Andhika Surya Gumilar: Pariwisata dan PMI Jadi Pilar Strategis Perkuat Ketahanan Ekonomi Jawa Barat
Siti Fatimah June 18, 2026 08:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, serta tantangan perdagangan internasional yang terus berkembang, upaya memperkuat cadangan devisa dan ketahanan ekonomi nasional menjadi agenda yang semakin penting.

Menyikapi berbagai rekomendasi yang berkembang terkait penguatan devisa negara, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Andhika Surya Gumilar, menilai bahwa sektor pariwisata dan pekerja migran Indonesia (PMI) merupakan dua instrumen strategis yang perlu terus diperkuat untuk meningkatkan pemasukan devisa secara berkelanjutan.

Menurut Andhika, selama ini perhatian publik sering terfokus pada sektor ekspor komoditas dan investasi sebagai sumber devisa utama.

Padahal, sektor jasa seperti pariwisata dan remitansi pekerja migran memiliki kontribusi yang tidak kalah penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama saat terjadi tekanan pada harga komoditas global.

"Penguatan devisa tidak hanya bergantung pada ekspor sumber daya alam. Kita juga perlu memperkuat sektor-sektor yang memiliki daya tahan tinggi dan mampu menghasilkan devisa secara berkelanjutan. Pariwisata dan pekerja migran merupakan dua sektor yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan," ujar Andhika.

Ia menjelaskan bahwa sektor pariwisata memiliki efek berganda yang sangat luas. Kedatangan wisatawan mancanegara tidak hanya menghasilkan devisa dari pengeluaran wisatawan, tetapi juga menggerakkan berbagai sektor ekonomi seperti perhotelan, transportasi, kuliner, ekonomi kreatif, perdagangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bagi Jawa Barat, potensi tersebut dinilai sangat besar. Dengan kekayaan destinasi wisata alam, budaya, sejarah, serta berbagai event berskala nasional dan internasional, Jawa Barat memiliki peluang untuk menjadi salah satu daerah tujuan utama wisatawan mancanegara di Indonesia.

"Jawa Barat memiliki keunggulan yang luar biasa. Mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, hingga ekonomi kreatif. Jika dikelola secara terintegrasi dan didukung promosi yang tepat, sektor pariwisata dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus sumber devisa yang signifikan," katanya.

Selain pariwisata, Andhika juga menyoroti kontribusi pekerja migran Indonesia yang selama ini menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara.

Menurutnya, remitansi yang dikirimkan oleh jutaan pekerja migran Indonesia dari berbagai negara tidak hanya membantu perekonomian nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menggerakkan ekonomi daerah.

Namun demikian, ia menilai bahwa penguatan sektor pekerja migran tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah penempatan tenaga kerja ke luar negeri.

Yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas dan kompetensi tenaga kerja Indonesia agar mampu mengisi pekerjaan dengan nilai tambah dan pendapatan yang lebih tinggi.

"Kita harus bergeser dari sekadar mengirim tenaga kerja menjadi menyiapkan tenaga kerja profesional yang memiliki keterampilan, sertifikasi, dan daya saing global. Semakin tinggi kompetensi pekerja migran kita, semakin besar pula kontribusi devisa yang dapat dihasilkan," ujarnya.

Andhika juga mendorong pemerintah untuk memperluas program pelatihan vokasi, sertifikasi profesi, dan penguasaan bahasa asing bagi calon pekerja migran.

Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi sekaligus meningkatkan kualitas penempatan tenaga kerja di pasar internasional.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa rekomendasi penguatan devisa harus diarahkan pada diversifikasi sumber penerimaan negara agar tidak terlalu bergantung pada satu sektor tertentu.

Ketika harga komoditas mengalami penurunan atau kondisi ekonomi global melemah, sektor pariwisata dan remitansi pekerja migran dapat menjadi penopang stabilitas devisa nasional.

"Ketahanan ekonomi yang kuat dibangun dari sumber devisa yang beragam. Karena itu, pengembangan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pekerja migran harus menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat posisi ekonomi Indonesia di tengah tantangan global," jelasnya.

Sebagai wakil rakyat di Jawa Barat, Andhika berharap pemerintah pusat dan daerah dapat memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan destinasi wisata unggulan, memperbaiki konektivitas dan infrastruktur pendukung, serta meningkatkan kualitas SDM yang siap bersaing di pasar kerja internasional.

"Pariwisata dan pekerja migran bukan hanya soal devisa, tetapi juga tentang penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan penguatan ekonomi daerah. Jika dikelola dengan baik, kedua sektor ini dapat menjadi pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan yang inklusif," pungkasnya.

Dengan kondisi global yang masih penuh tantangan, penguatan devisa melalui sektor pariwisata dan pekerja migran menjadi langkah yang realistis dan berkelanjutan.

Selain memberikan manfaat ekonomi langsung, kedua sektor tersebut juga mampu menciptakan dampak sosial yang luas bagi masyarakat Indonesia, termasuk di Jawa Barat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.