Perairan Tana Tidung Tertekan Aktivitas Ilegal, Rantai Makanan Biota Sungai Sesayap Terancam
Junisah June 18, 2026 07:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Aktivitas penangkapan ikan menggunakan alat setrum dan racun masih menjadi ancaman serius bagi kelestarian perairan Sungai Sesayap di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara

Selain merusak Ekosistem, praktik tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap hasil tangkapan dan kesejahteraan nelayan dalam jangka panjang.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Tana Tidung Herni menyampaikan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dapat merusak rantai makanan yang menjadi penopang kehidupan biota perairan.

“Kalau kita menggunakan setrum dan racun otomatis kan ekosistemnya rusak. Kemudian sumber hayati kita yang kecil-kecil itu, misalnya mikroorganisme seperti bentos yang menjadi sumber makanan ikan kecil, pasti akan terganggu,” ujar Herni kepada TribunKaltara.com, Kamis (18/6/2026).

Baca juga: Tangkap Ikan Pakai Setrum dan Racun Masih Ditemukan, Ekosistem Sungai Sesayap Tana Tidung Terancam

Menurutnya, keberadaan mikroorganisme di dasar perairan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan Ekosistem. 

Organisme tersebut tidak hanya menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan kecil, tetapi juga berfungsi mengurai bahan organik di lingkungan perairan.

“Tanah juga bisa rusak, padahal tempat makanan kecil-kecil itu kan tersistem. Bentos dimakan ikan kecil, kemudian ikan kecil dimakan ikan sedang, lalu ikan sedang dimakan ikan yang lebih besar. Jadi ada rantai makanan di situ,” jelasnya.

Herni menuturkan, kerusakan pada satu bagian rantai makanan akan berdampak pada keseluruhan Ekosistem. 

Akibatnya, populasi ikan dapat menurun karena berkurangnya sumber makanan alami yang tersedia di perairan.

“Kalau sudah tidak ada ketersediaan sumber daya hayati atau sumber alam di situ lagi, otomatis ikan-ikan akan bermigrasi untuk mencari perairan yang aman dan masih memiliki potensi sumber daya alam yang baik,” katanya.

Baca juga: Adanya Aktivitas Penangkapan Ikan Pakai Setrum dan Racun, Pendapatan Nelayan Tana Tidung Turun 

Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan tangkap.

Menurutnya, ketika populasi ikan berkurang di wilayah tangkapan nelayan, maka nelayan harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan hasil yang sama seperti sebelumnya.

“Kalau ekosistem rusak, kepunahan pasti akan terjadi dan ikan-ikan akan bermigrasi ke tempat lain yang ketersediaan makanannya masih banyak. Itu pasti akan mempengaruhi trip nelayan kita,” ujarnya.

Herni mencontohkan, nelayan yang sebelumnya cukup mencari ikan di perairan sekitar Tana Tidung bisa saja harus menuju wilayah yang lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan.

“Misalnya di sini sudah tidak ada potensi atau menurun, mereka harus ke daerah Bebatu atau Sengkong. Itu pasti berpengaruh kepada biaya operasional, terutama BBM dan bekal mereka,” ungkapnya.

Menurut Herni, meningkatnya biaya operasional tanpa diimbangi hasil tangkapan yang memadai dapat menurunkan pendapatan nelayan.

LIMBAH ANCAM EKOSISTEM - Kondisi Sungai Sesayap di Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara yang dipenuhi limbah kayu, gambar diambil Sabtu (22/11/2026). Pencemaran limbah jadi ancaman bagi ekosistem di Sungai Sesayap.
LIMBAH ANCAM EKOSISTEM - Kondisi Sungai Sesayap di Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara yang dipenuhi limbah kayu, gambar diambil Sabtu (22/11/2026). Pencemaran limbah jadi ancaman bagi ekosistem di Sungai Sesayap. (TribunKaltara.com/Rismayanti)

“Kalau nilai jual ikan tidak sesuai dengan biaya operasional, kan kasihan nelayannya. Sudah jauh-jauh datang tapi untung-untungan dapat hasil,” katanya.

Ia menilai, kondisi tersebut pada akhirnya dapat berdampak terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir yang menggantungkan sumber penghasilan dari sektor perikanan tangkap.

“Ini yang kadang membuat tingkat kemiskinan di masyarakat, khususnya di sektor tangkap, sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan. Makanya perairan itu sangat penting untuk dijaga,” tegasnya.

Karena itu, Herni mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian sumber daya perairan dan tidak hanya menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada pemerintah.

“Artinya bukan kami saja, tapi semua masyarakat yang ada di sini harus ikut menjaga. Karena dampaknya bukan hanya ke lingkungan, tetapi juga ke produksi perikanan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.