Orang Jepang Dikenal Cenetarian, Bisa Berumur Panjang sampai Usia 100
GH News June 19, 2026 04:09 PM
Jakarta -

Jepang konsisten menduduki peringkat teratas secara global dalam hal angka harapan hidup tertinggi. Data terbaru mencatat negara tersebut menjadi rumah bagi 95.119 orang centenarian, sebutan untuk individu yang berhasil hidup mencapai usia 100 tahun atau lebih.

Menariknya, mayoritas dari mereka yang berumur panjang ini didominasi oleh wanita. Sebanyak 88 persen dari total centenarian di Jepang adalah perempuan, dengan rekor usia tertua saat ini menyentuh 116 tahun di kota Ashiya.

Sementara untuk laki-laki, usia tertua berada di angka 110 tahun.

Fenomena medis ini tentu memicu rasa penasaran para peneliti kesehatan di seluruh dunia. Alih-alih mengandalkan obat-obatan mahal atau terapi medis yang rumit, rahasia umur panjang masyarakat Jepang ternyata terletak pada kombinasi rutinitas harian yang sangat sederhana.

Kebiasaan Sederhana Warga Jepang Supaya Panjang Umur

1. Pola Gerak Aktif di Kehidupan Sehari-hari

Aktivitas fisik di Jepang bukan sekadar tren olahraga di pusat kebugaran, melainkan bagian dari gaya hidup normal. Data statistik menunjukkan sekitar 22 persen populasi Jepang terbiasa melakukan aktivitas fisik, minimal dua kali seminggu dengan durasi sekitar 30 menit per sesi.

Dikutip dari , komitmen untuk terus bergerak secara konsisten ini membantu menjaga kesehatan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), mempertahankan mobilitas otot serta sendi seiring bertambahnya usia, dan meningkatkan kebugaran secara keseluruhan.

2. Disiplin Jadwal Makan demi Menjaga Metabolisme

Faktor kunci lain terletak pada pengaturan waktu makan yang sangat stabil. Warga Jepang terbiasa menyantap makanan pada waktu yang sama dan tetap setiap harinya.

Secara klinis, konsistensi waktu makan ini berkontribusi besar untuk mengoptimalkan sistem pencernaan. Mulai dari mencegah perilaku makan berlebihan (overeating), serta menjaga ritme sirkadian atau jam internal tubuh agar berfungsi dengan baik.

Pola stabil ini juga efektif meregulasi metabolisme dan menjaga berat badan ideal.

3. Mengurangi Gula Olahan, Menggantinya dengan Mizuame

Berbeda dengan budaya barat yang suka menyantap kue-kue manis sebagai hidangan penutup, diet tradisional Jepang umumnya mengandung sangat sedikit gula olahan. Pembatasan ini secara langsung menurunkan risiko penyakit metabolik mematikan seperti diabetes tipe 2.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan pemanis tradisional bernama mizuame. Itu merupakan sirup alami yang terbuat dari fermentasi beras dan malt.

Pemanis tradisional ini kaya akan unit glukosa yang lebih bersahabat bagi tubuh, dan penggunaannya pun cenderung lebih hemat.

4. Sarapan Tinggi Protein dan Minum Teh Hijau

Kualitas makanan di Jepang tidak hanya dinilai dari rasa. Menu sarapan khas Jepang umumnya sangat padat gizi, terdiri dari telur, tahu, nasi, ikan, atau daging dalam porsi kecil.

Karakteristik sarapan ini rendah karbohidrat olahan, tetapi kaya akan lemak sehat serta protein. Sehingga mampu menjaga energi tetap stabil dan mencegah lonjakan rasa lapar di siang hari.

Selain makanan, tradisi minum teh hijau atau ocha setiap hari menyumbang asupan antioksidan katekin yang melimpah. Senyawa kuat ini efektif melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat stres oksidatif.

Untuk mengoptimalkan penyerapan gizinya, para ahli menyarankan untuk membagi waktu minum teh sepanjang hari dan menghindari minum teh bersamaan dengan waktu makan bagi orang yang menjalani diet vegan. Sebab, antioksidan di dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi dari tumbuh-tumbuhan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.