TPA Darurat Meluber ke Tanggul Laut Buku Limau, Pemdes Harapkan Solusi di Tengah Efisiensi Anggaran
Ardhina Trisila Sakti June 18, 2026 09:35 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Bau menyengat tercium begitu langkah kaki mendekati kawasan Dermaga Timur, Dusun Utara, Desa Buku Limau, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur.

Di sepanjang pesisir pantai pulau berpenduduk 574 jiwa tersebut, pemandangan yang seharusnya eksotis kini harus berdampingan dengan sebaran sampah. 

Hembusan angin laut yang kencang membuat bungkusan-bungkusan meluber, bahkan beberapa ada yang terlanjur melompati tanggul laut. 

Bagi warga desa, area terbuka tersebut adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) darurat.

Ketidakadaan fasilitas TPA resmi yang memenuhi standar membuat warga tidak memiliki pilihan lain selain membuang sisa konsumsi harian mereka ke lokasi tersebut secara terus-menerus sejak beberapa tahun silam. 

Lama-kelamaan, volume buangan mulai meninggalkan jejak yang nyata. Secara perhitungan kasar, hamparan sampah tersebut kini telah memanjang hingga 200 meter terhitung dari bibir dermaga, serta estimasi lebar mencapai 3 meter.

Sekretaris Desa Buku Limau, Muhammad Agung membenarkan bahwa penumpukan terjadi karena keterbatasan fasilitas pengelolaan yang dihadapi oleh pihak pemerintah desa dan warga. 

Agung menjelaskan bahwa masyarakat pulau hanya memanfaatkan lahan terbuka yang tersedia dan tentunya jauh dari pemukiman.

"Kondisinya memang sudah menumpuk di area Dermaga Timur itu, bahkan ada yang melampaui tanggul laut. Kami di desa terus berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk menangani hal ini," ujar Agung, Kamis (18/6/2026).

Pihak desa pun mengaku terus berusaha mencari solusi terkait hal ini. Selain opsi pengadaan kapal pengangkut sampah ke Manggar yang pernah diusulkan, muncul wacana pengadaan fasilitas pembakaran sampah. 

Menurut Agung, pembakaran sampah secara konvensional dinilai bisa menjadi alternatif jalan keluar untuk menekan penumpukan sampah di pulau yang hanya seluas 54 hektar tersebut. 

Terlebih, Pemkab Beltim sebelumnya telah menyalurkan bantuan berupa wadah tempat sampah yang terbuat dari drum besi.

Keberadaan drum-drum besi pemberian pemda tersebut dimanfaatkan oleh pihak desa dan warga setempat sebagai upaya pemusnahan sampah sementara dengan cara langsung dibakar di tempat.

"Kemarin dari pemda dapat bantuan tempat sampah drum besi. Jadi sementara pakai itu dulu untuk melakukan pembakaran sampah guna mengurangi volume sampah yang ada di pemukiman," jelas Agung.

Meski cukup efektif, Agung tak menampik akan munculnya efek samping berupa polusi udara akibat kepulan asap.

Agung melanjutkan, tidak semua jenis sampah rumah tangga bisa habis dilalap api. Sampah tertentu tetap harus dibuang ke TPA yang ujung-ujungnya membuat tumpukan bertambah. 

"Kalau dari pembakaran itu yang pasti menimbulkan polusi asap, meskipun dampak lainnya selama ini belum ada. Cuma masalahnya tidak semua sampah dapat dibakar, sebagian ujung-ujungnya tetap harus dibawa ke TPA," katanya. 

Fasilitas Ada, Anggaran Tak Ada

Aspirasi dari pihak desa terkait permasalahan sampah ini sebetulnya sudah bergulir sejak lama. Pulau Buku Limau pun pernah mendapatkan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). 

"Iya ada dulu tahun 2022 kita dapat incinerator pembakar, mesin press, sama motor roda tiga," jelas Agung. 

Namun, bantuan-bantuan tersebut kini terpaksa menganggur. Pihak desa belum bisa mengoperasikannya kembali secara optimal karena keterbatasan alokasi anggaran operasional tingkat desa.

Anggaran desa yang terbatas membuat pemdes kesulitan untuk mencukupi kebutuhan biaya bahan bakar minyak (BBM) alat, serta alokasi upah rutin bagi petugas khusus yang mengelola alat. 

"Karena kami ini kan gaada petugas khusus, jadi petugasnya itu sekalian kerja juga dia ke laut (nelayan). Tambah lagi tahun ini juga ada efisiensi anggaran kan di desa sehingga sulit untuk mengalokasikan ke sini," ungkapnya.

Oleh sebab itu, Pemerintah Desa Buku Limau hingga saat ini masih mengharapkan bantuan dari Pemkab Beltim, khusunya permintaan terkait pengangkutan sampah ke luar pulau.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.