Ternyata Begini Latar Belakang Kak Seto Menciptakan Si Komo: Kecewa pada 'Si Kancil'
Moh. Habib Asyhad June 18, 2026 04:34 PM

Seto Mulyadi alias Kak Seto menciptakan karakter Si Komo karena kecewa terhadap 'Si Kancil'. Hewan nasional kok dilecehkan.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Macet lagi, jalanan macet/Gara-gara Si Komo lewat/Pak polisi jadi bingung/Orang-orang ikut bingung// Macet lagi, macet lagi/Gara-gara Si Komo lewat/Jalan Thamrin Jalan Sudirman/Katanya berkeliling kota...

Masih ingat dengan lagu yang dinyanyikan Melisa itu? Benar, judulnya Si Komo Lewat. Lagu itu diciptakan Seto Mulyadi alias Kak Seto. Tak hanya menciptakan lagunya, Kak Seto juga menciptakan karakternya yang ikonik: Si Komo.

Pada masanya, karakter boneka Si Komo begitu melekat pada psikolog anak yang biasa disapa Kak Seto itu. Dalam penuturannya, karakter tersebut berasal dari hewan komodo.

Semua bermula ketika Kak Seto sedih dengan lirik lagu “Si Kancil”. “Dulu populer lagu 'Si Kancil'. Kancil itu kan maskot khas Indonesia juga. Tapi sayang kok dibilang, 'Si Kancil anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun'," tutur Kak Seto, dikutip dari kanal YouTube Trans TV Official, Kamis, 18 November 2021.

Dengan begitu, Kak Seto pun mencari hewan khas Indonesia yang tidak ada di negara lain untuk dijadikan inspirasi. Awalnya Kak Seto berpikir burung cendrawasih tapi dia lekas tersadar bahwa burung khas itu juga ada di Papua Nugini.

“Satu-satunya yang tidak ada di negara mana punya komodo. Kalau dibilang Si Komodo, terlalu panjang. Jadi antara Si Komo atau Si Modo. Akhirnya cocok Si Komo,” cerita Kak Seto.

Dari situ, terciptalah karakter Si Komo—begitu juga dengan boneka dan lagu yang dinyanyikan Melisa sebagaimana disebut di atas.

Menurut Kak Seto kepada Kompas.com, meski beken di era 1990-an, ide tentang Si Komo sudah ada jauh sebelumnya. “Kalau dalam catatan saya, lahirnya ide Komo itu tepatnya tanggal 1 Agustus 1975. Sudah lama, sudah 46 tahunan,” ujar Kak Seto pada 2022 lalu.

Ide Si Komo muncul ketika Kak Seto menjadi asisten Pak Kasur. “Saya membantu anak-anak menyanyikan lagu, nah di situ ada lagu ‘Si Kancil’,” cerita Kak Seto yang kemudian sedih dengan lirik yang ada dalam lagu tersebut.

“Si Kancil itu kan binatang maskot, hewan Indonesia, harusnya dibanggakan sebagai tokoh yang kreatif, yang cerdik, yang penuh ide kreatif, ini kok dibilang nakal, suka mencuri, dan sebagainya,” lanjutnya.

Si purba dari Flores

Membahas Si Komo rasanya kurang lengkap tanpa membahas hewannya: komodo.

Benarkah komodo termasuk binatang purba? Iya, betul! Soalnya komodo ini sudah ada sejak 10 juta tahun yang lalu, dan sampai sekarang masih ada.

Lalu, kenapa masih bisa hidup sampai sekarang? Ih, kok nanyanya serius sih kamu? Sebenarnya ada tiga sebab yang membuat komodo belum punah.

Pertama, lingkungan tempat tinggal komodo masih terjaga baik. Kedua, komodo tidak punya musuh hingga mereka tidak punah secara alami. Dan yang ketiga, pulau tempat asal mereka letaknya terpencil, jadi terhindar dari gangguan manusia.

Meski begitu, ada saja manusia tamak yang mengganggu kehidupan mereka.

Komodo yang masih bersaudara dengan kadal ini panjangnya 3 meter dan beratnya 100 kg. Panjang ekornya sama dengan panjang tubuhnya. Ekor ini sangat ampuh untuk melumpuhkan mangsanya.

Kulitnya bersisik, warnanya coklat kuning kehitaman. Gigi komodo berbentuk gergaji. Dengan gigi model begini, ia bisa menghancurkan tulang mangsanya.

Oh iya, air ludah komodo itu beracun lho! Bila mangsanya terkena gigitannya, waaah ... tak ampun lagi deh! Beberapa saat kemudian dia pasti mati.

Di kampung halamannya komodo disebut si Mbou dan si Ora. Ada juga yang menyebutnya buaya darat.

Kampung halaman si Mbou ini di pulau-pulau kecil yang kalau kita lihat di peta seperti bulatan-bulatan kecil. Namanya, Pulau Komodo, Pulau Perca, Pulau Padar, dan Pulau Rinca.

Terus ada juga yang berkampung di bagian barat Flores, Nusa Tenggara Timur. Tempat asal mereka ini panas, gersang, berbatu-batu, dan bersemak belukar.

Para komodo ini mencari makan di waktu pagi. Biasanya mereka menunggu mangsa di balik sesemakan. Kalau ada mangsa lewat, sret ... ia langsung menggigitnya atau menyabetnya dengan ekornya.

Babi hutan, rusa, kerbau, dan kuda liar sering menjadi korban sabetan mereka. Meskipun penglihatan komodo sangat buruk, tetapi penciumannya amat tajam. Apalagi kalau dia mencium bau darah, wuih... segera saja dia mendatangi sumbernya.

Tapi, sering juga dia tak mendapat mangsa sama sekali. Padahal dia sudah menunggu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Kalau sudah begitu, keluar deh sifat kanibalnya. He eh, ia itu suka memakan sesamanya, terutama telur dan anak-anak komodo. Selain itu, komodo yang sudah jompo atau sakit-sakitan juga dimakannya.

Kalau tidak, komodo-komodo itu akan pergi ke pantai. Mencari kerang atau binatang laut. Jadi, tak usah heran kalau si kadal gede ini pandai berenang. Eh iya, larinya juga lumayan cepat lo!

Kalau komodo betina mau bertelur, ia akan menggali lubang lebih dulu di pasir. Lalu telurnya yang berjumlah 20 butir itu dikubur ke dalamnya. Lo, tidak dierami? Tidak! Telur-telur komodo memang dierami secara alami … oleh pasir.

8,5 bulan kemudian telur-telur itu menetas. Begitu menetas, mereka langsung memanjat pohon untuk menghindar dari kejaran komodo besar. Karena masih kecil, anak komodo ini memakan binatang yang imut-imut pula. Seperti cicak, tokek, telur, burung, dan belalang. Kalau dia sudah berumur 1 tahun dan tubuhnya sudah sebesar Bu Komodo atau Pak Komodo, baru deh dia tidak memanjat pohon lagi. Dia akan menjadi binatang darat yang buas. Kalau tidak tertangkap manusia, sakit-sakitan atau dimakan komodo lain, komodo bisa hidup sampai umur 70 tahun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.