Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Kecelakaan kapal nelayan KM Arof terjadi di perairan Kuala Penet, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, setelah kapal tersebut dilaporkan karam akibat cuaca buruk saat perjalanan pulang.
Baca juga: Polisi Gerak Cepat Tangani Laka Tunggal Truk Pengangkut Ternak di Banjit Way Kanan
Enam nelayan asal Cirebon yang berada di kapal itu berusaha menyelamatkan diri dengan menggunakan pelampung dan papan kapal yang tersisa untuk tetap mengapung di laut.
Pembina sekaligus pengepul hasil laut Kampung Margasari, Rido Hafid, mengatakan komunikasi dengan awak kapal masih berlangsung sebelum kejadian.
Kapten kapal sempat menghubunginya untuk keperluan keluarga, sementara kondisi cuaca saat itu masih dilaporkan normal.
“Kapten sempat menghubungi saya untuk minta bantuan kebutuhan keluarga. Setelah itu masih sempat komunikasi dengan keluarganya, dan kondisi cuaca saat itu masih baik,” kata Rido, Jumat (19/6/2026).
Namun, dalam perjalanan kembali dengan muatan rajungan, cuaca berubah menjadi buruk disertai hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Kondisi tersebut membuat kapal kehilangan keseimbangan hingga terbalik dan tenggelam.
“Cuaca berubah cepat, disertai angin dan ombak tinggi. Kapal kemudian tidak stabil karena membawa muatan penuh,” ujarnya.
Rido menyebut seluruh awak kapal sempat berhasil keluar dari kapal yang tenggelam.
Mereka kemudian berupaya bertahan dengan merakit pelampung dan papan kapal menjadi rakit darurat.
Dalam kondisi terombang-ambing, para awak kapal terpisah menjadi dua kelompok.
Empat orang ditemukan selamat setelah terbawa arus hingga ke sebuah bagan tancap dan dievakuasi oleh nelayan lain yang melintas.
“Saat ini empat orang sudah ditemukan dan mendapatkan penanganan serta pemulihan,” kata Rido.
Sementara itu, dua orang lainnya sempat terpisah, terdiri dari nakhoda dan satu anak buah kapal.
Hingga kini, satu ABK telah ditemukan selamat, sedangkan nakhoda masih dalam proses pencarian.
Mengetahui kapal tidak kembali sesuai jadwal, pihak kampung nelayan kemudian melakukan upaya pencarian pada keesokan harinya.
Rido menyebut insiden ini menambah catatan kecelakaan laut di perairan Lampung Timur pada 2026 yang telah terjadi beberapa kali, dengan berbagai faktor penyebab seperti cuaca dan kondisi teknis kapal.
Ia juga menyoroti pentingnya sistem peringatan dini cuaca bagi nelayan serta dukungan ketersediaan bahan bakar bersubsidi.
“Kami berharap ada sistem peringatan cuaca yang lebih tegas dan cepat, serta dukungan solar bersubsidi agar nelayan tidak terbebani,” ujarnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)