Petani Semangka di Tapsel Berharap MBG Dilanjutkan: Program Ini Sudah Menolong Ekonomi Kami
Azis Husein Hasibuan June 18, 2026 08:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com, TAPSEL - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung Presiden Prabowo Subianto, ternyata tidak hanya untuk membantu kebutuhan gizi anak dan ibu hamil maupun menyusui. Keberadaan MBG ini juga membantu dan mendongkrak perekonomian petani lokal.

Selain membantu perekonomian petani lokal, keberadaan MBG ini juga menciptakan pangsa pasar yang pasti dan jelas. Sehingga petani tidak lagi kesulitan untuk menjualkan hasil panennya.

Hal itu diungkapkan Abdullah Daulay, petani semangka dan melon di Desa Sitampa Simatoras, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

"Saya sebagai petani sangat berterima kasih kepada MBG ini karena sudah menolong ekonomi. Kalau boleh dibilang, meningkatkan UMKM masyarakat sangat bagus," ungkap Abdullah Daulay, Rabu (17/6/2026), disela berbincang dengan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batang Angkola yang datang ke kebunnya untuk melihat hasil panen buah semangka.

Dirinya pun berharap program MBG ini terus berkelanjutan, karena selain membantu petani, juga membantu kebutuhan gizi anak-anak terutama dari kalangan yang kurang mampu.

"Ini sangat penting untuk kesehatan anak-anak, apalagi 4 sehat 5 sempurnanya. Harapan untuk Pak Prabowo, mudah-mudahan MBG ini lanjut karena sangat bagus untuk kami petani lokal. UMKM meningkat. Dan semoga Bapak Prabowo sehat-sehat selalu agar MBG ini bisa terus berkelanjutan seterusnya," tuturnya.

Abdullah Daulay juga mengungkapkan respons dari anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, saat menerima MBG di sekolahnya.

"Anak saya pernah cerita tentang MBG ini. Dia sangat senang karena bermacam ragam buah yang telah disediakan MBG. Anak saya kan jarang makan buah seperti anggur. Tapi setelah ada MBG ini, alhamdulillah sudah bisa dinikmatinya.

Begitu juga dengan lauknya seperti ayam. Bagus lah. Jadi sekali lagi untuk MBG, saya berterima kasih sebesar-besarnya sudah menolong masyarakat dan terutamanya anak-anak sekolah yang perekonomian keluarganya kurang memadai," ucapnya.

Pernyataan Korwil BGN Tapsel

Terpisah, Kordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (Korwil BGN) Kabupaten Tapanuli Selatan, Wan Apriyanti Lubis menyebut, sejak petani menanam semangka pada periode panen kali ini, SPPG sudah membeli hasil panen petani buah semangka sebanyak 1 ton selama 3 kali panen di periode ini.

"Di periode ini sudah ada 3 kali panen ya petani kita, dan kurang lebih sudah 1 ton buah yang kita beli dari petani lokal. Hasil panennya ini petani yang antar, karena kan jarak kebun dengan SPPG ini dekat, hanya beberapa ratus meter," sebutnya.

Menurut Wan Apriyanti, dalam MBG ini ada ekosistem atau saling membutuhkan satu dengan lainnya, dengan tiga pilar utama yaitu masyarakat (penerima manfaat), petani lokal, dan SPPG mendukung satu sama lain. Dan tanpa salah satu pihak, siklus ini tidak akan berjalan optimal.

"Pertama hubungan antara petani dan SPPG. Yang dibutuhkan SPPG dari petani adalah pasokan bahan baku segar seperti beras, sayur, buah, lauk pauk dan lainnya, secara stabil dan berkualitas agar bisa memenuhi standar gizi setiap hari. Lalu yang petani butuhkan dari SPPG adalah kepastian pasar. Selama ini, tantangan terbesar petani adalah harga anjlok saat panen raya. Dapur MBG bertindak sebagai pembeli siaga (offtaker) yang menyerap hasil panen mereka secara konsisten dan dengan harga yang stabil," terang Wan Apriyanti.

Lalu, katanya, hubungan antara SPPG dengan masyarakat (penerima manfaat). Yang masyarakat butuhkan dari SPPG adalah anak-anak sekolah, ibu hamil, atau kelompok masyarakat penerima manfaat membutuhkan makanan bergizi siap santap yang higienis, enak, dan diantar tepat waktu untuk memperbaiki pemenuhan gizi mereka.

Sedangkan yang SPPG butuhkan dari masyarakat yakni kepercayaan dan umpan balik dari masyarakat, agar usaha mereka terus berjalan. Dari sisi ekonomi, program ini juga membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar SPPG, untuk menjadi relawan di SPPG/dapur tersebut.

"Kemudian hubungan antara masyarakat dengan petani. Masyarakat membutuhkan jaminan bahwa makanan yang masuk ke tubuh anak-anak mereka berasal dari tanah yang sehat, minim pestisida, dan dipanen dari lingkungan terdekat (lebih segar karena jalur distribusi pendek). Yang petani butuhkan dari masyarakat, generasi muda yang sehat dan cerdas di desa/daerah tersebut. Anak-anak petani yang menerima makanan bergizi ini akan tumbuh menjadi generasi yang lebih produktif, yang kelak bisa memajukan daerah atau bahkan mengembangkan teknologi pertanian. Begitu lah siklusnya setiap hari, jadi tanpa salah satunya maka siklus ini tidak akan optimal," pungkasnya.

(ase/ Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.