TRIBUNTRENDS.COM - Kabar duka menyelimuti gelaran Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 setelah seorang peserta kategori half marathon dilaporkan meninggal dunia.
Peserta bernama Agus Putrandi itu mengalami kolaps saat mendekati garis finis pada Minggu (14/6/2026).
Tim medis yang bertugas di lokasi segera memberikan penanganan darurat setelah korban ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Menurut Medical Director BTN, dr. Andhika Respati, Agus pingsan tepat di dekat tenda medis sentral yang berada di area finis.
Korban kemudian dievakuasi ke tenda merah, yakni fasilitas khusus untuk menangani pasien dalam kondisi gawat darurat.
Tenda tersebut dilengkapi dengan berbagai peralatan medis, termasuk monitor pasien, dokter spesialis anestesi, serta fasilitas mini intensive care unit (ICU).
Namun, proses evakuasi sempat mengalami jeda singkat karena tim medis saat itu sedang menangani peserta lain yang juga berada dalam kondisi darurat.
Setelah menjalani pemeriksaan awal, tim dokter menduga Agus mengalami heat stroke atau serangan panas akibat suhu tubuh yang meningkat secara ekstrem.
Penanganan pertama yang dilakukan adalah menurunkan suhu tubuh korban menggunakan air es.
Meski sempat menunjukkan respons positif setelah suhu tubuhnya menurun, nyawa Agus akhirnya tidak dapat diselamatkan.
Baca juga: Bukan Sekadar Malu, Pegawai Bea Cukai yang Lari Usai Dipanggil KPK Diduga Kantongi Uang Panas
Meski suhu tubuh Agus berhasil diturunkan, kondisi peserta itu tidak kunjung membaik.
Kesadarannya tidak kembali sehingga dokter spesialis anestesi memutuskan untuk merujuk korban ke Rumah Sakit Siloam.
"Sebelum diberangkatkan, korban sudah dipasang infus, diberikan oksigen, dan dipastikan dalam kondisi layak untuk ditransportasikan," ujarnya.
Sesampainya di rumah sakit, Agus lalu mengalami henti jantung dan beberapa kali menjalani resusitasi jantung paru (RPJ).
Saat itu, jantungnya sempat kembali berdetak, tetapi kemudian kembali berhenti dan dinyatakan meninggal dunia.
"Sejak sekitar pukul 09.00 hingga pukul 16.48, korban akhirnya dinyatakan tidak dapat diselamatkan," ucap Andhika.
Baca juga: Jawaban Apa yang Menjadi Tugas Utama Tokoh Aku dalam Lomba Maraton? Asesmen MPLS 2025 SMA Sederajat
Andhika menegaskan bahwa penyebab awal korban kolaps bukanlah henti jantung, melainkan diduga heat stroke.
Henti jantung baru terjadi setelah korban menjalani perawatan di rumah sakit sebagai komplikasi dari kondisi tersebut.
Dia mengatakan tidak bisa mengungkap apakah Agus memiliki penyakit bawaan karena informasi tersebut merupakan rahasia medis pasien.
Namun, berdasarkan informasi yang diterima dari tim medis, peserta itu baru pertama kali mengikuti kategori half marathon atau virgin half marathon.
Baca juga: Jawaban Apa yang Menjadi Tugas Utama Tokoh Aku dalam Lomba Maraton? Asesmen MPLS 2025 SMA Sederajat
Mengenai kritik soal lambatnya penanganan medis selama perlombaan, Andhika membantah anggapan bahwa tim medis tidak siap menghadapi situasi darurat.
Dia mengatakan, jumlah peserta JAKIM tahun ini justru lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
"Tahun lalu sekitar 33.000 pelari dalam satu hari, sedangkan tahun ini sekitar 24.000 pelari per hari. Ketika jumlah peserta berkurang, kami justru menambah sumber daya, baik personel maupun peralatan medis," ujarnya.
Namun, saat perlombaan berlangsung, banyak peserta yang mengalami kondisi darurat secara bersamaan, mulai dari pingsan, kejang, hingga butuh ambulans.
Kondisi inilah yang membuat ambulans terus bergerak dari satu titik ke titik lainnya sehingga memunculkan kesan penanganan medis terlambat.
"Radio komunikasi kami hampir tidak berhenti menerima permintaan ambulans maupun roaming medic. Karena itu kami harus menentukan prioritas penanganan," kata Andhika.
Dalam insiden peserta half marathon di Jakarta yang meninggal dunia ini, Andhika menyampaikan pesan kepada para peserta agar bisa memastikan kondisi kesehatan benar-benar prima dan memilih kategori lomba yang sesuai kemampuan.
Dia juga mengingatkan agar tidak memaksakan diri apabila merasa sudah tidak sanggup menyelesaikan perlombaan.
"Kalau ternyata kondisi tubuh tidak fit atau persiapan latihan kurang baik, tidak apa-apa memutuskan untuk Do Not Start (DNS). Itu jauh lebih baik daripada mempertaruhkan keselamatan," ujarnya.
"Tidak apa-apa memilih Do Not Finish (DNF). Keselamatan jauh lebih penting, dan menjadi DNF bukanlah sesuatu yang memalukan," kata Andhika.
Sementara itu, untuk korban meninggal dunia yaitu Agus Putranadi diketahui berasal dari Dusun Peresak Barat, Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Meski berasal dari Lombok Barat, dia ternyata bekrja dan berdomisili di Jakarta, yaitu di kawasan Matraman.
Adapun, kabar duka meninggalnya Agus pertama kali disampaikan rekannya yaitu Johan Rio Pamungkas, melalui akun Threads.
Melansir dari TribunJakarta.com, Rio menyebut rekannya itu sempat mengikuti lomba tanpa keluhan kesehatan yang berarti sebelum akhirnya kolaps di kilometer 14 dan tidak sadarkan diri meski telah mendapat penanganan medis.
"Setahu saya enggak ada. Dia ambruk atau kolaps di kilometer (Km) 14, kemudian ketika dibawa ke medis dan rumah sakit sudah tidak sadarkan diri," kata Johan.
(TribunTrends/Grid.id)