SURYA.co.id – Harapan berakhirnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menguat setelah Pakistan selaku mediator utama menyatakan bahwa teks kesepakatan damai telah disepakati dan tinggal menunggu tahap penandatanganan.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul satu fakta penting yang kerap luput dari perhatian publik: penghentian perang bukan berarti seluruh persoalan telah selesai.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan yang telah lama ditunggu-tunggu untuk mengakhiri perang di Timur Tengah dijadwalkan akan ditandatangani pada Minggu (14/6/2026) waktu setempat.
Kesepakatan damai ini akan membuka jalan bagi pembukaan Selat Hormuz yang strategis.
“Kesepakatan itu dijadwalkan akan ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz terbuka untuk semua,” kata Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya, dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.
Dalam unggahannya, Trump juga mengindikasikan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih dan menghancurkan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.
“Pada waktu yang tepat, ketika semuanya tenang, kita akan masuk dan mengambil debu nuklir yang terkubur jauh di bawah pegunungan granit yang dahsyat, berkat pesawat pembom B-2 kita yang luar biasa dan pilot-pilotnya yang brilian, lalu menghancurkannya, baik di Iran maupun di Amerika Serikat,” kata Trump.
“Kami berharap dapat bekerja sama dengan Iran, dan seluruh Timur Tengah, untuk jangka waktu yang lama di masa mendatang," lanjutnya.
Dalam unggahannya, Trump juga memberi peringatan kepada Republik Islam untuk sepenuhnya menerapkan rencana tersebut atau menghadapi konsekuensi serius.
“Semoga proses ini berjalan dengan cepat, mudah, dan lancar,” tulis presiden AS.
“Jika tidak, kita memiliki alternatif terburuk, yang semoga tidak akan pernah digunakan lagi!” tegasnya.
Baca juga: Penyebab Hubungan AS dan Iran Kembali Memanas, Trump dan IRGC Sama-sama Ambil Langkah Ekstrem
Meski Trump berbicara mengenai kesepakatan damai, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menegaskan bahwa dokumen yang saat ini dibahas sebenarnya merupakan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang berfungsi sebagai langkah awal untuk menghentikan konflik bersenjata.
Dalam skema yang dijelaskan Iran, tahap pertama berisi penghentian pertempuran, termasuk serangan yang terkait dengan konflik di Lebanon, serta komitmen para pihak untuk tidak kembali melancarkan serangan militer.
Tahap ini juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu titik ketegangan paling penting bagi perdagangan energi dunia.
Sekitar seperlima perdagangan minyak global bergantung pada jalur laut tersebut sehingga stabilitas kawasan menjadi perhatian banyak negara.
Yang menarik, isu-isu paling sensitif belum akan diselesaikan dalam nota kesepahaman awal tersebut.
Araghchi menjelaskan bahwa tahap kedua baru akan membahas persoalan utama yang selama ini menjadi sumber konflik antara Iran dan Barat, mulai dari program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, pencairan aset Iran yang dibekukan, hingga berbagai pengaturan keamanan kawasan.
Di sinilah tantangan sesungguhnya berada.
Amerika Serikat menginginkan penghapusan atau penghancuran stok uranium yang diperkaya milik Iran.
Sebaliknya, Teheran masih menunjukkan sikap hati-hati dan ingin memastikan kepentingan nasionalnya tetap terlindungi dalam proses negosiasi. Sejumlah isu teknis dan politik juga disebut masih belum sepenuhnya disepakati.
Optimisme Trump juga tidak sepenuhnya sejalan dengan pernyataan resmi dari Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pada hari Sabtu bahwa waktu pasti penandatanganan memorandum Islamabad tidak akan dilakukan pada hari Minggu.
Baghaei mengatakan kemungkinan penandatanganan memorandum Islamabad dalam beberapa hari mendatang tidak dapat dikesampingkan.
Ia menambahkan bahwa kehati-hatian diperlukan terkait komentar apa pun tentang tanggal penandatanganan karena keraguan dari pihak lain.
Pada Jumat (12/6/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan di X bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran secara permanen "belum pernah sedekat ini".
Namun, saat berbicara di Press TV Iran pada hari yang sama, Araghchi menekankan bahwa kesepakatan belum ditandatangani.
Menurutnya, Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman, dan bahwa pengelolaannya di masa depan akan berbeda dari masa lalu.
Araghchi menekankan, nota kesepahaman awal masih dalam tahap peninjauan, dan menunjuk pada ketidakpercayaan yang mendalam terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang dua kali melancarkan serangan di tengah perundingan nuklir yang sedang berlangsung.
Dalam sebuah unggahan di X, Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen dan kepala negosiator Iran, menyampaikan pesan yang samar.
“Komitmen yang dibuat harus ditepati. Tidak ada jika, tidak ada tetapi, tidak ada alasan. Untuk kesepakatan yang akan datang, tidak ada cara lain,” tulisnya di X.
“Anda menuai apa yang Anda tabur," lanjut dia.
Jika memorandum Islamabad berhasil ditandatangani, itu memang akan menjadi pencapaian diplomatik penting karena mampu menghentikan pertempuran yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Namun, kesepakatan tersebut lebih tepat disebut sebagai "jembatan menuju perdamaian" daripada perdamaian itu sendiri.
Alasannya sederhana. Persoalan yang paling sulit (program nuklir Iran, pencabutan sanksi, aset yang dibekukan, hingga hubungan keamanan kawasan) baru akan dibahas setelah perang dihentikan.
Artinya, risiko munculnya ketegangan baru masih tetap ada apabila salah satu pihak merasa kepentingannya tidak terpenuhi.
Karena itu, meskipun perang mungkin bisa berhenti dalam waktu dekat, perjalanan menuju perdamaian permanen masih akan ditentukan oleh keberhasilan negosiasi tahap kedua yang jauh lebih kompleks dan penuh kepentingan politik.