Digelar Satu Dekade Sekali, Wali Kota Yogya Imbau Warga Berikan Data Jujur di Sensus Ekonomi 2026
Hari Susmayanti June 19, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta menyukseskan gelaran Sensus Ekonomi (SE) 2026. 

Warga Kota Pelajar pun diharapkan dapat memberikan data yang akurat, lengkap, dan jujur kepada para petugas yang mendatangi kediaman mereka.

​Ajakan tersebut dilontarkan langsung oleh Wali Kota Hasto Wardoyo, di sela peluncuran serentak Sensus Ekonomi 2026 yang dipusatkan di Teras Malioboro, Kota Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).

​Ia menegaskan, Sensus Ekonomi merupakan agenda nasional strategis yang menjadi kompas utama dalam penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi di Indonesia. 

Mengingat hajatan besar tersebut hanya bergulir satu kali dalam kurun waktu 10 tahun, dirinya mewanti-wanti masyarakat agar tidak menyia-nyiakan momentum penting ini.

​"Sensus Ekonomi ini sangat penting karena hanya dilakukan setiap 10 tahun sekali. Kalau sampai ada yang tidak terdata, maka kesempatan berikutnya harus menunggu satu dekade lagi. Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat untuk memberikan informasi yang benar dan lengkap kepada petugas," ujarnya.

​Lebih lanjut, Wali Kota memaparkan bahwa seluruh data yang dihimpun dalam SE 2026 merupakan data mikro yang dihimpun dan dicatat berbasis by name by address.

​Menurutnya, potret data yang paripurna bakal mempermudah langkah pemerintah dalam memetakan konstelasi ekonomi secara presisi, mulai dari korporasi skala kakap hingga geliat usaha mikro di ranah rumah tangga.

Oleh sebab itu, ia berharap masyarakat dapat menyambut hangat kehadiran para petugas sensus, serta membeberkan informasi yang sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Baca juga: Misteri Sepatu di Pinggir Luweng Macanmati Ungkap Tragedi Memilukan, Rujito Tewas Terjatuh ke Gua

Pasalnya, tingkat akurasi data yang disodorkan berkaitan langsung dengan ketepatan formulasi kebijakan pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi maupun kesejahteraan warga ke depan.

​"Kalau sampai ada yang tidak terekam dengan baik, tentu sangat disayangkan, karena data menjadi tidak lengkap dan kurang valid. Padahal data ini nantinya menjadi dasar dalam perencanaan pembangunan dan penyusunan berbagai kebijakan ekonomi," jelasnya.

​Sementara, Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, menuturkan, pihaknya bakal menerjunkan 4.082 petugas lapangan untuk pelaksanaan SE 2026 di wilayah DIY.

​Ribuan petugas yang dikerahkan tersebut mengemban misi untuk mendata sekitar 606.000 pelaku usaha yang tersebar di lima kabupaten/kota di DIY. 

Adapun proses pendataan sendiri dijadwalkan berlangsung maraton sepanjang 15 Juni - 31 Agustus 2026 dengan metode langsung dari rumah ke rumah.

​"Pendataan dilakukan secara menyeluruh agar semua aktivitas ekonomi dapat terpotret dengan baik. Tidak hanya usaha formal, tetapi juga berbagai aktivitas ekonomi yang berlangsung di lingkungan rumah tangga," katanya.
​Menariknya, pelaksanaan Sensus Ekonomi edisi kali ini turut mengadopsi kecanggihan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan guna mendongkrak mutu data. 

Pemanfaatan kecerdasan buatan diproyeksikan mampu mengendus anomali atau diskrepansi data secara kilat, sehingga potensi galat dapat diredam sejak fase awal pendataan.

​"Jadi, untuk meminimalkan kesalahan pada data yang dikumpulkan. Sistem akan membantu mendeteksi anomali sehingga kualitas data menjadi lebih baik dan lebih akurat," ungkapnya.

​Sonny pun menyampaikan, metodologi SE 2026 memang menyasar seluruh urat nadi aktivitas ekonomi, sehingga unit usaha di level rumah tangga tak akan luput dari pencatatan.

​Metode sweeping dinilai krusial karena jamak ditemukan aktivitas ekonomi yang bergulir tanpa identitas usaha yang kentara, tapi menyuntikkan kontribusi nyata bagi produk domestik regional bruto daerah.

Terlebih, berdasarkan rapor 2025, DIY sukses membukukan laju pertumbuhan ekonomi di angka 5,49 persen, sekaligus menobatkan diri sebagai yang tertinggi di seantero Pulau Jawa.

​Dinamika ekonomi yang kokoh dan variatif inilah yang mendasari urgensi diperlukannya data yang lebih detail guna membedah struktur ekonomi yang tengah berkembang di tengah masyarakat Kota Pelajar.

​"Banyak usaha yang belum terdata sebelumnya, karena tidak memiliki label atau promosi. Namun aktivitas ekonominya tetap berjalan dan berkontribusi terhadap perekonomian. Karena itu dalam sensus kali ini kami tidak hanya mencatat usaha, tetapi seluruh aktivitas ekonomi yang ada dalam keluarga," urainya. (aka)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.