Di balik simbol-simbol kerja keras dan semangat, jersey sepak bola yang dikenakan para pemain di Piala Dunia menyimpan makna budaya dan sejarah yang mendalam. Saat ajang olahraga terbesar di dunia berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, desain-desain seragam ini sering kali mengungkap kisah menarik — bahkan terkadang kontroversial — yang tertanam dalam setiap benangnya.
Melakoni debut di Piala Dunia, Tanjung Verde, negara dengan populasi terkecil dalam turnamen ini, tampil mengejutkan dengan performa tangguh. Tim yang mewakili sekitar 525.000 penduduk di 10 pulau vulkanik di lepas pantai Afrika tersebut menunjukkan rasa persatuan yang luar biasa.
Semangat itu secara harfiah dijahit ke dalam jersey kandang berwarna biru dan jersey tandang berwarna putih mereka, yang menampilkan pola geometris berbentuk segitiga. Desain ini melambangkan jalur penerbangan yang menghubungkan pulau-pulau, mencerminkan gagasan bahwa seluruh bangsa bersatu mendukung para pemainnya. Kebersamaan itu terlihat di lapangan ketika mereka berhasil menahan imbang Spanyol 0-0 dalam pertandingan pembuka meski tidak diunggulkan.
Desain tersebut melambangkan jalur penerbangan yang menghubungkan pulau-pulau (Getty Images)
Jersey tandang Belgia menghadirkan pesan menarik di bagian kerahnya: “Ini bukan jersey.” Detail unik ini merupakan penghormatan langsung terhadap warisan surealisme yang kuat di negara Eropa tersebut, terutama karya inovatif seniman awal abad ke-20, René Magritte.
Magritte dikenal karena mengeksplorasi hubungan kompleks antara pikiran, penglihatan, realitas, dan bahasa. Ia terkenal dengan lukisannya yang menampilkan tulisan “Ceci n’est pas une pipe (Ini bukan pipa)” di bawah gambar pipa, dalam karya ikoniknya “The Treachery of Images”. Jersey berwarna biru muda itu dihiasi pola merah muda cerah dan detail hitam, serta elemen klasik sepak bola seperti garis lapangan dan bola.
Menurut Federasi Sepak Bola Belgia, “Sesuai dengan tema surealisme, desain ini membangkitkan imajinasi dan mengundang percakapan.”
“Sesuai dengan tema surealisme, desain ini membangkitkan imajinasi dan mengundang percakapan” (Getty Images)
Haiti mengalami hambatan tak terduga ketika FIFA menolak desain jersey awal mereka. Seragam orisinal dari negara Karibia tersebut menampilkan adegan pertempuran terakhir dalam Perang Kemerdekaan Haiti tahun 1803 di bagian depan.
Produsen pakaian olahraga asal Kolombia, Saeta, yang membuat jersey itu, menggambarkan desain tersebut sebagai “penghormatan kepada pria dan wanita yang setiap hari berkontribusi bagi masa depan Haiti.” Namun FIFA menolak dalam proses persetujuan karena menilai karya tersebut “terlalu politis”. Akibatnya, Haiti harus mengganti dengan jersey biru baru tanpa adegan pertempuran tersebut.
Desain asli menampilkan adegan pertempuran terakhir dalam Perang Kemerdekaan Haiti tahun 1803 di bagian depan (Saeta)
Argentina, juara bertahan Piala Dunia, memadukan warisan olahraga yang kaya dengan ekspresi artistik yang berani dalam jersey nasional terbarunya. Jersey kandang, yang baru-baru ini dikenakan Lionel Messi saat mencetak hattrick melawan Aljazair pada hari Selasa, menampilkan garis-garis dalam tiga gradasi biru berbeda.
Desain ini merupakan penghormatan langsung terhadap seragam kemenangan Argentina di Piala Dunia tahun 1978, 1986, dan 2022. Sementara itu, jersey tandang berwarna biru tua terinspirasi oleh teknik lukisan tradisional filete porteño yang berasal dari ibu kota Buenos Aires. Gaya ornamen ini dikenal dengan warna-warna cerah berputar dan huruf khas yang kini menghiasi seragam tim nasional.
