Kabar baik datang untuk Vozinha, kiper tim nasional Tanjung Verde. Setelah sebelumnya tidak dapat menyaksikan penampilan gemilang putranya di Piala Dunia 2026 saat melawan Spanyol, ibunda sang pemain akhirnya mendapatkan visa Amerika Serikat yang telah lama diharapkan.
Piala Dunia 2026 telah menghadirkan banyak kisah emosional, namun sedikit yang menyentuh hati seperti perjalanan Vozinha. Dalam laga yang berakhir imbang 0-0 melawan Spanyol, penjaga gawang berusia 40 tahun itu tampil luar biasa namun meneteskan air mata karena keluarganya tak bisa hadir menyaksikan secara langsung. Kini, kabar bahagia yang dinantikannya tiba.
Pertemuan impian yang segera terwujud
Kampanye bersejarah Tanjung Verde di Piala Dunia pertama mereka mendapatkan tambahan semangat besar setelah ibu Vozinha, Ana Candida Evora, resmi memperoleh visa Amerika Serikat. Awalnya, biaya tinggi dan peraturan ketat menghalangi perempuan berusia 59 tahun yang bekerja sebagai asisten rumah tangga itu untuk bepergian, namun campur tangan tingkat tinggi kini memungkinkan dirinya hadir di pertandingan berikutnya tim berjuluk Blue Sharks tersebut.
Pemimpin Partai Demokrat di Dewan Perwakilan AS, Hakeem Jeffries, mengonfirmasi pada Rabu bahwa hambatan yang mencegah Evora melakukan perjalanan telah diselesaikan. Pertemuan keluarga mereka dijadwalkan berlangsung di Miami, tempat Tanjung Verde akan menghadapi Uruguay pada Minggu ini dalam laga penting fase grup. Kabar ini datang setelah masa frustrasi akibat keharusan membayar jaminan sebesar $15.000 (£11.200) dan sejumlah biaya tambahan yang sebelumnya membuat perjalanan itu mustahil dilakukan.
Intervensi politik tingkat tinggi
Penyelesaian masalah visa tersebut melibatkan kerja sama diplomatik penting. Jeffries memberikan penghargaan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Departemen Luar Negeri, pemerintah Tanjung Verde, serta FIFA atas peran mereka dalam memastikan penjaga gawang veteran yang kini bermain untuk klub divisi dua Portugal, Chaves, tidak harus menuntaskan turnamen tanpa kehadiran sang ibu di tribun penonton. Terobosan administratif ini tercapai setelah wawancara emosional Vozinha usai laga melawan Spanyol menjadi viral di seluruh dunia.
“Masyarakat Tanjung Verde di Amerika dan di seluruh diaspora merayakan semangat juang dan ketangguhan Blue Sharks, bergabung dengan para penggemar sepak bola dari berbagai negara di dunia,” ujar Jeffries dalam pernyataan resminya. “Kegembiraan itu sedikit berkurang ketika Vozinha dengan berlinang air mata mengungkapkan bahwa ibunya tidak dapat menyaksikan penampilan bersejarahnya secara langsung karena masalah visa. Tidak seharusnya seorang ibu kehilangan kesempatan melihat anaknya menorehkan sejarah. Setelah mengetahui hal ini, saya berbicara dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan meminta Departemen Luar Negeri melakukan segala upaya agar ibunya bisa hadir di pertandingan berikutnya Tanjung Verde. Merupakan kehormatan bagi saya untuk mengumumkan bahwa ibu Vozinha kini telah memperoleh visa tepat waktu untuk menghadiri pertandingan hari Minggu melawan Uruguay. Semua biaya telah dibebaskan sesuai kebijakan resmi. Persiapan perjalanan kini sedang dilakukan agar ibu dan anak itu dapat bertemu kembali di Miami. Saya berterima kasih kepada Menteri Rubio, pejabat Departemen Luar Negeri AS, pemerintah Tanjung Verde, dan FIFA atas kerja sama mereka yang membuat hal ini mungkin terjadi.”
Perjalanan emosional Vozinha di Piala Dunia
Meski menjadi salah satu pemain tertua di turnamen ini, pada usia 40 tahun Vozinha membuktikan refleksnya masih tajam dengan mencatatkan clean sheet luar biasa saat melawan Spanyol, melakukan tujuh penyelamatan krusial untuk menjaga gawangnya tetap aman. Seusai pertandingan, ia mengenang perjalanan panjangnya menjadi pemain profesional di usia 25 tahun dan pengorbanan panjang yang tak sempat disaksikan keluarganya.
“Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek nenek saya dan sayangnya mereka sudah tiada; mereka meninggal beberapa tahun lalu,” ungkapnya setelah hasil imbang melawan Spanyol. “Mereka adalah segalanya bagi saya, bagi hidup saya. Saya juga menangis karena ibu saya tidak bisa berada di sini akibat masalah visa. Karena biaya yang harus kami bayar untuk visa itu, kami tidak sempat menyelesaikannya tepat waktu. Saya ingin ibuku ada di sini, tapi saya juga sangat bahagia. Saya telah bekerja keras seumur hidup untuk momen ini. Saya berusia 40 tahun. Saya mulai bermain sepak bola profesional pada usia 25 tahun, tahun 2012. Saya sempat berpikir untuk berhenti, tetapi saya terus berjuang demi mimpi ini. Ini untuk semua orang. Saya dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam pertandingan, tetapi penghargaan ini untuk semua rekan setim saya karena tanpa mereka, tidak ada yang mungkin. Saya akan terus berjuang untuk Tanjung Verde dan rakyatnya.”
Kebanggaan seorang ibu di São Vicente
Meskipun tidak dapat hadir di laga-laga awal, Evora mengikuti perkembangan putranya dari rumah di São Vicente. Selalu mendukung karier Vozinha sejak awal, ia menyampaikan rasa bangga luar biasa atas penampilan sang putra sebagai Pemain Terbaik dalam pertandingan melawan Spanyol, di mana pada usia 40 tahun dan 12 hari, ia menjadi pemain tertua yang melakukan debut dalam laga pertama negaranya di Piala Dunia.
“Saya berkata bahwa tidak ada satu pun bola yang akan masuk ke gawangnya, dan itulah yang terjadi,” ujar Evora. “Dia adalah penjaga gawang hebat. Saya sangat bangga menjadi ibu dari Vozinha, dan saya berharap dia terus menepis setiap bola yang datang ke arahnya.”
Sejauh mana Spanyol akan melangkah di Piala Dunia?