TRIBUNJAMBI.COM – Proses perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan memasuki babak baru setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian disebut telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Rabu (17/6/2026).
Jika benar terealisasi, kesepakatan tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya mengakhiri ketegangan yang selama ini mewarnai hubungan kedua negara.
Penandatanganan dilakukan secara terpisah. Trump menandatangani dokumen saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles, Prancis.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani salinan dokumen di Teheran pada hari yang sama.
Sebelumnya, dokumen tersebut lebih dulu ditandatangani secara elektronik oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf selaku kepala tim negosiasi.
Baca juga: Tampang Terbaru Sony Sonjaya Jadi Sorotan, Brewok Mulai Tumbuh Saat Jalani Pemeriksaan
Iran Sebut Kesepakatan sebagai Kemenangan Diplomatik
Dalam keterangannya kepada televisi pemerintah Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menyebut kesepakatan itu sebagai bukti keberhasilan Iran menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel.
"Iran memenangkan perang melawan Amerika Serikat dan Israel," ujarnya.
Menurut Qalibaf, nota kesepahaman tersebut menunjukkan bahwa berbagai target yang sebelumnya diklaim ingin dicapai Washington tidak berhasil diwujudkan.
Ia juga menyebut dokumen itu akan menjadi catatan sejarah yang nantinya dinilai oleh masyarakat internasional.
Trump: Jika Iran Melanggar, Serangan Bisa Dilanjutkan
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras bahwa kesepakatan tersebut bukan berarti ancaman militer sepenuhnya berakhir.
Dalam pernyataannya saat menghadiri KTT G7, Trump mengatakan Amerika Serikat siap mengambil tindakan apabila Iran melanggar isi kesepakatan.
"Ini hanya nota kesepahaman. Jika mereka tidak mematuhinya, kami akan kembali melakukan serangan," ujar Trump.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa implementasi MoU masih bergantung pada kepatuhan kedua belah pihak terhadap seluruh poin yang telah disepakati.
Isi Pokok Nota Kesepahaman
Berdasarkan informasi yang beredar, MoU tersebut memuat 14 poin utama yang menjadi dasar negosiasi menuju perjanjian damai permanen.
Beberapa poin penting di antaranya:
Penghentian seluruh operasi militer secara permanen.
Komitmen untuk tidak saling menyerang maupun mengancam.
Perundingan lanjutan selama 60 hari menuju perjanjian damai final.
Pembukaan kembali jalur pelayaran di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Rencana pencabutan bertahap blokade laut terhadap Iran.
Dukungan pembentukan dana rekonstruksi ekonomi Iran.
Pelonggaran sejumlah sanksi ekonomi.
Komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Pengawasan program nuklir oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Pembentukan mekanisme verifikasi bersama atas pelaksanaan perjanjian.
Selain itu, kesepakatan juga membuka peluang pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan apabila seluruh proses negosiasi berhasil mencapai tahap akhir.
Selat Hormuz Jadi Salah Satu Fokus Kesepakatan
Salah satu poin strategis dalam MoU adalah normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Iran disebut akan menjamin keamanan jalur perdagangan internasional, sementara Amerika Serikat berkomitmen mengurangi tekanan militer di kawasan tersebut secara bertahap.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia sehingga setiap perubahan situasi keamanan di kawasan tersebut dapat memengaruhi harga energi global.
Negosiasi Belum Berakhir
Meski nota kesepahaman telah ditandatangani, proses menuju perjanjian damai permanen masih akan berlanjut.
Kedua negara dijadwalkan melaksanakan pembahasan lanjutan untuk merumuskan mekanisme implementasi, pengawasan, hingga penyelesaian isu nuklir secara menyeluruh.
Sejumlah pengamat menilai keberhasilan tahap berikutnya akan sangat menentukan apakah kesepakatan tersebut benar-benar mampu mengakhiri ketegangan panjang antara Amerika Serikat dan Iran atau hanya menjadi langkah awal dalam proses diplomasi yang masih panjang.