Dari Hobi Jadi Cuan, Pensiunan Satpam Pegadaian di Kediri Raup Rezeki dari 1.000 Pasang Sepatu
Rendy Nicko June 18, 2026 03:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Masa pensiun tidak membuat Dwi Sularaji (57) memilih berdiam diri di rumah. Warga Jalan Welirang Kelurahan Pare Kecamatan Pare Kabupaten Kediri itu justru menemukan sumber penghasilan baru dari hobi yang selama ini ia tekuni, yakni mengoleksi sepatu.

Siapa sangka, kegemarannya mengumpulkan sepatu bekas impor kini berkembang menjadi usaha yang mampu menarik pembeli dari berbagai daerah. Bahkan, koleksi yang awalnya hanya untuk kepuasan pribadi kini berubah menjadi ladang cuan setelah banyak orang tertarik membeli sepatu miliknya.

Dwi menyulap ruang tamu rumahnya yang berukuran sekitar 5 x 6 meter menjadi toko sederhana. Tidak ada etalase mewah maupun penataan yang rapi seperti toko sepatu pada umumnya. Ratusan pasang sepatu berbagai merek masih tersusun dan menumpuk di sejumlah sudut ruangan dengan rak kayu seadanya. 

Meski begitu, kondisi tersebut tidak menyurutkan minat para pembeli untuk datang setiap hari. Justru banyak pengunjung yang penasaran setelah melihat koleksi sepatu milik Dwi melalui media sosial.

Baca juga: Persik Kediri Resmi Melepas Syahrian Abimanyu Setelah 11 Penampilan Bersama

Di dalam ruangan itu berjajar berbagai sepatu bekas impor dari merek ternama seperti Adidas, New Balance, Nike hingga Air Jordan. Sebagian besar merupakan sepatu yang sebelumnya ia kumpulkan secara pribadi selama bertahun-tahun.

Dwi mengaku mulai serius mengoleksi sepatu sejak 2024. Awalnya, ia hanya membeli karena menyukai desain dan kualitas sepatu impor.

"Awalnya memang suka sepatu. Lama-lama mengumpulkan sampai lebih dari seribu pasang," ucap Dwi saat ditemui di tokonya, Kamis (18/6/2026). 

Selama bekerja sebagai satpam di Pegadaian selama kurang lebih 30 tahun, Dwi menjadikan kegiatan berburu sepatu sebagai hobi. Ia membeli berbagai model dan merek yang menurutnya menarik untuk dikoleksi.

Namun seiring berjalannya waktu, koleksi tersebut semakin banyak hingga memenuhi sebagian besar ruangan rumahnya. Beberapa teman yang datang berkunjung kemudian mulai menawar dan membeli koleksi miliknya.

Dari situlah muncul ide untuk menjual sebagian koleksi yang dimiliki. Respons positif dari pembeli membuat Dwi semakin serius menekuni usaha tersebut.

"Teman-teman banyak yang menawar. Saya kasih satu, dua pasang. Lama-lama ramai dan akhirnya saya keluarkan semua koleksi yang bisa dijual," katanya sambil menyebut toko yang dibukanya baru sekitar 1 bulan ini. 

Menurut Dwi, menjual koleksi sepatu menjadi pilihan yang lebih bermanfaat dibandingkan hanya disimpan di rumah tanpa digunakan. Selain membantu orang lain mendapatkan sepatu berkualitas dengan harga terjangkau, ia juga memperoleh penghasilan tambahan di masa pensiun.

Harga sepatu yang dijual pun relatif ramah di kantong. Pembeli cukup merogoh kocek mulai Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu untuk mendapatkan sepatu bekas impor berbagai merek.

Meski baru berjalan sekitar satu bulan, usaha tersebut mulai menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Dalam sehari, Dwi mengaku mampu menjual antara 10 hingga 50 pasang sepatu.

"Kalau ramai bisa sampai 50 pasang sehari. Alhamdulillah masih terus berjalan," ungkapnya.

Pembeli yang datang tidak hanya berasal dari Pare dan sekitarnya. Sejumlah pelanggan diketahui datang dari Kabupaten Jombang, Nganjuk hingga wilayah lain di sekitar Kediri setelah mengetahui keberadaan toko tersebut dari media sosial.

Salah satunya Rivan, pembeli asal Kabupaten Jombang. Ia mengaku mengetahui toko tersebut secara tidak sengaja saat melihat unggahan di TikTok.

"Saya lihat di beranda TikTok, kok menarik. Akhirnya pas ada waktu langsung ke sini," ujar Rivan.

Setelah berkeliling melihat ratusan koleksi yang tersedia, Rivan mengaku sempat kebingungan menentukan pilihan karena banyak sepatu yang masih terlihat bagus dan layak pakai.

"Bagus semua. Lihat yang ini bagus, yang itu juga bagus. Akhirnya bingung memilihnya," katanya sambil tertawa.

Baca juga: BPN Kabupaten Kediri Serahkan 23 Sertifikat Elektronik Aset KAI Berupa Tanah Senilai Rp 52,2 Miliar

Dalam kunjungan tersebut, Rivan akhirnya membawa pulang dua pasang sepatu untuk digunakan sehari-hari. Menurutnya, harga yang ditawarkan masih sangat terjangkau dibanding kualitas barang yang didapatkan.

Ke depan, Dwi berharap bisa mengembangkan usahanya dengan memiliki tempat yang lebih representatif. Ia ingin menata koleksi sepatu secara lebih rapi agar pengunjung semakin nyaman saat berbelanja.

Meski demikian, satu hal yang tidak ingin ia ubah adalah komitmennya menyediakan sepatu berkualitas dengan harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat.

Bagi Dwi, usaha ini bukan semata-mata soal mencari keuntungan. Aktivitas tersebut juga menjadi cara untuk tetap produktif setelah pensiun sekaligus membuktikan bahwa hobi yang ditekuni dengan serius dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

"Daripada menganggur, lebih baik tetap punya aktivitas. Yang penting semangat berusaha dan terus bergerak," pungkasnya.

(Isya Anshori/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.