapi kondisinya basah sehingga tembakau tidak menguntungkan. Dari situ kami mulai melakukan diversifikasi dan mencari komoditas alternatif,” kata Istanto.

‎Bersama kelompok tani, ia mengembangkan berbagai komoditas seperti ubi jalar, hortikultura, hingga kopi arabika. Program tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Magelang melalui penyediaan bibit dan pendampingan teknis.

‎Menurut Istanto, pengembangan kopi arabika yang semula mendapat cibiran dari sebagian petani kini justru menunjukkan hasil menggembirakan. Luas areal kopi arabika yang dikembangkan melalui pola diversifikasi telah mencapai sekitar 1.075 hektare yang tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Magelang.

‎“Awalnya banyak yang meragukan ketika kami menanam kopi di kawasan pegunungan Windusari. Namun sekarang hasilnya sudah terlihat dan banyak petani yang ikut mengembangkan,” ungkapnya.

‎Tingginya harga kopi saat ini turut menjadi faktor pendorong. Harga kopi arabika dalam bentuk ceri bahkan mencapai Rp22 ribu per kilogram, sehingga menjadi salah satu komoditas yang menarik bagi petani.

‎Meski demikian, Istanto menilai masih ada dua tantangan utama dalam pengembangan diversifikasi pertanian, yakni keterbatasan air saat musim kemarau dan minimnya modal usaha untuk menampung hasil panen petani.

‎“Kami membutuhkan dukungan infrastruktur air seperti embung dan irigasi. Selain itu, petani juga memerlukan akses permodalan agar bisa menampung hasil panen dan memperkuat kelembagaan ekonomi petani,” katanya.

‎Selain kopi dan hortikultura, petani di Kabupaten Magelang juga mulai mengembangkan tanaman sorgum, cabai jamu, dan sejumlah komoditas pangan lainnya sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi petani.

‎Melalui hasil kajian tersebut, MTCC UMM berharap pemerintah daerah dapat menyusun kebijakan yang lebih berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani. Bukan sekadar mempertahankan produksi tembakau, tetapi mendorong terciptanya sistem pertanian yang lebih berkelanjutan, adaptif terhadap perubahan iklim, dan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.