Desain ini merupakan penghormatan terhadap seragam kemenangan Argentina di Piala Dunia (AP Photo/Ed Zurga)
Jersey tandang Prancis di Piala Dunia kali ini menghadirkan penghormatan yang mencolok terhadap hadiah bersejarah lintas Atlantik: Patung Liberty. Seragam tim nasional ini berwarna hijau khas, menyerupai patina tembaga teroksidasi pada patung ikonik tersebut.
Patung itu dirancang oleh Frédéric-Auguste Bartholdi dan diberikan kepada Amerika Serikat pada tahun 1886 sebagai simbol persahabatan Prancis-Amerika. Untuk memperkuat makna tersebut, jersey juga menampilkan logo berwarna tembaga yang mencerminkan kilau asli monumen itu. Terdapat pula tulisan berbahasa Prancis “Nos différences nous unissent” (Perbedaan kita menyatukan kita), yang menyampaikan pesan persatuan.
Jersey tandang Prancis merupakan penghormatan terhadap hadiah bersejarah lintas Atlantik: Patung Liberty (Getty Images)
Gambar paling mencolok pada jersey kandang (putih) dan tandang (merah) Iran adalah citra cheetah Asia di bagian depan. Bintik-bintik cheetah juga muncul di lengan hingga bahu. Cheetah Asia, kerabat cepat dari cheetah Afrika, merupakan salah satu spesies paling terancam punah di dunia — yang telah lama diupayakan kelestariannya oleh Iran. Pada 1990-an, jumlahnya mencapai sekitar 400, namun kini diperkirakan tersisa kurang dari 70 ekor di Iran.
Gambar paling mencolok pada jersey Iran adalah cheetah Asia di bagian depan (Getty Images)
Jersey Piala Dunia Norwegia menarik perhatian berkat desain yang “tajam” secara harfiah. Huruf dan angka nama pemain menggunakan font khas yang terinspirasi dari tulisan runik, abjad kuno Jermanik yang digunakan di Eropa Utara sebelum munculnya huruf Latin.
Gaya huruf geometris dengan bentuk runcing ini mencerminkan kebanggaan tim Norwegia terhadap sejarah panjang bangsanya. Motif seni Viking yang rumit dalam gaya Urnes juga menghiasi bagian sekitar salib biru besar di jersey tersebut.
Huruf khas untuk nama dan nomor pemain terinspirasi dari tulisan runik (AP Photo/Charles Krupa)
Jika diperhatikan dengan saksama, jersey kuning cerah Kolombia dihiasi pola kupu-kupu. Desain ini merupakan penghormatan terhadap novel klasik karya peraih Nobel asal Kolombia, Gabriel García Márquez, “Seratus Tahun Kesunyian,” yang dikenal melalui gaya realisme magis — perpaduan antara dunia nyata dan elemen fantastis seperti tokoh yang diikuti sekawanan kupu-kupu kuning.
Jika diperhatikan dengan saksama, jersey kuning Kolombia menampilkan pola kupu-kupu (Getty Images)
Jersey kandang Meksiko menghadirkan kembali desain kalender Aztec yang populer pada 1990-an. Menjelang Piala Dunia, tim nasional mengunjungi Museum Antropologi Nasional di Kota Meksiko dan berpose dengan seragam mereka di depan “Piedra de Sol” atau Batu Matahari, yang dikenal sebagai kalender Aztec.
Jersey kandang Meksiko menghadirkan kembali desain kalender Aztec (AP Photo/Natacha Pisarenko)
Jersey kandang Arab Saudi berwarna hijau tua dihiasi pola simetris berbentuk persegi atau berlian berwarna lavender, terinspirasi dari dekorasi pintu rumah khas kerajaan yang berbentuk geometris dan segitiga. Bunga lavender liar yang bermekaran di gurun Arab Saudi pada musim semi menjadikan warna ungu sangat dihormati di negara tersebut, melambangkan kemurahan hati.
Ungu merupakan warna yang sangat dihormati di Arab Saudi (Getty Images)
Yang langsung menarik perhatian dari jersey tandang Brasil berwarna biru tua dan hitam buatan Nike adalah logo kuning “Jumpman” yang identik dengan lini pakaian olahraga Michael Jordan. Namun, warna seragam ini sebenarnya terinspirasi dari kulit katak panah beracun yang ditemukan di hutan Amazon — simbol bahaya yang menggambarkan kekuatan Brasil sebagai juara dunia lima kali.
Terinspirasi dari kulit katak panah beracun di hutan Amazon (Getty Images)