Bojonegoro Wastra Batik 2026 Tak Sekadar Pameran Batik, Jadi Penggerak Ekonomi Daerah 
Wiwit Purwanto June 18, 2026 01:32 PM



SURYA.CO.ID BOJONEGORO  – Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 kembali digelar dengan kemasan lebih meriah dan megah. Ratusan produk batik, kerajinan, hingga kuliner khas daerah memenuhi area pameran di Alun-alun Bojonegoro, menghadirkan ruang promosi sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya.

Ribuan masyarakat memadati lokasi pembukaan yang berlangsung pada Rabu (17/6/2026). Selain menyuguhkan pameran produk unggulan, festival yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro itu juga dimeriahkan berbagai pertunjukan budaya yang memperkuat identitas lokal serta menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah.

Sebanyak 69 peserta ambil bagian dalam ajang yang mengusung tema "Wastrane Bojonegoro Membumi lan Ngamboro Ing Bawono".

Mereka berasal dari instansi pemerintah, BUMD, pelaku UMKM binaan BUMN, hingga komunitas ekonomi kreatif dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur maupun Jawa Tengah.

Baca juga: Gebrakan SSFF 2026, Desainer Surabaya Nekat Sulap Batik Jadi Baju Olahraga Modis Super Nyaman

Festival ini menjadi salah satu strategi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya. Melalui kegiatan tersebut, ruang kolaborasi dibuka seluas-luasnya bagi perajin, pelaku usaha, komunitas kreatif, akademisi, hingga dunia industri.

Memasuki area pameran, pengunjung disambut beragam produk batik dengan motif dan corak khas yang mencerminkan kekayaan budaya daerah. Selain batik, berbagai produk kriya, kerajinan tangan, dan hasil karya ekonomi kreatif lainnya turut dipamerkan, menampilkan kreativitas pelaku usaha dari berbagai wilayah.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengatakan Wastra Batik Bojonegoro telah menjadi agenda tahunan yang memiliki peran penting dalam pelestarian budaya sekaligus penguatan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata.

“Bojonegoro Wastra Batik tahun ini tidak hanya memamerkan kain. Kegiatan ini juga dikemas sebagai sarana edukasi dan bentuk dukungan bagi pelaku ekonomi kreatif serta UMKM dan pariwisata,” kata Wahono.

Luncurkan Dodolan Ekraf untuk Perluas Pasar UMKM

Menurut Wahono, batik merupakan warisan budaya yang menyimpan nilai-nilai kearifan lokal dalam setiap motif dan coraknya. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong agar ekosistem batik dapat berkembang mengikuti kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi.

Baca juga: Jersey Timnas Indonesia 2026 Dipuji Jordi Amat, Ada Motif Tenun dan Batik di Jersey Rilisan Kelme

Ia menambahkan, berbagai rangkaian kegiatan yang digelar dalam festival ini diharapkan mampu memperkuat daya saing pelaku ekonomi kreatif sekaligus menjaga keberlanjutan industri batik di Bojonegoro dan Jawa Timur.

Sebagai bentuk dukungan terhadap transformasi ekonomi kreatif, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro meluncurkan marketplace digital bernama Dodolan Ekraf.

Platform tersebut dirancang untuk mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan pasar yang lebih luas melalui pemanfaatan teknologi digital. Kehadiran marketplace ini diharapkan dapat membantu UMKM memperluas pemasaran produk secara lebih efektif dan kompetitif.

“Dengan memanfaatkan teknologi digital, pelaku usaha dapat menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Selain peluncuran Dodolan Ekraf, festival juga diisi berbagai kegiatan edukatif seperti pelatihan membatik bagi siswa SD dan SMP, workshop peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif, hingga beragam hiburan masyarakat yang berlangsung mulai 17 hingga 20 Juni 2026.

Batik Bukan Sekadar Kain Bermotif

Ketua Dekranasda Jawa Timur Arumi Bachsin menyambut positif penyelenggaraan Wastra Batik Bojonegoro Festival 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.

Arumi menegaskan bahwa batik memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar produk fesyen.

“Di setiap lembar kain batik terdapat doa, proses, dan kreativitas para perajinnya,” ujar Arumi.

Ia menilai Bojonegoro yang selama ini dikenal sebagai daerah berbasis energi dan pertanian mulai menunjukkan perkembangan signifikan di sektor ekonomi kreatif berbasis budaya. Hal itu terlihat dari semakin beragamnya motif batik khas daerah, seperti motif daun jati dan Meliwis Mukti yang kini semakin dikenal masyarakat.

Menurut Arumi, ekonomi kreatif telah menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dengan subsektor fesyen sebagai salah satu penyumbang utama. Karena itu, inovasi, peningkatan kualitas produk, dan pemanfaatan teknologi digital harus terus diperkuat agar pelaku usaha mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

“Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen untuk terus mendukung penguatan ekonomi kreatif melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, promosi, digitalisasi, perluasan akses pasar, dan kolaborasi,” kata Arumi.

Melalui penyelenggaraan Wastra Batik Festival 2026, pemerintah berharap identitas budaya daerah semakin kuat, kesejahteraan masyarakat meningkat, serta peluang usaha terus berkembang sehingga Bojonegoro mampu tumbuh sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis budaya yang berdaya saing dan berkelanjutan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.