TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Persiapan pelaksanaan Iraw Tengkayu Kota Tarakan 2026 fisik maupun non fisik telah mencapai sekitar 50 persen.
Persiapan ini menjelang pelaksanaan agenda budaya tahunan yang menjadi kebanggaan masyarakat pesisir Kota Tarakan tersebut.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Tarakan sekaligus Wakil Ketua Panitia Iraw Tengkayu 2026, Zainuddin, mengatakan sejumlah tahapan telah mulai dilakukan sejak beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, penataan kawasan Pantai Amal sebagai pusat kegiatan sudah berjalan, termasuk perbaikan sejumlah fasilitas yang diperlukan untuk mendukung rangkaian acara.
"Kegiatan Iraw Tengkayu sudah berjalan 50 persen, kegiatan fisik 50 persen, kegiatan nonfisik juga sudah berjalan. Mulai kemarin sudah penataan lokasi, perbaikan yang perlu-perlu. Kemudian nanti Sabtu minggu depan ada kerja bakti massal, program dari Dinas Lingkungan Hidup di sana," ujarnya.
Zainuddin menjelaskan lokasi utama pelaksanaan tetap berada di kawasan Pantai Amal.
Baca juga: Pesta Budaya Kalimantan Utara, Festival Iraw Tengkayu 2025 Resmi Dimulai di Tarakan
Selain penataan lokasi, berbagai persiapan pendukung juga sudah dimulai sejak jauh hari. Salah satunya latihan tari yang akan mengisi sejumlah rangkaian acara budaya.
"Latihan tari sudah dimulai sebulan yang lalu. Kemudian pendaftaran untuk pawai dan kendaraan hias dan mengarak padau sudah dibuka," ungkapnya.
Ia mengatakan pendaftaran peserta masih berlangsung hingga akhir bulan ini.
Salah satu perubahan yang cukup mencolok tahun ini adalah pelaksanaan Iraw Tengkayu yang dimajukan ke bulan Juli.
Jika sebelumnya agenda tersebut identik dilaksanakan menjelang akhir tahun, kini Pemerintah Kota Tarakan memilih waktu yang berbeda.
Menurut Zainuddin, keputusan tersebut didasari beberapa pertimbangan strategis.
"Pelaksanaan Iraw kita laksanakan pada bulan Juli. Karena pada bulan Juli ini anak-anak libur sekolah. Kemudian untuk memberikan kesempatan juga kepada kabupaten lain untuk bisa menghadiri kegiatan di sini," jelasnya.
Selama ini, kata dia, pelaksanaan berbagai festival budaya di kabupaten dan kota se-Kalimantan Utara sering berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan.
"Karena pada masa lama ini kan selalu bersamaan pada bulan Oktober. Sehingga kunjungan kita ke sana atau mereka ke sini itu bisa terhambat. Karena masing-masing kabupaten kota itu sibuk pada persiapan Iraw mereka," katanya.
Dengan jadwal baru tersebut, Tarakan berharap dapat memperkuat hubungan antardaerah melalui saling kunjung pada agenda budaya masing-masing.
"Mungkin tahun ini kalau nanti ada di Malinau. Karena Malinau tahun ini masuk juga KEN. Mungkin kita bisa ke sana sebagai undangan untuk menghadiri kegiatan tersebut. Karena kita tidak terbebani dengan kesibukan menyelenggarakan Iraw Tengkayu," ujarnya.
Selain itu, pelaksanaan pada pertengahan tahun juga dirangkaikan dengan agenda Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) yang menjadi bagian dari upaya menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
"Itulah beberapa alasan terkait dengan kenapa kita pindah ke bulan pertengahan tahun. Kemudian juga karena dirangkaikan dengan Pekan Kebudayaan Daerah. Dalam rangka juga menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia," tuturnya.
Meski dilaksanakan dengan semangat efisiensi anggaran, Zainuddin memastikan esensi kegiatan budaya tetap dipertahankan.
Ia mengakui sejumlah penyesuaian dilakukan, termasuk tidak mengalokasikan anggaran untuk mendatangkan artis dari luar daerah.
"Karena kondisi sekarang ini sedang semangat efisiensi. Mungkin disesuaikan dengan kondisi yang ada," katanya.
Menurut dia, jika nantinya ada hiburan dari artis, maka kemungkinan berasal dari dukungan pemerintah pusat atau sponsor.
"Kalau artis pun itu dari kementerian. Tapi pemerintah itu ada persyaratannya. Kalau bisa bantuan itu digunakan semaksimal mungkin buat potensi di daerah. Tidak mendatangkan dari luar. Karena itu lebih bermanfaat buat pengembangan di daerah daripada harus mendatangkan dari luar," jelasnya.
Meski demikian, masyarakat tetap dapat menikmati hiburan rakyat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
"Kalau untuk panggung hiburan ada. Setelah tanggal 5 malam seperti biasa, seperti tahun lalu, di kawasan Kampung Bugis," ujarnya.
Terkait jadwal pelaksanaan, Zainuddin menjelaskan rangkaian kegiatan dimulai pada 4 Juli 2026.
"Tanggal 4 kita melakukan mengarak padau. Yang dibarengi dengan lomba kendaraan hias, sepeda hias dan jalan kaki. Seperti tahun lalu," katanya.
Baca juga: Jadwal Festival Iraw Tengkayu di Pantai Amal Lama Tarakan, Libatkan Ratusan Penari
Keesokan harinya, 5 Juli 2026, berbagai pertunjukan budaya akan digelar sejak pagi hingga menjelang prosesi utama.
"Kemudian tanggal 5 ada pentas seni budaya Nusantara. Pagi sampai dengan menjelang acara puncak," ujarnya.
Prosesi Iraw Tengkayu sendiri dijadwalkan berlangsung mulai pukul 14.00 Wita.
"Lanjut rangkaian prosesi penurunan padaw," jelasnya.
Pada malam harinya, masyarakat kembali disuguhi hiburan rakyat.
"Kemudian malamnya kita melaksanakan panggung hiburan rakyat," katanya.
Setelah Iraw Tengkayu selesai, rangkaian kegiatan budaya masih akan berlanjut melalui Pekan Kebudayaan Daerah yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang.
"Pekan Kebudayaan Daerah ini adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh kabupaten kota dalam rangka mempromosikan atau memberdayakan budaya itu termasuk seni budaya dan kuliner dari masing-masing suku bangsa yang ada di Indonesia, khususnya Kota Tarakan," jelas Zainuddin. (*)