TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Beredar di media sosial adanya kasus dugaan perundungan oleh para pengajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Bantul. Kejadian itu diunggah melalui Threads akun @dinisandra__ dan pihak sekolah kini angkat bicara menanggapi kabar yang beredar tersebut.
"Terkait kasus adek kita alumni tahun 2025 SMA 2 Bantul yang terkena perundungan oleh pihak para pengajarnya. Aku minta untuk korban lainnya speak up juga. Karena sudah ada dua korban yang hubungi aku tentang buruknya para pengajar di sana," tulis akun tersebut, dikutip Tribunjogja.com, Kamis (18/6/2026).
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA Negeri 2 Bantul, Suwondo, buka suara. Secara spesifik, pihaknya belum mempunyai hal khusus untuk menanggapi hal tersebut. Apalagi, para penulis di media sosial Threads itu menggunakan akun tidak dikenal.
"Dan kita juga belum tahu apakah itu benar-benar dari alumni atau bukan. Kan belum tahu. Jadi, sampai sekarang, kami masih mencoba mendalami sumbernya dari siapa," katanya, saat ditemui Tribunjogja.com di SMA Negeri 2 Bantul.
Apabila mereka atau alumni SMA Negeri 2 menjadi korban perundungan setidaknya dapat memberikan informasi lebih jelas dan hadir ke sekolah. Nantinya, pihak sekolah akan terbuka melakukan koordinasi dan menindaklanjuti aduan tersebut.
Sampai saat ini, kata Suwondo, tidak ada alumni SMA Negeri 2 Bantul yang melapor menjadi korban perundungan pengajar di SMA Negeri 2 Bantul. Pihaknya pun hanya mendapatkan kabar adanya dugaan perundungan tersebut dari Threads.
"Jadi, kami mengundang kalau seandainya memang ada alumni yang hadir (menyampaikan kasus dugaan perundungan pengajar). Kami siap hadir untuk itu (menindaklanjuti). Kami siap memberikan mediasi," ujar dia.
"Di sisi lain, pihaknya juga tidak mendapati laporan dari siswa aktif SMA Negeri 2 Bantul yang merasa menjadi korban perundungan.
Lebih lanjut, Suwondo mengimbau kepada bapak/ibu guru SMA Negeri 2 Bantul untuk tidak gegabah dalam menanggapi kabar yang beredar di media sosial tersebut.
Para guru SMA Negeri 2 Bantul diimbau untuk tetap berkepala dingin dalam bersikap dan tidak mudah percaya kepada sesuatu yang belum diketahui kebenarannya.
"Saya pikir, kita tidak perlu meng-counter di media sosial itu karena memang dari akunnya saja sudah tidak bertanggung jawab. Kecuali, kalau hadir di SMA Negeri 2 Bantul pasti akan kami tanggapi dan ditindaklanjuti sesuai prosedur," paparnya.
Sementara itu, Waka Humas SMA Negeri 2 Bantul, Husna Nisrina, menyampaikan, bahwa sampai saat ini pihaknya masih tabayun atau mencari kejelasan.
"Karena dari yang viral di Threads itu kan juga sepertinya bukan nama asli. Jadi, kami masih proses mendalami. Takutnya (nanti melanggar asas) praduga tak bersalah, istilahnya seperti itu," paparnya.
Kendati demikian, pihaknya terus melakukan pendalaman dan penelusuran terhadap kabar yang viral tersebut. Hasil dari pendalaman itu akan menjadi penentu langkah dalam proses selanjutnya.(nei)